2.😊

13.4K 461 32
                                        

Hari ini sangat menyebalkan bagi Mia karena ia harus naik lantai empat demi mengikuti praktek. Yang lebih sial nya lagi, hari ini Mia terlambat bangun.

"Ahh..anjing!" umpat Mia saat sampai depan pintu lab.

Mia masuk dengan santai nya, dengan rasa tak berdosa karena telat. Semua teman-teman nya sudah terbiasa dengan sikap Mia yang seperti ini.

Mia langsung memakai jas labolatorium, dan mengambil bahan-bahan yang sama sekali ia tidak tahu untuk apa, bahkan Mia kurang pintar dalam mengenali zat-zat kimia.

"Ahhh...!" cicit Mia saat salah satu Zat tumpah mengenai tangan nya.

"Diem." ucap seseorang, ia langsung melakukan P3K. "Kenapa anda tidak memakai APD?" tanya cowok itu sambil membawa Mia agar menjauh dari cairan.

"eh mana gue tahu, kalau gue bakalan kena zat-zat sialan itu." gerutu Mia.

cowok itu membawa Mia menuju wastafel dan membasuh tangan Mia, ia tak mengubris perkataan Mia tadi.

Cowok itu mengernyitkan kening nya saat tak sengaja menyentuh denyut nadi Mia, dan melanjutkan aksi nya, ia memeriksa denyut nadi Mia kembali. Ia menatap wajah Mia yang pucat.

"Anda tengah mengandung?" celetuk cowok itu. Namun ia tak mau lagi melanjutkan nya, ia langsung membantu Mia melepas jas yang takut nya terkontaminasi.

Perkataan cowok itu membuat Mia diam, apa benar? Tidak Mia tak ingin percaya itu.

Mia menarik tangan nya kasar. Ia menepis tangan cowok itu. "Kalau ngomong tuh, hati-hati ya, gak usah ngadi-ngadi lo!" ketus Mia dan melenggang pergi.

Karena Mia takut terjadi apa-apa dengan tangan nya. Ia langsung pergi ke rumah sakit. Sekalian ingin memastikan omongan cowok tadi.

Setelah menunggu antri lama akhir nya nama nya di panggil. Mia cukup gemetar ia takut dengan kebenaran nya.

"Baik, tolong ya anda tiduran bentar." ucap sang dokter.

Mia mengangguk dan menuruti perkataan dokter.

Dokter tersenyum saat memeriksa perut Mia. Lalu ia melepaskan stetoskop nya.

"Lain kali jangan pakai celana jeans lagi ya. Soal nya takut menghambat perkembangan pada janin." ucap dokter.

"Ma-maksud nya?" Mia mengerutkan kening nya.

"Apa anda belum tahu kalau anda tengah mengandung dan menginjak usia kandungan empat minggu." jelas dokter.

Ritme jantung Mia seakan naik, pikiran nya jauh pergi. Saat ini bernafas saja rasa nya sesak. Jadi benar ia hamil? Anak Aldo? Seluruh pertanyaan bergelut di otak nya.

"Mm..makasih dok." ucap Mia rasa nya sangat sesak saat mengatakan hal itu.

Saat keluar dari ruangan yang membuat nya merasa horor tadi. Membuat Mia rasa nya ingin teriak dan menjerit. Saat ini rasa nya dunia tengah mengutuk dan menertawakan nya.

Mia menangis sejadi-jadi di toilet. Ia sampai menjambak-jambak rambut nya. Ia pikir ia harus segera memberi tahu Aldo agar masalah ini cepat selesai, ia langsung menghubungi Aldo satu-satu nya orang yang dapat ia andalkan saat ini.

Tutt...tutt..tutt..

'Maaf panggilan yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungi, silahkan coba lagi nanti.'

"Kok gak bisa si." ucap Mia menelan air liur nya susah payah, ia berusaha menghilangkan prasangka negatif tentang Aldo dalam pikiran nya.

_______

Mia menunggu di luar ruang rapat. Karena Aldo tengah rapat. Mia sudah tak enak hati bahkan ia sudah beberapa kali gonta-ganti posisi duduk nya.

"Al." ucap Mia lirih saat Aldo baru keluar ruangan. "Ada yang mau aku omongin." lanjutnya.

"Apa?" tanya Aldo dan membawa Mia ketempat yang agak sepi.

"Aku hamil." celetuk Mia tanpa basa basi. "Aku hamil Al, aku hamil anak kamu." ucap Mia penuh penekanan di kata hamil.

"Kamu becanda kan?" ucap Aldo ia tertawa renyah. "Jawab aku Mi, kamu becanda kan!" lanjutnya mendesak.

"Al, aku gak pernah becanda dengan hal sepenting ini. Dan aku mau kamu tanggung jawab." ucap Mia ia memegang erat tangan Aldo.

"Gak bisa, gak bisa gini Mi, aku ini hanya seorang mahasiswa, aku seorang pelajar Mi." ucap Aldo prustasi, Mia kecewa dengan jawaban Aldo, Mia menggeleng tak percaya . "Atau kamu gugurin aja anak itu." ucap Aldo akhir.

Plakkk...

Mia menampar Aldo, ia benar-benar tak menyangka Aldo akan sebajingan itu.

"Brengsek!" cerca Mia. "Lo udah janji sama gue, dengan gampang nya lo nyuruh gue buat gugurin anak ini, lo denger baik-baik, gue bakalan pertahanin anak ini." ucap Mia akhir. Ia benar-benar kecewa, orang yang ia percaya selama ini telah mengkhianati nya.

"Lo harus nya sadar Mi, lo tuh cewek murahan, kenapa dulu lo mau?hah! Siapa tahu itu bukan anak gue, mantan lo kan banyak." ucap Aldo. Hati Mia benar-benar hancur, kaki nya serasa berubah menjadi gumpalan jelly yang tak bisa menopang berat badan nya.

Entah terbuat dari apa hati Aldo, ia melenggang pergi tanpa peduli Mia yang sudah terkulai di lantai dengan tangis nya, perkataan nya cukup kasar.

Mia memegang perut nya, ia semakin merasa kan sakit. Ini terlalu berat bagi nya.

Tanpa Mia sadari seseorang memakaikan jas pada tubuh Mia.

"Bikin nya dinikmati, giliran udah jadi di tangisin." celetuk orang itu. Mia tersadar dan melihat sumber suara itu. Betapa kaget nya Mia saat melihat cowok yang tengah berjongkok dan memandang ke arah nya.

"Lo..."

ucapan Mia bergantung saat cowok itu menggendong nya. "Gak baik buat cewek hamil tuh duduk dilantai yang dingin." ucapnya.

"Lepasin gue, eh lo jangan lancang ya." Mia berontak ia sampai menjambak rambut cowok itu. Saat cowok itu menggendong, Mia.

"Saya Devin." ucap cowok itu, ia mendudukkan Mia dikursi panjang.

"Gak nanya." ucap Mia ia memutar bola mata nya malas, kenapa harus ada orang yang tahu kalau ia tengah hamil, dan sial nya kenapa cowok ini, dia orang pertama yang tahu.

"Lo nguntit gue ya, kok lo tuh dimana-mana ada?" ucap Mia

"Dimana-mana? Perasaan emang saya dari tadi tuh ada di sini, cuman kamu sama pacar kamu tuh, gak tahu tempat, berantem dimana aja." ucap Devin.

"Jadi lo nguping?" tanya Mia. Devin hanya diam ia tak menjawab.

Mia menundukan kepala nya, rasa nya malu saat Devin mengetahui keadaan nya yang menyedihkan.

Mia melepas jas yang Devin pakaikan tadi, ia berniat pergi namun tangan nya berhasil Devin tahan.

"Gue yang bakal tanggung jawab." ucap Devin. Mia menganga tak percaya dengan perkataan orang di hadapan nya, Mia sama  sekali tak mengenal cowok itu bahkan ini baru pertama kali nya Mia melihat wajah nya.

"Lo pikir gue mau hah?!" ketus Mia.

"Gue pikir mau, karena gimana pun juga anak itu butuh seoarang ayah." ucap Devin.

Mia menghela napas, yang dikatakan Devin benar. Anak nya juga butuh seoarang ayah, dan juga ia tidak mampu jika harus hidup sendiri di saat seperti ini, tapi ia juga tak bisa langsung setuju karena Devin belum tentu orang baik.

"Saya dokter." ucap Devin simple membuat Mia semakin berpikir keras, segampang itukah seorang dokter mengajak menikah.

"Tapi..."

"Saya bukan pemaksa."  Devin bangkit dari duduk nya, dan mengambil jas nya.

"Gue setuju." ucap Mia akhir. Ia mengangguk pelan, mungkin ini jalan akhir dari permasalahan nya.

Married By Accident [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang