Devin membawa Mia untuk bertemu keluarga nya. Mia cukup takut karena ia langsung dikenalkan dengan keluarga Devin, seberani nya Mia ia tetap takut kalau menyangkut hal seperti ini.
"Assalamualaikum, Ma Devin pulang!" teriak Devin saat masuk kedalam rumah.
"Waalaikum salam." sahut wanita paruh baya, Mia menebak itu Mama nya Devin, apalagi saat melihat Devin mencium punggung tangan wanita itu, Mia mengikuti Devin ia mencium tangan wanita itu.
"Ini siapa Vin?" tanya Mama nya.
"Ini Mia, Mia ini Mama saya." ucap Devin memperkenalkan kedua nya, Mia tersenyum ramah. Mama nya Devin memandang Mia Dari bawah hingga atas, membuat Mia tak nyaman di tatap seperti itu.
"Mia, calon istri Devin." tutur Devin dengan santai nya sambil duduk.
Tergambar jelas di wajah Mama nya, rasa kurang suka pada Mia, entahlah mungkin itu perasaan Mia saja.
"Vin, kamu yakin mau nikah sama dia, Difa jauh lebih baik dari Mia." ucap Mama nya, ia mendelik ke arah Mia.
"Devin tahu, tapi Devin bukan yang terbaik buat Difa, lagian Devin suka nya Mia." bantah Devin.
"Vin, Mama gak suka ya." ucap Mama nya.
Devin diam, ia rasa diam lebih baik. Mama nya cukup keras kepala, lagian apa salah nya dengan Mia. Mia hanya bisa mencengkram baju, ia tengah menguatkan diri sendiri, mendengar kata suka dari Devin, Mia yakin cowok itu berbohong karena bagimana pun juga, mereka baru kenal.
"Ada apa nih?" tanya seorang wanita baru turun dari tangga.
"Ci, Devin malah milih cewek ini dari pada Difa." adu Mama nya, pada Kakak nya Devin.
"Ma, sampe kapanpun Devin bakalan nikah nya sama Mia, karena..."
"Karena apa Vin?" tanya lembut Cici nya.
"Karena Mia hamil anak Devin." ucap Devin akhir, membuat Cici dan Mama nya terperanjat kaget, anak cowok nya melakukan hal yang selama ini selalu Mama nya peringatkan.
"Lo serius?Hah!" ucap Cici ia menghampiri Devin. Suasana di rumah ini semakin panas, Mia hanya bisa menunduk malu bercampur merasa bersalah pada Devin, yang terus menerus membela nya.
"Iya." ucap Devin singkat, Cici nya langsung menarik kerah baju Devin bak mengajak Devin baku hantam.
"Lo harus tanggung jawab!" teriak Cici. "Makanya jangan nyebar benih sembarangan, lo pikir naro saham dulu di rahim orang tuh bukan masalah besar, gue cewek, dan dia juga cewek, Vin lo kok bisa se brengsek itu?lo mabuk?" ucap Cici panjang lebar udah kaya rel kereta api gak ada rem nya.
"Aku juga mau tanggung jawab Ci, tapi Mama malah nyuruh aku buat ngejar cewek biadab itu, di banding Mia yang jelas-jelas masa depan nya ancur karena aku." jelas Devin, Mia menarik-narik tangan Devin ia ingin mengajak nya pergi, Mia sudah tak tahan lagi berada di tengah-tengah keluarga Devin.
"Devin!" bentak sang Mama yang dari tadi berusaha untuk diam. "Berhenti kamu jelek-jelekin Difa." ucap Mama nya.
"Itu fakta, serah, mau tanpa atau dengan restu nya Mama, Devin tetep bakalan nikah sama Mia." ucap Devin ia menarik tangan Mia dan membawa nya keluar.
"Vin, apa ini gak keterlaluan." ucap Mia ia menghentikan langkah nya.
"Kenapa?" tanya Devin.
"Gue rasa yang di katakan Mama lo tuh bener, gue gak ada pantes-pantes nya buat lo, lagian pernikahan bukan permainan Vin." ucap Mia, rasa nya baru kali ini Mia ngomong bijak.
"Perlu debat lagi?" ucap Devin. Mia rasa cowok di hadapan nya ini cukup ber prinsip dan keras kepala, berat juga lawan nya kali ini.
"Males gue harus adu bacot sama lo." ketus Mia. Devin kembali lagi menarik tangan Mia. "Ish..lo bisa gak? Gak usah narik-narik, lo pikir gue kambing." Mia berontak.
"Iya kambing." ucap Devin datar.
"Eh, lagian kita mau kemana?" tanya Mia, kesal.
"KUA." ucap Devin. Mia melotot, bisa gila ia, ternyata Devin tidak main-main dengan ucapan nya.
"Tapi..."
Ucapan Mia terpotong karena Devin sudah menarik tangan nya lebih dulu. Gila emang ini baru pertama kali nya Mia bertemu cowok, aneh, yang langsung dengan mau nya tanggung jawab dan akuin anak nya. Tapi Mia tak mau ambil pusing, apa salah nya menerima Devin, lagi pula wajah Devin tak kalah jauh dari Aldo.
"Sialan." umpat Mia saat terbesit nama Aldo di otak nya, rasa nya ingin sekali membunuh cowok itu.
"Bisa gak? Tuh mulut di jaga." ucap Devin datar. Mia hanya manggut-manggut, ia harus siap di atur-atur oleh Devin.
________
Disinilah Mia saat ini, di rumah milik dokter muda Devin. Cowok yang baru saja menikahi nya sore tadi. Mereka baru sah secara agama, karena Devin tahu ini akan sangat sulit bagi Mia.
"Dev, gue mau ice krim." ucap Mia manja, ia bergelayut di tangan Devin.
"Ini udah malem." tolak Devin, ia melirik arloji nya sebentar. Mia mengerucutkan bibir nya, Devin tipe cowok yang cuek dan tidak mau ribet.
Mia memfokus kan pandangan nya pada laptop yang sedari tadi Devin sibuk dengan benda itu, sampai Mia saja merasa benda itu sangat istimewa, gila gue cemburu? Batin Mia.
"Lo lagi apa si?" tanya Mia risih.
"Menurut kamu?" tanya balik Devin, ia masih fokus pada pekerjaan nya.
"Dev, lo tuh gak ada romantis-romantis nya padahal kita baru nikah." lontar Mia sebal. Devin menghela napas nya, ia berusaha sabar, ia harus bisa bertahan pada pilihan nya.
"Tidur." titah Devin.
"Lo kapan?" tanya Mia, ya sebagai istri Mia cukup perhatian.
"Tidur Mi." ucap Devin, kali ini nada bicara nya tak mau di bantah. Dari pada harus berdebat dengan Devin lebih baik Mia cari aman, ya tidur.
Mia yang gampangan setelah bertemu bantal, ia langsung tidur memasuki alam mimpi nya. Sedangkan Devin masih sibuk dengan pekerjaan nya, ia harus menyalin data kesehatan pasien nya.
Tidur Mia terganggu, karena merasa kedinginan. Ia melihat Devin yang masih membuka mata nya, dan terduduk dengan secangkir kopi, sambil membaca buku tebal.
"Vin." ucap Mia lirih, ia bangun dan duduk. Devin melirik nya sebentar dan kembali lagi membaca buku. "Gue laper." adu Mia, karena memang benar dari sore tadi ia belum makan apapun.
"Mau apa?" tanya Devin, ia menyimpan buku nya, dan menyesap kopi nya sebentar.
"Seblak." ucap Mia ragu, Devin tampak berpikir bagaimana bisa Mia makan seblak malam-malam seperti ini.
"Gak." tolak Devin membuat Mia merengut.
"Padahal ini dede bayi nya lo Vin, yang mau." Mia memanyunkan bibir nya.
Devin menghela napas nya, ia berusaha memberikan pengertian pada Mia.
"Mi, gimana kalau makan bubur aja." bujuk Devin.
"Seblak Vin, gue mau seblak pokok nya, gue gak mau ya nanti anak gue jadi jelek, terus ileran." rengek Mia, ia mengeluarkan jurus mengedip-ngedip kan matanya.
"Gak fitnah kan?" ucap Devin menyelidik. "Mana ada bayi pengen seblak Mi." lanjut Devin.
"Lo kan dokter Vin, masa gak tahu si, ini bawaan bayi, kalau gak mampu beli yaudah tinggal bilang, gue mau buat aja." amuk Mia, kesal sendiri menyesal rasa nya menikah dengan cowok kurang pekak, setan umpat Mia dalam hati.
"Oke, saya yang bikin." ucap Devin menyerah. Ia segera ke dapur, tak lupa membawa ponsel nya. Untuk melihat tutorial memasak seblak, jujur ini pertama kali nya Devin buat, menurut nya seblak cukup bahaya, makanya ia melarang Mia makan seblak.
Lama bergelut dengan dapur, akhirnya Mia dapat melihat Devin datang ke kamar yang masih memakai celemek.
Devin menyodorkan seblak bikinan nya, Mia sudah tergiur ia langsung melahap nya, Devin mengerutkan kening apa seblak bikinan nya segitu enak nya? Padahal ia hanya memakai bumbu garam doang, tak menambahkan yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romance"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)