Bunga yang paling bagus, akan pertama kali dipetik dibanding yang lainnya.
_anonim_
_______________
Keringat terus membasahi pelipis nya, Mia berusaha menahan sakit diperut nya, namun Mia tak henti-henti menghubungi Devin, bahkan ini sudah hampir panggilan ke tiga pulih empat.
"Jawab lah Vin, aku ingin mendengar suara mu...mungkin untuk terakhir kali nya." lirih nya menatap nanar layar ponsel nya.
"Mi, bersiaplah, pukul dua belas, kamu akan segera melakukan operasi." ucap Arif yang baru saja datang.
Mia menyimpan ponsel nya, fokus nya beralih pada Arif.
"Kamu yang akan melakukan nya kan?" tanya Mia. Arif menggeleng lemah. "Aku hanya ingin melakukan operasi, jika dokter nya kamu." lanjut Mia kekeh.
"Bagaimana bisa Mi, aku melakukan hal yang akan menyakiti mu." ucap Arif kalut.
"Apa ada masalah lagi pada fisik ku?" tanya Mia ragu. "Apa keadaan ku semakin memburuk?" tanyanya lagi, Arif masih diam, ia terlalu berat untuk menjawab.
Mia mengerti jika Arif diam berarti jawaban nya adalah 'iya'. Mungkin sampai hari ini dimana titik terakhir perjuangan nya. Mia tersenyum tipis, ia mungkin akan siap dengan segalanya.
"Lihat aku Rif." titah Mia, Arif mendongak kan kepala nya. Ia menatap manik mata milik Mia. "Tetap diam." ucap Mia. Arif mengangguk dan tetap diam, Mia memandangi Arif lekat, setalah lima menit berlalu Mia langsung mengedipkan matanya. "Sudah." ucapnya.
Arif mengerutkan kening nya.
"Aku ingin melihat wajah mu lebih banyak lagi, ah mungkin saja kan, ini yang terak..."
"Berhenti disana. Jangan katakan lagi, apa kamu benar-benar berpikir seperti itu." potong Arif yang sudah tahu kemana ucapan Mia.
Arif sudah berusaha mati-matian, agar menyingkirkan pikiran itu, namun dengan enteng nya Mia berkata seperti itu, seakan gadis itu benar-benar akan menyerah.
"Aku ingin keluar, melihat taman disini." ucap Mia. Memang selama seminggu ini Mia merasa bosan, ia hanya melihat langit-langit rumah sakit. "Dan, aku sangat merindukan Bian, apa dia baik-baik saja?" tanya Mia.
"Tentu. Tapi terkadang Bian rewel, mungkin itu karena ia sangat merindukan Mama nya." tutur Arif. Mia diam sejenak.
"Aku ingin melihat nya, apa tak apa jika Bunda membawa Bian kesini?" ucap Mia. Arif langsung berdiri dari duduk nya.
"Ayok kita ketaman. Dan aku akan menghubungi Bunda, untuk membawa Bian kesini." ucap Devin. Mia tersenyum manis, ia senang.
Akhirnya Mia bisa menghirup udara segar, Arif mendorong Mia dikursi roda dengan hati-hati. Senyum terukir manis dibibirnya, saat melihat Mia yang begitu senang.
"Ah, kau tahu? Ini sangat segar sekali." Mia merentangkan tangan kurus nya itu.
"Hm, apa kamu sangat senang?" tanya Arif, Mia mengangguk cepat. Arif terkekeh, saat melihat ekspresi lucu Mia.
Suasan pagi ditaman rumah sakit memang menyegarkan, karena masih belum banyak orang yang berlalu lalang.
Sejujurnya, Mia sangat kesakitan dibagian perut nya, namun jika ia mengatakan pada Arif, dapat ia yakini mungkin saja operasi nya bukan pukul dua belas nanti, tapi sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romance"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)