Devin menyuapi Difa, karena Difa merengek tanpa henti ingin disuapi Devin, dengan ancaman dia tidak akan makan jika Devin tak kenyuapi nya.
"Sedikit lagi." ucap Devin.
"Aku sudah kenyang." tolak Difa, ia benar-benar sudah kenyang, lagipula ia terpaksa makan, karena tak ingin mendengar ceramah panjang dari suami nya itu.
Devin beranjakn dari duduk nya, namun Difa menahan tangan kekar itu.
"Mau kemana? Tetap disini, bayi nya yang mau." ucap Difa memelas, itu sungguh membuat Devin jijik.
"Aku harus menghubungi Mia, dia belum pulang, ini sudah malam." ucap Devin datar.
"Apa kamu tega, ketika lahir anak kita ileran? Hah!" ucap Difa.
Devin menghela napas nya, ia berusaha agar tak marah, mungkin memang benar ini bawaan bayi nya.
Devin terpaksa duduk kembali disamping Difa, sesekali ia melihat jendela luar, berharap Mia pulang, namun nihil walau ini sudah larut, belum ada tanda-tanda Mia pulang.
Bahkan Bian tidur bersama Bi Titin, itu membuat Devin tak nyaman, ia juga kesal, kenapa Mia tega meninggalkan anak nya sendirian.
Mungkin karena Devin tak tahu, bahwa istri pertama nya tengah melawan penyakit nya, bahkan mungkin saja Mia tak akan kembali bangun, jika Arif tidak cepat-cepat melakukan pertolongan pertama pada Mia.
Mia masih saja memejamkan matanya, selang infus menancap setia mengalirkan sedikit kekuatan untuk Mia. Arif menatap sendu Mia yang terbaring lemah.
Ia selalu mengutuk diri nya sendiri, karena telah terlambat mengetahui kehamilan Mia yang berbahaya, sudah sering Arif menyuruh Mia, untuk melakukan pengangkatan rahim nya, karena itu membahayakan nyawa nya.
Fisik Mia tak kuat, itu karena akibat infeksi dalam rahim Mia, yang terjadi karena operasi caesar nya. Ini belum satu tahun fasca Mia melahirkan, tapi Mia sudah mengandung kembali, mana bisa Mia melahirkan secara normal, dengan operasi pun tak menjamin keselamatan nya. Karena luka lahiran pertama nya belum sembuh.
Rasa nya Arif ingin memberitahu Devin, namun Mia selalu saja melarang nya, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Rif." lirih Mia, Arif sedikit tersentak, karena Mia telah membuyarkan lamunan nya.
"Ada yang sakit? Atau masih pusing, katakan jika ada sesuatu yang membuat kamu tak nyaman." tanya Arif tanpa henti, Mia tertawa kecil.
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Arif mendengkus tak suka.
"Aku enggak papa, kamu enggak usah berlebihan." ucap Mia diakhiri dengan kekehan nya.
"Syukurlah, kamu tahu aku hampir mati, saat melihat darah dimana-mana." adu Arif. Mia tersenyum getir.
"Apa bayi nya tidak apa-apa?" tanya Mia. Arif menggeleng pelan.
"Dia baik-baik saja, bukan kah aku Dokter yang hebat, walau sempat meminta bantuan dari Dokter Meysi." jelas Arif ia berkekeh.
"Terima kasih, jika suatu saat kamu harus memilih, maka pilihlah anak ku." ucap Mia lirih.
"Berhenti berkata seperti seakan kamu akan mati besok." ketus Arif.
Mia hanya tertawa renyah, itu hanya menutupi rasa sakit nya.
"Aku akan memberi tahu, bahwa aku hamil." ucap Mia, mendengar itu Arif tersenyum senang.
"Bagus, itu lebih baik." ucap Arif.
"Tapi tidak dengan masalah fisik ku, aku hanya akan memberi tahu bahwa aku hanya hamil saja." lanjut Mia. Seketika senyuman Arif memudar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romance"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)