18.😊

4.6K 206 9
                                        

Iren meremas seprai ia benar-benar emosi saat ini, apa yang Mia ceritakan membuatnya ingin sekali membunuh manusia.

"Sialan, apa lo masih mau bertahan Mi?" tanya Iren.

Mia menggeleng lemah. "Entahlah." ucapnya. Yang ia pikirkan saat ini adalah nasib anak nya nanti, jika ia berpisah dengan Devin, anak nya jelas tak akan mempunyai ayah. Seharus nya sedari dulu Mia sadar, ia tak boleh tergantung pada Devin. Karena ujung nya akan menyakitinya.

"Lo mau bunuh lakik lo?" tanya Iren.

"Gue lagi serius Ren." Mia mendelik ia tak suka candaan Iren saat ini.

"Gue juga serius. Gue rela dipenjara jika demi ngebunuh orang yang nyakitin lo." ucap Iren serius, Mia menelan saliva nya, ia menatap Iren yang seperti nya serius dengan ucapannya itu.

"Ah, gue baper nih."  ucap Mia dengan nada merengek nya.

"Gue bukan lesbi." ketus Iren tak suka.

"Kalau gue lesbi, mana ada gue hamil Ren. Kalau lo si gue curiga." Mia menaik-naik kan alis nya. Iren mendelik.

"Gue masih mengejar seseorang." ucap Iren sendu.

"Dan orang yang lo kejar itu, udah milik orang lain." ucap Mia yang tahu siapa orang yang dimaksud Iren.

"Mereka baru pacaran, belum menikah." ujar Iren yakin, ah sudahlah Iren malah mengadu nasib dengan nya, tapi dipikir-pikir mengejar orang yang udah berpawang memang sakit.

_______

"Ma, ini gak bener, Mia lagi hamil." Cici memijit pelipis nya, ia benar-benar tak mengerti dengan orang tua nya.

"Mama tahu, Mama juga gak buta." ucap Mama tak peduli.

"Lalu?" ucap Cici. "Kali ini Mama, udah melampaui batas Ma, ini rumah tangga Devin, ini udah tanggung jawab nya. Mama gak berhak atas semua nya." Cici menaik kan nada bicara nya.

"Tutup mulut kamu, Mama tahu yang baik buat adik kamu." Mama menatap tajam Cici.

'Shit.' Umpat Cici dan tentu dalam hati. Ia menatap tajam Devin, yang hanya duduk dan menyenderkan punggung nya pada sofa.

"Eh, tolol." Cici menghampiri Devin. "Lo diem aja gitu, istri lo lagi pergi, dia marah bajingan." ucap Cici tajam. "Lo kejar kek, cari kek. Bukan diem aja kayak orang cacat lo." cerca Cici tak suka.

"Devin udah bener, dia gak seharus nya mengejar cewek murahan itu. Lagi pula anak yang dikandung jalang itu bukan anak Devin." ucap Mama tajam.

"Cukup Ma, jangan hina Mia, bagaimana pun Mia tetap istri Devin."  sela Devin. Ia menghela napas berat nya. "Dan yah Ci, gue bukan nya gak mau nyari tapi Mia, butuh waktu sendiri." tutur Devin, Cici memutar bola matanya malas.

"Cih, bilang aja malas nyari. Dasar bajingan tolol." caci nya, Cici melangkah pergi keluar.

"Mau kemana kamu?" tanya Mama saat melihat Cici keluar dengan membawa kunci mobil.

"Mencari adik ipar yang ditelantarkan." ketus Cici dan pergi begitu saja, ia malas dengan keluarganya saat ini, hati nurani mereka mungkin sudah lenyap membuat Cici muak dengan segalanya.

Sepanjang jalan Cici sangat menghkawatirkan Mia, keadaan Mia saat ini sangat lemah. Ia sangat tahu keadaan kandungan Mia, ah, Cici merutuki sifat bajingan adik nya, bisa bisanya adik nya berdiam diri dirumah saat Mia tengah pergi dengan emosi yang memuncak. "Sialan." umpatnya.

"Kemana lagi gue harus nyari nya." ucapnya melihat kanan-kiri yang ramai. Ke Apartement yang Mia tempatipun tidak ada, Cici seperti orang gila yang tak tahu arah akan pergi kemana, Mia juga susah dihubungi, cih persetan dengan adik nya.

Sedangkan ditempat lain, Mia masih asik dengan Iren, mereka saling bertukar cerita setelah lama tak bertemu.

"Mi, lo yakin mau nginep disini?" tanya Iren.

"Hm, lagian gak bakal ada yang nyari gue." ucap Mia datar.

"Gue tahu lo terpukul Mi, gue gak bakal larang lo nangis, semakin lama lo tahan, semakin dalam luka lo." ucap Iren ia mengelus lembut bahu Mia.

"Thanks, tapi gue gak mau menjadi lemah Ren, udah cukup semua nya." ucap Mia dingin.

"Sip, lo emang Mia yang gue kenal, inget cowok didunia ini banyak, bukan si Devin ataupun si Aldo." ucap Iren.

"Yah, dan yang benar-benar tulus itu langka, maka harus dilestarikan." celetuk Mia asal, Iren hanya mendengkus, ucapan Mia sangat menuju pada hewan bukan manusia.

"Oke, sana istirahat, gue mau pesen makan dulu." titah Iren yang diangguki Mia. Mia membaringkan tubuh nya, perut nya semakin berat, wajar saja ini sudah akan menginjak sembilan bulan, membayangkan hal tadi siang membuat Mia merasa semakin sesak. Ia tahu sedari tadi Cici menghubungi nya, ia tak mau menanggapinya, ini terlalu sakit sungguh.

Dengan memikirkan hal itu, Mia terisak, ia tak tahan, apa ini karma baginya karena terlalu sering mempermainkan hati orang lain dulu, ini berat.

Rasanya sakit, apalagi Mia tahu kalau Devin masih berhubungan dengan mantanya. Jangan tanya bagaimana Mia tahu, yang jelas ia tak sengaja datang kekantor suami nya itu, dan sial nya Difa wanita sialan itu tengah memeluk Devin. Ah, Mia pikir Devin benar-benar tulus padanya, ternyata Devin hanya penasaran saja pada dirinya. Dan terbukti setelah Mia, jatuh padanya, Devin mencampakkan nya, bahkan ia mungkin tak mencari nya saat ini.

Tapi Mia tetap Mia, ia akan mempertahankan apapun yang jadi milik nya, ia tak akan pernah melepaskan Devin, Difa hanya orang masa lalu yang datang dipernikahan mereka.

"Mi, are you okay?" tanya seseorang tanpa melihat pun Mia tahu, kalau itu Iren. Mia menggeleng lemah.

"Hiks...ini bener-bener sakit...hiks..Ren." Mia semakin terisak. Iren mengelus kepala Mia lembut, ia dapat meligat punggung Mia yang bergetar. Kemudian Iren ikut berbaring disamping Mia, ia memeluk Mia dari belakang.

"Gue gak tahu sesakit apa Mi, tapi gue janji bakal ada terus buat lo." Iren ikut terisak jiwa perempuan nya mungkin terpanggil, sedingin dan secuek apapun Iren, jika sahabatnya terluka ia akan merasa sakit juga.

"Ren..hiks..gue takut..kalau anak gue..gak punya ayah." Lagi lagi Mia terisak bahkan saat ini ia sudah sesenggukan.

"Sstt..gue yakin, lo bisa jadi ayah sekaligus Mama buat anak lo nanti, jika si bajingan Devin itu emang ninggalin lo." ucap Iren jujur jika Iren diposisi Mia sekarang mungkin ia akan mengakhiri hidup nya, ini memang fakta, ah, siapa yang ingin suami nya selingkuh saat tengah hamil besar seperti ini.

"Sial, gue kok jadi nangis gini Ren." lirih Mia masih terisak. "Lo ngapain ikut nangis, sialan." celetuk Mia, sambil menepis pelan tangan Iren yang melingkar pada dirinya.

"Berisik lo, gue lagi empati nih." cetus Iren, ia baru sadar kelakuan nya sangat menggelikan, biasa nya ia dan Mia akan adu mulut atau saling menghina ini malah seperti adik kakak yang akur, ah, menyebalkan.

"Awas, gue mau ke toilet." cicit Mia, bangkit, wajah nya sangat kacau, hidung nya merah dan mata yang sembab, membuat Iren rasanya ingin memaki Mia saat ini, namun ia urungkan saat Mia sudah masuk ketoilet.

"Lo udah kayak sodara gue Mi." lirih Iren, sebelum ia menarik selimut nya.

Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang