36.😊

5K 209 18
                                        

Akhir-akhir ini Mia merasakan pening yang hebat, napas nya sering kali sesak. Bahkan ia sering mual-mual tak karuan, mungkin ini akibat karena terlalu sering ia keluar.

Iren bilang bahwa bisa saja ia hamil kembali, tapi Mia tak percaya karena sudah tiga minggu ia menstruasi, memang tidak wajar, seharus nya ia menstruasi paling lama sepuluh hari, makanya Mia yakin bahwa tidak hamil.

Mia juga sering demam, tubuh nya terkadang selalu mengigil tiba-tiba, membuat nya harus membiarkan Bian tidur bersama Bi Titin. Jangan tanyakan keberadaan Devin, karena Mia sudah tak peduli, ia sudah mati rasa. Mau Devin ada atau tidak kahidupan Mia tetap saja seperti ini.

Ia menarik selimut nya, menutupi seluruh tubuh nya, udara sangat dingin, pikir nya.

"Mia." tegur Devin diambang pintu. "Ada yang harus aku bicarakan." ucapnya.

Mendengar itu terpaksa Mia duduk untuk mendengar lebih jelas apa yang akan dibicarakan Devin.

"Bicaralah." ujar Mia cuek.

Devin berungsut duduk disamping Mia.

"Mari ulang dari awal." ucap Devin lembut. "Maaf aku sering menyakiti perasaan kamu. Aku berjanji akan memulai lagi dari awal." ucap Devin.

"Jika kamu berjanji untuk diingkari, lebih baik cabut dari sekarang." ucap Mia ia berdecih pelan. Devin menghela napas nya berat, ia benar-benar akan meninggalkan Difa.

"Sudahlah lagi pula aku sudah memaafkan mu." ucap Mia. "Dan yah, jika kamu benar-benar bisa berubah, maka hanya perlu buktikan saja, aku tak perlu yang lain nya lagi." ucap Mia, ia tak begitu yakin dengan pernyataan Devin, tapi Mia akan mencoba untuk percaya kembali.

"Akan aku buktikan." ucap Devin tegas, ia berdiri dan pergi begitu saja. Mia hanya menatap kosong pada pintu yang sudah ditutup oleh Devin.

___________

Devin mendatangi rumah Difa, ia tak menghubungi gadis itu terlebih dahulu.

Devin tak mengetuk pintu ia langsung masuk karena pintu tak dikunci.

"Sayang, kamu datang tak bilang-bilang!" pekik Difa kaget saat Devin datang menghampiri nya.

"Hmm." gumam Devin, sebenar nya Devin malas bicara dengan Difa tapi kali ini perlu, bayangan Difa yang dengan tega selingkug dibelakang nya membuatnya muak, ia merasa dikhianati bagaimana bisa Difa melakukan itu setelah Devin melakukan apa saja yang gadis itu mau.

Namun seperti nya Difa tak tahu kalau Devin sudah tahu semuanya. Ini seperti dejavu apa yang Mia lakukan di lakukan juga oleh Devin saat ini, beda nya Devin berniat meninggalkan Difa, karena bagi nya dikhianati adalah penghinaan yang besar.

"Mari kita akhiri hubungan ini." ucap Devin, Difa tersentak dengan ucapan Devin yang tiba-tiba. "Hubungan tidak sehat, tidak bisa dilanjutkan lagi." lanjutnya tegas. Difa masih mencerna ucapan Devin.

"Apa wanita jalang itu menghasut mu?!" desis Difa tak suka, matanya penuh kilatan kemarahan.

"Tidak." tukas Devin. "Dan perlu kamu ingat, dia masih istri ku, dan bukan jalang." lanjutnya. Difa mendengkus tak terima, baginya Devin adalah milik nya, dan akan terus seperti itu.

"Aku tidak mau, aku mencintai mu tulus Vin." ucap Difa, ia mengeluarkan air mata buaya nya, Devin memutar matanya malas, betapa buta nya ia dulu saat mau saja menduakan Mia dengan wanita seperti Difa.

"Itu terserah padamu, aku sudah memutuskan untuk berakhir." sinis Devin tak peduli. "Jangan pernah hadir dikehidupan ku lagi, nikmati saja hubungan mu dengan lelaki selingkuhan mu itu Fa." Devin memberikan ekspresi datar nya saat Difa menganga, Devin yakin Difa sadar akan kesalahan nya saat ini.

"Kamu salah paham, aku enggak pernah menduakan kamu Vin." cicit Difa tak terima, ia menarik tangan Devin menggenggam nya erat.

Devin diam, ia ingin mendengar pembelaan Difa selanjutnya.

"Vin kamu harus percaya sama aku, aku berani sumpah, selama ini cuman kamu, dan kamu satu-satu nya." ucap Difa ia menatap lekat mata Devin yang masih manatap kosong kedepan.

Tak lama kemudian, Devin menepis tangan Difa, ia menatap Difa sangat lekat.

"Cari kebahagia an lain, sudah cukup aku menyakiti Mia, selama ini dia tidak tahu apa-apa, dia tak bersalah." ucap Devin datar. "Berhenti sampai disini, jangan melampaui batas mu lagi Fa, kita sudah berakhir." Devin melengos pergi tanpa mau mendengar lagi alasan menyebalkan dari mulut Difa, ah, betapa bodoh nya Mia bertahan saat tahu bahwa dirinya selingkuh, apa Mia tak hancur, jujur saja ini sangat menyakitkan.

Rasa nya Devin ingin sekali mengubur Difa hidup-hidup, namun ia masih waras untuk melakukan hal gila itu.

Ia segera pulang, ia ingin meminta maaf pada Mia, walau ia tahu kata maaf tak cukup mengonati hati Mia yang sangat terluka, luka nya bahkan mungkin sudah dalam, sampai tak terlihat.

Saat pulang ia disuguhi dengan pemandangan yang lumayan membuat nya jengkel, ada Aldo yang tengah menimbang-nimbang Bian ditemani Mia.

"Kamu mau makan?" sambut Mia dengan riang. Devin mengangguk.

"Aldo, biarkan Bi Titin aja yang mengasuh Bian, kamu ayo bergabung makan. Sudah lama bukan kita tak makan bersama." ucap Mia, Aldo segera mengikuti ucapan Mia, dan duduk manis dimeja makan, berhadapan dengan Devin, yang nampak nya tak suka pada diri nya yang ikut bergabung, namun Aldo cuek saja, wong Mia yang menawari nya toh.

Mia menghidangkan makanan yang baru saja ia panaskan.

Tak ada obrolan yang menemani makan, hanya ada suara dentingan sendok dan garfu yang saling beradu, Mia tak berniat memulai pembicaraan, ia tak mau, apalagi melihat mood Devin yang sangat buruk seperti nya.

"Aku selesai." Aldo berdiri dari duduk nya. Ia mengelap mulut nya dengan tisu.

"Cepat sekali, apa masakan nya kurang enak?" tanya Mia.

"Terlalu enak, aku pikir jika tidak berhenti sekarang, aku tak akan bisa berhenti nanti." ucap Aldo. Devin hanya diam, mendengarkan saja.

"Cih, berhenti bertingkah berlebihan." cibir Mia.

"Kalau tak percaya tanya saja, suami mu itu. Aku yakin dia sering rindu rumah, karena memiliki istri cantik dan pintas memasak." ucap Aldo, Mia melirik Devin sebentar, cowok itu masih sibuk dengan makanan nya. "Benarkan, Dokter Devin, anda pasti sangat merindukan rumah jika sedang bekerja. Beruntung sekali, mari tukar posisi." ucap Aldo tenang, seakan itu hanya lelucon, namun entah kenapa Devin merasa tersinggung dengan ucapan Aldo, selama ini Devin selalu mengabaikan Mia.

Bahkan ia jarang pulang kerumah, ia pulang hanya ingin melihat Bian.

"Cepat pulang, jika sudah selesai." ucap Devin nada bicara nya agak sinis.

"Ah, tidak usah cemburu. Karena mau bagaimana pun aku mengejar istri mu itu, dia akan tetap memilih suami nya." Aldo segera pergi menuju ruang tamu, ia ingin menggendong Bian lagi.

"Aldo tamu Vin, aku mau kamu bersikap sopan padanya." tegur Mia tak suka.

"Dan seharus nya tamu juga sopan pada tuan rumah." ucap Devin tak mau kalah.

"Tapi apa salah Aldo? Dia hanya memuji masakan ku." desis Mia, Devin langsung menyelesaikan makan nya, ia sangat tak suka saat Mia membela orang lain. Ah, menyebalkan.

Sedangkan Aldo asik mengajak Bian mengobrol, bohong jika Aldo tidak tahu apa-apa dengan masalah Mia, ia sudah tahu sekitar satu minggu yang lalu, itu karena Aldo sendiri yang telah bertemu Difa tanpa sengaja.

Awal nya Aldo bersikap baik, ia ingin melupakan pengkhianatan Difa padanya, namun Difa malah mengingatkan nya kembali, dan menceritakan hubungan nya dengan Devin. Cih, saat tahu Devin berkhianat rasa nya ingin sekali ia menghabisi Devin saat itu.

Namun melihat Mia yang sangat bertahan Aldo urungkan, ia lebih baik diam, ia tak berhak mencampuri urusan orang lain, walau sekalipun Aldo masih peduli pada Mia.


Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang