Chapyer 25

1.9K 292 8
                                        

[Tingkat Rasa Suka : 80%

Araya terbangun saat mendengar notifikasi dari sistem. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk berangkat ke puncak gunung. Liburan sudah berlalu 3 hari dan kondisi kedua anak sudah membaik. Bisa dibilang Alexi yang telah terguncang cukup hebat akibat penyerangan yang terjadi.

Araya keluar dari kamarnya dan memakai sweater hitam dan celana hitam panjang. Rambutnya di kepang satu dengan ikatan pita merah.

"Kakak." Alexi berjalan dari arah lorong bersama dengan beberapa pelayan.

'Rasanya seperti menonton drama kerajaan,'  batin gadis itu.

Araya mendekat dan melihat wajah anak itu sudah kembali segar seperti biasa. "Ayo pergi makan."

Keduanya berjalan beriringan dan pergi ke lantai bawah tempat dapur berada. Sepasang suami istri Aditya sudah duduk disana, kedua anak itu menyapa mereka dan duduk di kursi yang ada.

Alexi memakan buah dan roti seperti biasanya. Gadis itu melirik ke samping dan menemukan bahwa Alexi makan dengan sangat tenang. Akhir-akhir ini dia sangat pendiam.

"Anak kecil harus banyak makan sayur dan buah," katanya dan menaruh buah di piring anak itu.

"Kakak juga harus makan banyak." Alexi menghela nafas dan juga menaruh beberapa buah di depan gadis itu.

Tuan Aditya berdehem dan melihat ke semua orang di meja. "Hari ini kita akan mendaki ke puncak gunung. Apa tidak ada yang keberatan?"

Ibu Aditya tersenyum lembut dan mengusap lengan suaminya. "Aku ikut saja."

"Aku juga." Jawab Araya.

"Aku..ikut." Alexi yang terakhir menjawab dengan nada yang lemah.

•••

Mereka akhirnya mendaki dengan beberapa penjaga yang ikut. Pasangan suami istri itu lebih dulu di depan dan anak-anak berada di belakang. Araya memegang tangan anak di sampingnya dengan erat. Dia paham bahwa traumanya pasti masih ada.

"Kak."

"Iya?"

"Jika terjadi lagi hal yang sama...bisakah kamu tidak menyuruhku pergi sendiri lagi?"

"Tidak mungkin."

"Kenapa? Apa karena aku lemah makanya kakak pikir aku hanya beban saja?"

"Bukan begitu."

"Lalu apa?" Alexi sedikit meninggikan nada suaranya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Araya membungkuk hingga dia hampir sejajar dengan anak itu. "Tugas orang dewasa adalah melindungi orang yang lebih lemah dari mereka. Sekarang Alexi kan masih kecil dan dalam masa pertumbuhan. Jika suatu hari nanti kamu sudah kuat dan bisa melindungi dirimu, barulah kamu bisa menggantikan aku untuk melindungi ku."

"Kakak bisakah kamu berjanji?"

"Um?" Gadis itu menuntun anak itu untuk duduk lebih dulu.

Alexi memegang tangan gadis di depannya dengan senyum tipis. "Berjanjilah akan selalu ada di sisiku."

Araya berpikir bahwa hal itu akan sangat sulit. Tetapi melihat mata yang memberikan sebuah harapan padanya, dia hanya bisa mengalah.
"Aku berjanji padamu."

Barulah Alexi sekali lagi berubah menjadi ceria kembali. Keduanya kembali mendaki dan sekali-sekali keduanya bernyanyi bersama. Tidak butuh lama mereka sudah sampai di atas puncak gunung dan cahaya matahari terbenam sangat indah. Tenda segera di dirikan dan mereka menyiapkan makan malam dengan hidangan yang terdiri dari daging dan buah yang di bawa.

Makan malam berlangsung dengan damai dengan beberapa kali Alexi menceritakan hal-hal konyol yang terjadi di sekolahnya. Hingga tenga malam tiba, Alexi minta untuk tidur dengan Araya di tenda yang sama.

Di dalam tenda, Alexi memeluk boneka beruang miliknya dan tertidur dengan sangat cepat. Araya memeriksa bagian luar tenda dan sekitar mereka lebih dulu. Dia mengeluarkan sebuah bola hitam kecil yang bergerak melayang ke udara.

"Dengan ini akan baik-baik saja." Gumam gadis itu dan masuk ke dalam tenda.

Saat dia ingin berbalik untuk kembali ke kamarnya. Sesuatu melesat dengan sangat cepat ke arahnya. Araya seketika mengambil tameng dari sistem miliknya menghadapi benda yang di luncurkan ke arahnya.

Bam!

Boom!

Tubuh Araya terlempar cukup jauh akibat kekuatan yang begitu dahsyat dari meriam yang di tembakkan. Dia bisa merasakan beberapa tulangnya retak karena dia dengan salah menahan serangan itu.

Langkah kaki mendekat dan sosok tinggi muncul dari arah asap yang menutupi pandangan. Orang yang menembakkan meriam tidak lain adalah Tuan Aditya. Pria itu tersenyum puas melihat pemandangan di depannya.

"Serahkan batu ajaib itu, Araya." Ujarnya.

Gadis  itu berusaha bangkit dan menarik pedang hitam miliknya dari lubang dimensi sistem. Hal itu mengejutkan Tuan Aditya dan bawahannya yang berada dibelakang. Araya menghapus noda darah di bibirnya dan mengarahkan pedangnya ke arah pria itu.

"Kau sudah memperlihatkan wujud aslimu..Ayah? Ah tidak, harusnya aku memanggil Tuan Aditya."

Tuan Aditya mengerutkan keningnya saat melihat bahwa gadis itu masih bisa berdiri dengan tegak bahkan memegang senjatanya dengan baik.
"Bunuh dia!"














Bersambung...

You Are MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang