"Lepas, udah nyala tuh." titah Devin namun tak ada respon atau reaksi dari Mia. Yang Devin rasa hanya hembusan nafas gadis. Dan benar saja tebakan nya, ternyata Mia sudah tertidur.
Devin mengamati setiap inci wajah Mia dari dekat, ia sangat benci Aldo, rasa nya muak sekali saat melihat Mia, sosok yang Aldo rusak, Mia bahkan dengan bodoh nya memberikan hal berharga nya bagi Aldo. "Sial." umpat Devin, ia membaringkan tubuh Mia ke atas kasur.
_______
Mia terbangun saat matahari sudah masuk ke sela-sela jendela nya. Ia sudah tak melihat Devin dikamar nya, ini sudah biasa bagi nya, pagi Mia selalu sepi, karena wajarlah suami nya memang orang sibuk.
Mia mengikat rambut nya, yang berantakan, ia sudah melihat segelas air di atas nakas, ia yakin Devin yang menyiapkan nya. "Makasih Vin." gumam Mia, lalu meminum air itu sampai tandus.
Tanpa Devin hidup Mia pasti jauh dari kata baik, ia bersyukur tuhan menurunkan malaikat seperti Devin disisi nya. Walau jujur Mia sebenat nya juga tak senang ketika Devin menikahi nya karena kasihan. Ia tahu wanita seperti nya tak sepantas nya mendapat cinta Devin.
Ting
Satu notif dari ponsel nya, Mia enggan membuka nya namun terpaksa karena suara ponsel nya itu tak henti-henti.
Iren🐒
Mi, gue diapartement lo
Kok lo gak ada.
Mia menghela nafas nya, saat mendapat pesan seperti itu dari Iren.
Mia mengirim lan alamat nya yang sekarang pada Iren, ia malas harus menceritakan semua nya lewat pesan.
Mia yang mulai gerah langsung saja, memanjakan tubuh nya, ia mandi. Tak butuh waktu lama bagi Mia mandi. Ia langsung mengganti baju nya. Ia yakij sebentar lagi Iren akan segera sampai, dan benar saja, ia sudah mendengar suara bel.
"Iren!" cicit Mia saat mendapati teman nya dibalik pintu.
"Hai! Kangen!" Iren langsung memeluk Mia. Ia sudah merindukan sahabat nya itu. Mia langsung mengajak Iren masuk.
Mia berbincang basa-basi terlebih dahulu, lalu ia menceritakan semua nya pada Iren, sahabat nya itu tak terima dengan apa yang Aldo lakukan pada Mia.
Ia tak habis pikir juga dengan pikitan dangkal Mia, dengan enteng nya ia percaya pada Aldo, padahal mereka baru pacaran dua tahun, itu waktu yang sebentar menurut Iren.
"Terus lo nikah, sama cowok yang sama sekali lo gak kenal kehidupan nya?" ucap Iren tak percaya. Mia mengangguk lemah, Iren geleng-geleng teman nya memang benar-benar gampang di tipu, pantas saja Aldo dapat banyak dari nya. "Terus dimana laki lo? Gue mau lihat dia? Jangan-jangan dia main cewek lagi." ucap Iren panik, saat mencari-cari suami sahabat nya itu.
"Ren." ucap Mia menghentikan sahabatnya itu, namun Iren seakan tuli ia terus mengobrak-abrik apartemant Mia. "Iren!" ucap Mia setengah berteriak. Iren langsung berhenti ia menghampiri Mia lagi.
"Lo gak di apa-apain kan sama laki lo? Lo gak papa kan Mi? Ngomong Mi kalau laki lo jahat." ucap Iren dengan nada khawatir.
"Ren, Devin cowok baik." ucap Mia meyakinkan.
"Dari mana lo tahu kalau tuh cowok baik, bukti nya si tolol Aldo aja yang lo udah kenal dua tahun, tetep aja goblok." ucap Iren.
"Kali ini emang bener-bener baik Ren, gue bisa rasain tulus nya Devin sama gue, dia dokter muda, mana ada waktu buat main cewek." jelas Mia, Iren diam ia tampak mencerna perkataan Mia barusan. "Dia baik Ren, apapun yang baik buat gue, dia selalu berani berkorban, bahkan dia akuin kalau bayi dikandungan gue ini, anak nya." ucap Mia mata nya sudah berkaca-kaca ia tak kuat jika harus membahas bayi nya. Iren reflek memeluk Mia, ia ikut terpuruk melihat keadaan Mia, ia tak menyangka teman nya yang selama ini terlihat kuat ternyata lebih menyedihkan dari nya.
"Gue selalu dukung lo Mi, gue selalu ada buat lo." ucap Iren mengelus punggung Mia.
"Makanya udah Ren, lain kali gue temuin deh lo sama Devin." ucap Mia melepas pelukan Iren dan tersenyum senang.
"Ganteng gak?" celetuk Iren.
"Buat gue si B aja, tapi lumayan juga si." ucap Mia dengan senyum jahil nya.
Mia lupa kalau ia masih mempunya teman-teman nya, tapi ia juga baru berani cerita pada Iren saja, ia takut jika harus bercerita dengan yang lain nya, takut mereka ngamuk, demo lagi pada Aldo.
Iren memutuskan untuk menemani Mia, ia juga senang berada di apartemant suami sahabat nya itu. "Gila bakalan punya ponakan gue." ucap Iren sambil mengelus perut Mia yang masih rata.
"Ahaha..gila si, gue gak nyangka bakalan punya anak, padahal gue ngerasa masih anak-anak." celetuk Mia sambil mengupas buah apel.
"Eh, Mi lo udah cek ke dokter?" tanya Iren. Iren menggeleng karena memang benar, Devin tak mengajak nya kedokter, pas Cici nya marah-marah pun Devin tampak cuek saja. "Kok belum si Mi?" ucap Iren tak suka.
"Kata si Devin katanya santai aja lagian dia dokter, lagian juga si kemarin pas gue sempet kontraksi, kita kerumah sakit langsung." jelas Mia. Iren mengangguk mengerti
____________
Devin memijit kening nya, untung jadawal nya sudah selesai. kepala nya terasa pening, ia benar-benar lelah. Pasien nya hari ini benar-benar banyak.
Sekarang sudah pukul lima lewat, di otak nya memikirkan Mia terus menerus, ia takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Apalagi tadi pagi ia tak meninggalkan note sama sekali.
Devin langsung meraih jas kebanggaan nya, dan berniat pulang. Devin sudah menghubungi Mia namun gadia itu tak kunjung menjawab, membuat Devin semakin khawatir saja.
Tak butuh waktu lama bagi Devin untuk sampai ke apartemant nya, ia melihat ada mobil asing di pasrkiran, Devin langsung berlari perasaan nya tak enak.
"Mia!" teriak Devin saat masuk, namun yang dipanggil tak menyahut juga. "Mia!" lagi-lagi Devin harus berteriak, namun tak ada sahutan juga. Devin langsung mencari Mia, dan betapa terkejut nya Devin saat mendapati istri nya tengah menangis, diatas kasur, dan tisur berserakan di lantai, mata Mia fokus pada layar televisi ternyata gadis itu tengah menonton.
"Kalau dipanggil tuh jawab." cetus Devin sambil menyimpan jas nya diatas nakas.
"Sstt...lagi sedih tahu." ucap Mia, Devin baru 'ngeh' ada gadis lain dikamar nya. Ia mengernyitkan kening nya, ia di tatap malah nyengir tanpa dosa.
"Hallo Devin." ucap Iren nyengir. "Kenalin gue teman nya Mia." lanjutnya mengulurkan tangan. Tapi Devin tampak cuek dan malas untuk membalas uluran tangan Iren.
"Devin." ketus Devin, ia tak membalas uluran tangan Iren.
"Ketus banget si bambang?" ucap Iren tak terima. "Eh, Mi laki lo abis makan gurita pedas kali, makanya ketus banget." ucap Iren mengadu.
Mia langsung melirik Devin, dan mematikan tontonan nya, ia melihat tatapan nyalang Devin yang melihat kamar berantakan dan juga banyak sampah, apalagi kasur, yang sudah hancur akibat Iren dan Mia makan snack alhasil kasur terasa banyak kotoran.
"Heheh...maaf suami, nanti gue beresin kok, ya kan Ren." Mia nyengir tanpa dosa, yang langsung diangguki Iren.
"Ingat, beresin, jangan lupa minum kalau udah makan, jangan sampe dehidrasi." ucap Devin mengingatkan. Mia lansung mengangkat tangan nya dan memposisikan hormat pada Devin, bak pada bendera negara saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romantizm"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)