11.😊

5.7K 242 12
                                        

Mia dan Mama nya sibuk mengobrol dari tadi entah apa yang mereka obrolkan. Devin hanya bisa menyimak dengan catatan nya yang menumpuk, banyak sekali pasien setiap hari nya membuat nya harus berkerja keras.

Sedangkan Mia, yang tadi nya bertengkar agak hebat dengan Mama nya, kini asik menonton flm yang sempat ia tinggalkan beberapa hari lalu.

"Devin." ucap Mama menghampiri Devin.

"Iya Ma?" ahut Devin.

Devin agak was-was takut mertua nya ngamuk kembali, namun tidak setelah ia melihat sorot mata wanita paruh baya itu.

"Are you okay Ma?" tanya Devin, ia agak tak nyaman saat melihat mata sang mertua berkaca-kaca.

"Makasih ya, nak." ucap Mama, entahlah rasa nya katakata itu tak cukup untuk membalas pertanggung jawaban Devin, yang besar.

Devin menghela nafasnya, ia tak tahu harus menjawab apa, udah berapa kali ibu mertua nya itu berterima kasih, bagaimana jika ia mengecewakan nya, karena tak sepenuh nya Devin juga ingin menikahi Mia.

"Ma, aku gak sebaik yang Mama kira, dan aku gak seburuk yang Mama pikir." tutur Devin, ia takut salah bicara.

"Mama titip Mia, hanya kamu yang bisa tanganin dia." ucap Mama. "Harapan Mama ada pada kamu, Mama selalu berterima kasih sama kamu." lanjutnya.

Rasa nya untuk menelan saliva saja sulit saat ini, segitu percayakah? Mertua nya. Entahlah Devin hanya bisa tersenyum, ia harap juga semua nya berjalan lancar.

"Pada ngobrol apaan si? Serius banget." ucap Mia yang baru datang.

"Apa si, suka main nyosor aja gak nyambung." cetus Mama nya dan pergi bergitu saja, membuat Mia takut saja, Mama nya cukup emosional sebagai ukuran orang tua.

Mia tersenyum ria saat mendapati Devin, yang terlihat pusing.

"Lagi apa yang?" tanya Mia dengan seringai yang mengerikan di mata Devin.

"Yang yang, dipikir cenayang." cetus Devin sambil membereskan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.

"Istri soswet malah di gituin, dasar kertas aja terus yang di urusin, perasaan gue di anggurin mulu deh, belum pernah tuh gue di peluk, dicium, digada..."

"Udah?" potong Devin.

"Apa?" Mia mulai ngegas.

"Ngomong nya, sana tidur." ucap Devin, Mia hanya berkacak pinggang, rasa nya menyebalkan. Bagaimana bisa Mia mengenal cowok itu lebih dalam kalau orang nya saja seperti singa, sulit di dekati.

"Gue gak mau tidur, kalau lo gak tidur." ucap Mia, ia tak mau kalah.

Tanpa banyak kata-kata Devin langsung menggendong Mia, ia sudah lelah berdebat dengan cewek itu, Mia berontak, pikiran nya sudah jauh melayang.

"Lo mau ngapain?hah!" Mia terus memukul dada Devin. "Eh, inget gue lagi hamil." ucapnya.

Devin tak menjawab ia tak peduli dengan ocehan Mia, ia membaringkang Mia. "Tidur." ucapnya, lalu menarik selimut untuk menyelimuti Mia. "Gak baik gadang." lanjutnya.

Jantung Mia rasa nya mau berhenti saja, jika Devin terus memperlakukan nya seperti ini. Tak lama kemudian kamar menjadi gelap, Devin sudah mematikan lampu. Siapa lo sebener nya Vin? Datang tiba-tiba, dan langsung buat gue senyaman ini. Batin Mia.

Mia terus menatap punggung yang saat ini semakin menjauh, rasa nya ia tak mau Devin meninggalkan nya, ia ingin laki-laki itu ada disamping nya saat ini, kenapa ia dipertemukan dengan cara yang tak biasa? Kenapa ia harus menjaga jarak dengan Devin? Ia bahkan tak pernah tidur bersama? Mia terus bertanya pada diri nya sendiri. Terkadang ia merasa menyedihkan karena menjadi wanita yang tak jelas menikahi pria yang melamar nya mendadak.

Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang