10.😊

6.4K 267 4
                                        

Mia cekikikan dengan Iren saat mendapat pesan jangan lupa minum, dipikir mereka bocah apa.

Namun Mia menurut dengan hal itu, dari pada singa ngamuk iyakan, lebih baik cari aman.

"Mi, kaya nya gue mau pulang deh." pamit Iren.

"Lah kenapa Ren, lagian flm nya belum beres." ucap Mia, berusaha menahan sahabat nya itu. Namun Iren juga harus pergi, ia tak enak dengan Devin, apalagi suami sahabat nya itu bak monster serem juga kalau diladenin.

"Yaudah deh, hati-hati ya." pesan Mia.

"Oke, dadah...Eh suami nya Mia, jaga sahabat gue ya, lecet dikit baku hantam kita!" teriak Iren sambil keluar. Mia sampai tertawa saat mendengar ucapan Iren.

"Lain kali jangan nyemil terus Mi." ucap Devin membuka suara nya. Mia menghampiri Devin yang tengah duduk di sofa.

"Ya maaf." lirih Mia menundukan kepala nya.

"Bukan nya gak boleh Mi, nyemil emang gak baik." ucap Devin nada bicara benar-benar lembut membuat Mia klepek-klepek aja.

"Temen?" tanya Devin.

"Iya, itu Iren, sahabat gue, kenapa?" tanya Mia.

"Enggak." ucap Devin singkat.

"Vin, gue suka bosen sendirian, lo sibuk banget ya? Resiko jadi istri dokter si." ucap Mia wajah nya merengut.

Mendengar itu, Devin baru sadar kalau Mia benar-benar kesepian sendirian, tiap hari juga ia tinggal, apalagi karena nya Mia berhenti kuliah.

"Gue gak boleh kuliah lagi ya? Gue gak papa kok Vin, gue bakalan bayar sendiri lo gak usah mikirin biaya." ucap Mia.

"Bukan itu Mi, gue juga mampu buat bayarin lo kuliah!" bentak Devin, entah kenapa ia emosi, Mia menganga tak percaya baru kali ini Devin meninggikan suara nya. "Gue takut lo kenapa-napa, gue mohon sama lo." lanjut Devin, nada bicara kini kembali normal, lembut seperti biasa.

"Maaf Vin." lirih Mia. Devin tak tega mendengar suara Mia yang seakan takut dan memendam hal yang membuat nya sakit.

"Kalau bosen, ajak lagi temen, kalau perlu ajak semua nya." ucap Devin. Mendengar itu bukan main Mia senang nya, biasa nya kan Devin tidak suka keributan ia juga tak suka jika rumah nya berantakan atau bahkan kotor sedikit pun.

"Makasih suami." ucap Mia ia sengaja mengubah suara nya dengan nada yang alay.

Devin juga tak mungkin membiarkan Mia bosen, ia juga masih mempunyai hati nurani, apalagi gadis itu tengah hamil, mood nya pasti naik turun.

Devin pun membersihkan diri nya, ia merasa tubuh nya sudah lengket. Sedangkan Mia sibuk memakan buah-buahan yang selesai di kupas oleh Devin.

Saat tengah asik memakan buah, bel berbunyi membuat Mia terpaksa harus membuka, padahal jujur ia sangat malas. Mia kaget saat melihat siapa yang datang, Mama nya yang ia ketahui tengah di luar negeri itu sekarang nyata ada dihadapan nya.

"Mama." ucap Mia, kening nya berkerut.

"Mana, laki-laki brengsek itu Mia!" ucap Mama nya naik pitam, Mia kaget pasti Mama nya tengah mencari Devin. "Sialan, dengan gampang nya dia hamilin kamu, lalu menikahi kamu, tanpa kehadiran Mama." celetuk Mama nya. Mia menelan saliva nya susah payah, karena bagaimana pun Devin sama sekali tak bersalah dalam hal ini.

Saat Mama nya tengah koar-koar, saat itu juga Devin keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk sepinggang, ia tidak tahu kalau ada mertua nya dikamar.

"Oh ini, sini kamu!" ucap Mama Mia, ia langsung menghampiri Devin yang masih terkejut. Sontak Devin menyilangkan tangan nya di dada. "Kenapa?hah!" ucap Mama, ia langsung menarik tangan Devin, yang di tarik malah diam saja. "Kamu pikir, kamu dapet restu saya?hah!" ucap Mama.

"Maaf Tan." lirih Devin, ia juga tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Mia langsung menarik tangan Devin yang dikuasi Mama nya itu.

"Udah Ma, Mama apaan si!" ucap Mia, kini Devin dibelakang punggung nya.

"Udah, kamu bilang? Kamu diem aja saat dia merusak kamu Mia?!" bentak Mama nya ia tak menyangka anak nya seperti itu.

"Iya, Mia diem aja, Mia nikmatin!" lontar Mia prustasi. Kenapa juga harus ada Mama nya? Dari mana dia tahu alamat nya?

Plakkkk...

Mia mengelus pipi nya, Mama nya berhasil menampar nya, rasa panas menjalar diseluruh pipi kiri Mia, sakit nya tembus sampai hati nya.

"Saya bisa jelasin, tante mohon jangan melakukan kekerasan. Ini semua bisa dibicarakan baik-baik." jelas Devin, ia mengusap punggung Mia.

"Jangan ikut campur kamu! Dia anak saya!" ucap Mama nya.

"Tapi dia istri saya." cetus Devin, ia juga tak suka jika Mia disakiti seperti barusan.

"Oh, pantas saja anak saya jadi seperti ini, ternyata suami nya memang tidak berpendidikan." lontar Mama nya, ia menatap Devin tak suka, ia rasa Mia otak nya di cuci oleh Devin.

"Maaf tante, saya minta maaf sebesar-besar nya. Tapi saya menikahi Mia, karena saya ingin bertanggung jawab, dan jika saya menunggu kedatangan tante, itu akan lama." jelas Devin tenang, Mama nya tak percaya dengan ucapan Devin barusan, ia menganga, dengan tenang nya Devin menjelaskan hal yang begitu besar.

"Kamu pikir setelah kamu merusak nya, kamu bisa menikahi nya?hah!" ucap Mama, ia masih dengan tatapan sinis pada Devin. "Punya apa kamu menikahi anak saya? Apakah pekerjaan kamu bisa menjamin anak saya? Apa dia bahagia? Jangan sok kamu, kalau uang saja masih minta ibu kamu!" ucapnya.

Devin menghela nafas nya, ia sekarang mengerti sepertinya Mertua nya itu sangat tidak mengetahui apapun.

Mia yang sudah panas mendengar perkataan pedas dari Mama nya itu, ingin ikut bicara, namun Devin menahan nya, cowok itu menggenggam tangan nya erat, dan menatap lekat mata Mia, ia menggelengkan kepala nya, menyuruh agar Mia diam saja.

"Siapa orang tua kamu?" tanya Mama lagi. "Jawab! oh apa kamu gak punya orang tua?hingga kamu menjadi lelaki tak berpendidikan." lontar Mama, Mia menganga tak percaya dengan ucapan Mama nya, bagaimana jika Devin marah, ia melirik melihat ekspresi wajah Devin, namun tetap saja, cowok itu tenang, dan masih tersenyum.

"Saya Devin, saya Dokter, kebahagian seperti nya tidak bisa di ukur oleh uang, karena mood Mia kadang jelek dan itu tidak bisa di beli dengan uang, lagi pula saya direktur dirumah sakit tempat saya kerja." jelas Devin dengan senyuman nya. "Saya masih mempunyai orang tua, mereka selalu mendidik saya, saya memang salah tapi tidak dengan kedua orang tua saya." ucap Devin lagi. Sang Mama yang mendengar nya menganga tak percaya, info yang ia dapat, cowok yang merusak anak nya itu masih kuliah, begitupun Mia ia baru tahu kalau suami nya itu direktur di rumah sakit.

"Siapa kamu?" tanya Mama nya lagi, ia tak percaya bahwa Devin yang merusak anak nya. "Bukan kamu kan ayah dari anak itu? tanya nya sambil melirik perut Mia.

"Iya Ma, bukan Devin ayah dari anak ini, Mama tahu laki-laki brengsek yang ingin Mama hina itu, dia sama sekali gak mau tanggung jawab Ma." lirih Mia, matanya sudah berkaca-kaca. Mama nya langsung merasa sangat bersalah pada Devin, bukan kah seharus nya ia berterima kasih pada lelaki dihadapan nya itu.

"Devin kamu..."

"Iya tante, maaf Devin gak menunggu persetujuan tante." potong Devin.

"Maaf Nak, Mama gak tahu, jangan panggil tante." Mama nya langsung memeluk Devin, Devin menganga ia kaget, ia juga tak bisa bergerak, saat ini ia hanya memakai handuk, bagaimana jika melorot.

"Iya Ma." ucap Devin singkat dan melepas pelukan mertua nya itu. "Maaf Ma, Devin harus memakai baju dulu." pamit Devin membawa baju nya dan masuk lagi ke kamar mandi. Mia tak kuasa menahan tawa dari tadi, pasti Devin tak nyaman, pikir nya.


Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang