Saat ini Mia sudah bisa beraktifitas seperti semula lagi, cuman ia juga tetap berhati-hati, dalam mengonsumsi makanan, dan Devin melarang nya melakukan hal-hal yang berat.
"Bi, nanti siang aku mau keluar." ucap Mia, ia tengah melipat baju Bian. "Nanti aku titip Bian ya." ucap Mia.
"Iya Neng, siap." ucap Bi Titin.
Mia segera menyelesaikan, lipatan terakhir. Bi Titin sengaja menjemur Bian, panas dipagi hari sehat untuk bayi.
"Yaudah Bi, aku mandi dulu." Mia segera masuk kekamar mandi, membiarkan Bi Titin yang tengah mengasuh Bian.
Hanya butuh waktu beberapa menit, Mia sudah selesai mandi, hari ini Mia akan mendatangi cafe yang menghubungi nya kemarin, Mia akan bekerja sebagai pelayan disana, kemarin Iren yang mendaftarkan nya, jadi Mia tak perlu susah-susah mencari pekerjaan. Yah, ia akan bekerja di Cafe milik orang tua Iren.
"Bi, aku berangkat."
Sebelum pergi ia mengelus kepala Bian dan mencium pipi gembul anak nya itu.
"Bye..jangan rewel, Bi Titin nanti kecapek an." ucap Mia menasehati sang anak.
Mia pergi menaiki angkutan umum, ia tampak seperti seorang gadis yang belum punya anak. Wajah dan tubuh nya terawat, wajar saja ia seperti perawan.
Sesampai nya di cafe, Mia segera menemui manager nya.
"Siang Pak, saya Mia, yang anda hubungi kemarin." ucap Mia ia menjabat tangan sang maneger.
"Iya kenalkan saya Toni maneger disini, kamu bisa mulai kerja sekarang." jelas Pak Toni.
"Baik Pak, terima kasih." ucap Mia semangat.
"Jika kamu ingin menanyakan sesuatu, bisa pada kariyawan yang lain, nanti saya kenalkan pada yang lainnya. Jangan sungkan disini." ucap Pak Toni. Mia mengangguk dengan senyuman mengembang nya.
Mia tak memberi tahu Devin, jika ia bekerja di Cafe. Ia tak mau Devin melarang nya, lagipula Devin tidak akan tahu, dia pulang palingan pulang pukul lima, sedangkan Mia pukul tiga.
Mia merasa bersyukur saat ini Devin suka pulang kerumah, dan jarang keluar, tapi Mia tetap waspada, ia tak akan terjerumus janji-janji Devin yang sangat menyebalkan. Bisa saja Difa merencanakan sesuatu saat ini.
__________
Ruangan bernuansa putih ini, terkadang membuat Devin pusing, apalagi saat dokumen-dokumen menumpuk dimeja nya, itu sangat menguran tenaga.
Devin harus merekap data kesehatan setiap pasien dibulan ini. Ia memijit pelipis nya yang terasa pusing.
"Sayang, ayo makan siang dulu." ucap Difa yang sedari tadi memang menunggu di sofa, ia mengerutkan wajah nya, kesal karena Devin mencuek kan nya. "Aku bilang Papa ni, kamu diem terus kayak gini." ucap Difa, ia mencibikan bibirnya.
"Iya, apa?" tany Devin, ia menghampiri Difa, dan ikut duduk disamping nya.
"Ayo makan, aku laper." rengek Difa manja, Devin mengelus kepala Difa, dan menarik kedalam dada nya, agar Difa bersandar dada nya, biasa nya ia melakukan ini pada Mia.
"Bentar lagi ya, aku beresin dulu kerjaan aku." bujuk Devin.
"Aku akhir-akhir ini, gak ada waktu buat aku Vin, kamu juga jarang makan malem bareng aku, emang nya Mia udah ambil posisi aku ya dihati kamu." ucap Difa, dengan nada yang sendu, seakan dia yang tersakiti disini.
"Oke, aku minta maaf, malem ini aku temenin kamu makan." ucap Devin, ia tak mau mendengar rengekan Difa lagi.
"Janji?" tanya Difa.
"Hmm, jadi sekarang kamu pulang aja, aku mau beresin pekerjaan aku dulu." ucap Devin. Difa tersenyun puas, akhirnya Devin luluh juga.
Sedangkan ditempat lain Mia tengah mengelap meja, sebentar lagi ia akan pulang, ia sudah merindukan Bian, takut Bian rewel juga, ia takut asi yang tadi pagi ia peras sudah basi.
"Pak, tugas saya sudah selesi. Boleh saya pulang Pak." ucap Mia, sesekali ia mengelap pelipis nya yang berkeringat.
"Iya, terima kasih ya, hari ini kamu sudah bekerja keras." ucap Pak Toni. "Yaudah sana pulang, hati-hati dijalan." lanjutnya.
Mia mengangguk kan kepala nya, dan segera masuk keruang ganti, tidak mungkin ia pulang mengenakan baju kerja, itu dapat mencurigakan.
Mia segera pulang, ia lupa Mama nya akan datang hari ini, karena waktu itu penerbangan nya di cansel jadi hari ini lah Mama nya datang.
"Sial." umpat Mia, ia menatap langit yang gelap. Dari pada lama menunggu angkutan umum, Mia segera naik TAXI.
Selama perjalanan, Mia membuka ponsel nya, ia dapat melihat Mama nya yang mengomel disetiap pesan.
"Ck, apa dia tak sadar diri, dia juga melupakan aku." cibir Mia tak suka, saat membaca pesan Mama nya yang bilang, ia menelantarkan Bian.
Akhirnya ia sudah sampai, setelah membayar TAXI, Mia segera masuk kedalam rumah nya.
Kosong, itu yang Mia simpulkan saat masuk rumah.
"Bi!" teriak Mia, barulah Bi Titin datang dari arah dapur.
"Iya Neng." ucap Bi Titin terburu-buru.
"Ada Mama saya kesini?" tanya Mia langsung.
"Oh, nyonya ada dikamar Neng, dia lagi sama Den Bian." ucap Bi Titin. Mia langsung melesat pergi ke kamar.
Tampak Mama nya tengah mengelus pipi Bian yang tengah tidur.
"Jangan dielus terus Ma, nanti anak aku iritasi." ucap Mia ia menghampiri Mama nya.
"Kamu itu kalau datang salam, bukan nya marah-marah kayak gitu." ucap Mama, Mia hanya menyengir kuda. Lalu mengecup pipi Mama nya, dan memeluk nya erat.
"Hey, are you okay?" tanya Mama nya, Mia mengangguk, ia hanya ingin memeluk Mama nya, ia merindukan Mama nya. "Jangan terlalu erat Mama sesak." ucapnya.
Mia sontak melepas pelukan nya. "Anak nya lagi kangen tahu." ucap Mia ia mencibikan bibirnya.
"Iya, seorang anak yang udah punya anak. Mama gak nyangka akan punya cucu secepat ini Mi, cucu Mama ganteng banget lagi." lirih Mama, ia menatap sendu kearah Bian, tatapan sayang nya sangat lembut, sama seperti saar ia memandang Mia.
"Iya dong." ucap Mia.
"Kamu bau, dari mana kamu? Udah punya anak aja masih aja kelayapan." cibir Mama nya, lagi-lagi Mia nyegir.
"Mia butuh udara segar Ma, jadi tadi main dulu sama yang lain." ucapnya bohong.
"Awas aja, main lagi, Mama ambil alih hak asuh Bian, biar Mama yang urus." ancam Mama.
"Oke." ucap Mia, untung besok bukan jadwal nya bekerja, jadi ia bisa meneruskan kebohogannya. "Mia mandi dulu ya, Ma." ucap Mia, ia segera masuk kedalam kamar mandi.
Mama membuka ponsel nya, ia mengambil potret Devin yang tengah bersama wanita, ia sempat curiga pada menantunya, namun segera ia buang jauh-jauh, ia tak mau salah paham lagi. Ia percaya pada Devin, menantu nya tak akan mengkhianati Mia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romance"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)