19.😊

4.6K 209 2
                                        

Devin membaringkan tubuh nya, kini apartement yang selalu dipenuhi dengan kebisingan Mia, menjadi sepi. Sosok itu tengah pergi, dan Devin sadar akan itu.

Devin ingin menghubungi Mia, namun ia urungkan, gadis itu akan besat kepala jika Devin menghubungi nya, pikirnya.

"Shit." umpatnya, hari hari nya sangat sulit saat ini, ia sadar diri, dirinyalah yang mempersulit hidup nya, dengan menerima Difa disisinya lagi, dan melukai Mia yang jelas sudah menjadi tanggung jawab nya.

Devin menghubungi Arif, teman dekat nya.

"Hallo?" suara Arif yang baru saja mengangkat sambunga telepon dari Devin.

"Gue mau cerita sesuatu." ucap Devin.

"Oke besok siang, pas jam istirahat." sahut Arif menerima ajakan Devin.

"Oke thanks." singkat Devin, dan mematikan sambungan secara sepihak.

Ia benar-benar kacau, ia butuh saran dari seseorang, Arif adalah orang yang tepat untuk dipintai saran saat ini.

_________

Mia masih belum berniat untuk pulang, dan Iren tengah kuliah. Ah, sebenarnya Mia iri pada sahabatnya, yang masih bisa menempuh pendidikan, orang hamil bukan halangan untuk kuliah, namun Mia tidak yakin akan tahan dengan hujatan teman-teman nya dikampus jika ia melanjutkan kuliah nya.

"Huh, gue gak nyesel." gumam Mia meratapi nasib nya, ia harap hanya dia wanita bodoh yang memberikan hal berharga pada orang lain.

Drttt...drttt..drtt

Sebuah notifikasi, membuat Mia terpaksa melihat ponsel nya.

My suami

Dimana?

Mia tersenyum kecut, ia pikir suami nya itu sudah lupa padanya. Ah, ia harus jual mahal sedikit, Mia membiarkan pesan tersebut. Namun sebuah notif muncul lagi dan tentu itu dari Devin.

My suami

Oke, aku jemput sekarang
Kamu ditempat teman mu itukan.

My suami

Kita bicara, baik-baik.

"Dari mana sibrengsek itu tahu aku dimana." gumam Mia, ia memijit pangkal hidung nya, tanpa membalas pesan dari Devin, Mia mematikan ponsel nya.

"Cih, dia pasti bersenang-senang dengan si Difa sialan." rutuk Mia, ia bersumpah akan membalas semua nya, cukup Aldo yang tak bisa Mia balas, kali ini ia tak akan membiarkan para manusia brengsek masih bisa tersenyum.

Mia memejamkan matanya sebentar, ia pikir ia butuh istirahat. Namun sial nya lagi, bel berbunyi, dengan ogah-ogahan Mia berjalan membuka pintu.

"Ayo pulang." itu suara Devin yang dingin tak ingin dibantah. Mia menaikam alis nya, dan melipat kedua tangannya didepan dada.

"Bikin alasan buat gue yakin, harus pulang sama lo." ucap Mia, ia tersenyum miring, tapi jujur ia senang Devin menjemputnya, itu artinya ia masih ada tempat dihati Devin.

"Anak." singkat Devin, Mia mengerutkan keningnya. "Anak yang kamu kandung, bukan kah dia membutuhkan ayah." cetus Devin percaya diri.

"Memang, dan gue mampu menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak ku sendiri." ketus Mia, ia memutar bola matanya malas.

"Pulang lah, berhenti kekanak-kanakan, kita bisa bicara baik-baik." ucap Devin masih sama, ia bicara dengan nada dingin milik nya.

"Ah baiklah, karena memang aku masih kecil, jadi kekanak-kanakan. Tidak seperti anda yang mungkin sudah dewasa." Mia bicara tanpa melihat kearah Devin, ia lebih tertarik pada tembok dibelakang Devin.

"Pulang." kali ini Devin menarik paksa lengan Mia, Devin yang lembut telah lenyap itulah yang Mia rasakan. Si bajingan Devin dengan enteng nya menyeret Mia, membuat Mia meringis karena cekalan Devin yang kuat.

"Lepas brengsek!" cicit Mia, ia benar-benar kesakitan. "Sialan! Ini sakit, lo mau nyakitin gue?hah!" teriak Mia menggila, Devin langsung menghentikan langkahnya begitupun melepaskan tangan Mia.

Mia mengusap tangan nya yang agak sedikit me merah. Ia menatap tajam kearah Devin.

"Lo berubah." ucap Mia singkat, lalu pergi dahulu keluar dari bangunan gedung apartement.

Devin masih diam, lo berubah, satu kalimat yang berhasil masuk kedalam pikiran Devin, dan itu sangat mengganggu.

Tak lama kemudian, Devin menyusul Mia yang sudah berdiri, didepan pintu mobil.

"Buruan, bukannya lo mau buru-buru ngajal gue pulang." ketus Mia. Devin hanya diam dan membukakan pintu untuk Mia.

Mobil pun melaju meninggalkan apartement milik Iren, selama perjalanan hanya hening, Mia lebih tertarik pada jalanan.

"Aku minta maaf soal tadi." ucap Devin memecah keheningan terlebih dahulu.

"Hmm." gumam Mia, tanpa mengalihkan pandangan nya.

"Jika seseorang mengajak bicara, lihat kearah orangnya." cetus Devin datar.

"Jika sedang berkendara, dilarang mengobrol. Gue masih ingin hidup." balas Mia tak kalah datar.

Devin hanya berdecih saja, Mia memang keras kepala, dan kali ini Mia menang, karena ucapannya yang benar.

Tak lama kemudian, mereka sampai. Mia berjalan terlebih dahulu, tanpa berniat menunggu Devin, ia juga  mengetahui pasword pintu apartement, buat apa menunggu bajingan pikirnya.

Mia menyenderkan punggungnya disofa, ia memijat sedikit pelipis nya, rasanya agak pening, sambil memejamkan matanya

Dapat Mia dengar suara decitan pintu yang terbuka, makhluk bajingan itu pasti sudah masuk, pikirnya.

Tangan nya serasa ditarik seseorang dengan lembut, Mia membuka matanya dan mendapati Devin yang tengah mengobati tangan nya yang sedikit lecet, karena tadi ulah Devin, yang membuat tangan milik Mia bergesek dengan jam tangan yang Mia pakai.

"Berhenti melakukan hal ini, seolah lo bukan orang yang melakukan nya." cerca Mia.

"Lain kali aku tak akan melakukannya lagi. Jadi berhenti bersikap seperti tadi, ini tak akan terjadi jika kamu menurut." ucap Devin yang masih fokus dengan luka Mia.

"Iya, lo bener. Ini semua salah gue, termasuk menyetujui hubungan tanpa restu ini." tutur Mia, yang tak sadar akan ekspresi pada wajah Devin, yang tengah menahan emosi nya.

"Sudah selesai." ucap Devin, sambil membereskan alat-alat yang baru ia pakai.

"Ah, terima kasih. My husband." ucap Mia, ia sendiri merasa geli dengan ucapan nya barusan.

Devin hanya mengangguk dan pergi kedapur ia membawakan Mia air putih.

"Minumlah, jangan biarkan kamu kekurangan cairan." ucap Devin ia memberikan segelas air putih pada Mia, yang dengan senang hati Mia menerima nya. Mia meneguk air tersebut sampai tandas.

"Berhenti natap gue kayak gitu, mata lo mau gue cukil apa?" desis Mia tak suka, saat Devin menatap nya dengan tatapan, ah, entahlah Mia sendiri tak tahu itu tatapan apa, yang jelas ia tak menyukainya.

"Aku minta maaf, atas sikap Mama Mi." lirih Devin mulai serius.

"Tentu, itu bukan salahnya. Seperti apa yang kamu ucapkan, aku saja yang kekanak-kanakan." ucap Mia datar.

"Apa kamu masih marah Mi?" tanya Devin.

"Tidak, lagipula itu kebenaran yang nyata." ucap Mia, ia menggeleng pelan. "Yang Mama lo bilang bener Vin. Lo gak pantes buat gue, dan lo sendiri tahu mantan lo lebih jauh lebih baik dari gue bukan." ucap Mia sinis saat membicarakan seorang mantan.

"Apa maksud kamu Mi?" tanya Devin lagi, ia berlagak tak mengerti dengan ucapan Mia barusan.

"Ah, lupakan saja, lagipula gue udah lupain semuanya. Gue mau tidur, ngantuk." Mia bangkit dari duduknya, ia pergi meninggalkan Devin yang masih membeku ditempatnya.

"Apa Mia tahu." gumam Devin pelan

Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang