Menentukan pilihan
itu tidak sulit
Yang sulit adalah bertahan
Dengan pilihan kita.
_Mia_
Mia hanya diam membisu, air matanya sudah beku dengan dingin nya malam. Ia menatap langit yang sudah gelap, menyebutkan kata gelap, membuat nya sadar bahwa hidup nya sendiri sudahlah gelap. Pada akhirnya ia tak bisa pergi, ini salah, ini bukan diri nya.
Walaupun sudah malam, Mia tak mau masuk kedalam, ia lebih memilih diam di balkon. Ia tak sudi memandang wajah Devin untuk saat ini. Mia salah memilih, ia baru tahu sifat asli Devin, seharus nya dulu ia tak menerima ajakan Devin. Tapi dengan bodoh nya Mia mau, bahkan dihari pertama kali kenal, ia sudah mau, bahkan rasa sakit yang dibuat Aldo, tak sesakit saat ini, luka ini terlalu dalam.
"Neng." Mia tersentak saat ada yang menyentuh bahu nya, saat ia tahu siapa pelaku nya, Mia hanya diam. Bi Titin menghela napas nya berat, ia juga tak menyangka dengan sikap tuan nya, selama ini tuan nya sangat baik, dan tak terlalu banyak bicara.
"Neng, ayo masuk. Nanti masuk angin." ucap Bi Titin. Mia menggelengkan kepalanya lemah, ia rapuh saat ini. Dan yang lebih gila nya lagi, setelah Devin membawa Mia pulang, ia malah pergi seperti tak ada beban.
"Aku harus apa Bi?" lirih Mia.
"Bibi gak tahu, jujur jika Bibi ada diposisi Neng, Bibi juga akan sama dengan apa yang Neng lakukan, Bibi juga akan melakukan nya." ucap Bi Titin, ia menatap sendu dengan wanita dihadapan nya, walau tak ada ikatan darah, namun melihat Mia terpuruk membuatnya ikut tersakiti.
Sedangkan ditempat lain, Devin duduk dengan ditemani Arif teman nya. Ia menunduk tak tahu harus melakukan apa, apalagi Arif yang menonjok nya tiba-tiba saat ia ceritakan masalah yang tengah menimpanya. Arif masih menahan amarah nya, ingin sekali ia menghancurkan kepala Devin, ia ingin membongkar isi kepala teman nya itu, ia ingin tahu apa masih ada otak didalam nya.
"Lo bukan manusia Vin, lo iblis berhati setan." ucap Arif ia menggertakan gigi nya.
"Lo kenapa nyalahin gue?" ucap Devin.
"Terus gue harus nyalahin Mia?" Arif berdecih. "Lo pikir dong goblok. Lo yang selingkuh, dan lo juga yang gak mau Mia pergi." lanjut nya.
"Tapi..."
"Lo egois, kalau lo gak sayang, dan gak punya perasaan apapun dengan Mia, lo tinggalin dia. Lo tahu? banyak cowok yang masih mau menjadikan Mia ratu dihati mereka." potong Arif kesal. "Dan salah satu nya, gue sendiri. Jangan sampe gue rebut dia dari lo." Arif berdiri dari duduk nya. Ia menatap datar Devin yang masih diam. "Gue harap lo gak menyesal dikemudian hari Vin." Arif pun pergi meninggalkan Devin yang masih diam, tak bisa bicara apapun.
Devin hanya menangkap satu kata dari ucapan Arif barusan, bahwa sahabat nya menyukai istri nya sendiri. Entah kenapa rasanya kesal saat tahu itu, ia mengepalkan tangan nya, marah itulah yang Devin rasakan. Ia benci dengan pernyataan Arif barusan, ia tak suka jika Arif menyukai Mia.
__________
Mia mengobati luka Devin, ia tak bertanya lebih saat Devin mengatakan bahwa suami nya itu terjatuh, Mia pikir Devin tak kan pulang.
"Pelan-pelan." ringis Devin, saat tak sengaja Mia menekan luka nya. Devin pikir tonjokan Arif tak ada apa-apa nya, padahal lumayan juga.
Setelah selesai Mia membereskan peralatan P3K itu dan menyimpan ditempat semula, bohong jika Mia bilang ia tak khawatir, tapi Mia mencoba menutup untuk terlihat biasa saja.
Mia mengambil Bian, ia melangkah keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Devin.
"Aku dan Bian akan tidur dikamar sebelah." ucap Mia, ia tetap membelakangi Devin. "Istirahat, aku enggak mau Bian ganggu kamu, dia sedang rewel." ucap Mia lalu berlalu pergi.
Ini sudah pukul tiga dini hari, dan Devin baru pulang, Mia pikir cowok itu akan menginap di tempat wanita simpanan nya.
Mia akan melakukan apa yang ia inginkan sekarang, ia tak peduli dengan perasaan Devin, lagipula bukan kah Devin hanya kasihan padanya, maka oleh karena itu Mia bebas melakukan apapun, karena Devin tak kan peduli.
Ini sudah pukul lima tapi mata Mia masih saja terbuka, ia sama sekali tak mengantuk, namun mata nya terasa perih, ah, itu karena efek lampu yang sama sekali tak dimatikan.
Suara Bi Titin yang mencuci piring sudah dapat Mia dengar, ia yakin tak akan bisa tidur lagi, segera ia mandi, otak nya butuh kesegaran.
Cukup lama Mia berendam didalam air yang hangat, ia mencoba menenangkan pikiran nya dengan lilin terapi, akhir-akhir ini Mia terkena insomnia.
Setelah itu Mia bersiap untuk membantu Bi Titin, kepala nya terasa sangat berat, ini sudah biasa Mia alami, jadi dia tak ingin menghiraukan nya.
"Pagi Bi." sapa nya, membuat Bi Titin terlonjak kaget.
"Pagi Neng, udah cantik aja." ucap Bi Titin. Mia hanya tersenyum.
Mia mulai memotong sayuran, ia akan membuat sop ayam pagi ini.
"Bi tolong cuci daging nya ya." ucap Mia. Yang diangguki Bi Titin.
Mia kembali fokus dengan sayuran dam bawang-bawang yang akan ia campurkan dengan ayam nanti nya.
"Aws!" ringis Mia saat jari nya tak sengaja ter iris. Bi Titin langsung mengambil P3K, Mia membasuh jari nya yang mengeluarkan banyak darah.
"YaAllah Neng, hati-hati atuh." ucap Bi Titin, langsung saja ia mengeluarkan kapas untuk menghentikan darah yang keluar. Mia hanya diam ketika tangan nya tengah diobati, bahkan kejadian seperti ini sudah sering Mia alami, kelima jari tangan kanan nya saja sudah banyak bekas luka.
"Udah Neng, lain kali biar Bibi aja yang potong sayuran nya. Neng mah diem aja, ini jadi luka kan." cerocos Bi Titin, Mie tersenyum saat Bi Titin memarahi nya, ia merasa ada jiwa Mama nya dalam Bi Titin, lintasan bayangan masa lalu, saat Mia dilarang kedapur oleh Mama nya kembali berputar, ia dimarahi habis-habisan karena jari nya yang terluka.
Begitu berharga nya diri nya dulu, dinomor satu kan, dan tak dibiarkan terluka sedikit pun, seperti nya luka nya saat ini adalah bayaran karena waktu dulu ia dimanjakan.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Mia tak ingin bercerita pada Mama nya, karena ia takut Mama nya akan menyakiti Devin, Mama nya memang orang yang lembut dan penuh kasih sayang, tapi jika anak nya disakiti Mia yakin Mama nya akan bertindak.
Orang tua mana yang mau anak nya disakiti, Mia yakin semua ibu pasti akan melakukan apapun demi anak nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Roman d'amour"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)