Arif mengelus lembut kepala Mia yang bersandar dibahu nya, mereka sudah sangat dekat, Mia sering kali bercerita tentang hubungan nya dan Devin yang sudah membaik.
Mia merasa nyaman jika didekat Arif, entahlah rasa nya ada yang melindungi nya, ini memang salah, tapi ini sudah terjadi.
Mia merasa bersalah pada Devin, tak seharus nya ia begini, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terlanjur.
_______
'Plak'
Tamparan keras Devin dapatkan, Difa lah pelaku nya, ia datang kerumah Devin dengan emosi yang menggebu.
"Itu gak mungkin Fa." ucap Devin, ia mengelus pipi nya yang serasa panas, yang menjalar pada telinga nya.
"Aku hamil Vin!" Difa menaikan nada bicara nya.
"Tapi kita ga.."
"Apa?!" teriak Difa keras. "Kamu gak mau tanggung jawab! Cowok macam apa kamu Vin, wanita jalang itu saja yang hamil bukan anak kamu, kamu mau tanggung jawab." cerca Difa mata nya menyiratkan penuh kekecewaan, sedangkan Devin hanya diam menatap kosong pada gadis yang tengah meraung menangis pilu dihadapan nya.
"Kamu mau bayi ini tanpa ayah?" tanya Difa datar, mata nya masih meneteskan air mata. "Jawab?! Sialan!" teriak Difa tepat didepan wajah Devin.
"Oke, aku akan tanggung jawab." lirih Devin final, ia benar-benar gila telah mengambil keputusan besar dalam sekejap. Ia bahkan sudah berjanji pada diri nya sendiri tak akan pernah mengkhianati Mia lagi, tapi apa? Tuhan seakan memberi nya beribu ujian.
"Berhentilah menangis." Devin mendekap Difa, ia mengelus kepala wanita itu, tangan nya bergetar, Devin sadar ini salah, tak seharus nya ia begini.
Tanpa ia sadari diambang pintu, wanita yang tengah ia pikirkan sedang berdiri, dengan tatapan yang sulit diartikan. Mia hanya diam melihat adegan yang sudah lama ia tak lihat.
"Sulit." lirih Mia tanpa sadar, ia meremas martabak yang baru saja ia beli.
Mia melangkah memberani kan diri untuk menghampiri kedua manusia yang belum menyadari nya.
Kini Mia sudah sangat dekat dengan Devin yang masih membelakangi nya.
"Hm!" Mia berdehem agak keras, sontak membuat Devin melapas pelukan nya.
"Mi, kam..."
"Tidak usah terburu-buru Vin, aku akan denger alesan kamu." ucap Mia ia duduk disofa, yang diikuti oleh Devin dan Difa.
Difa hanya diam, ia seperti orang paling tersakiti saat ini.
"Gue hamil, jadi gue harap lo ngerti, karena lo pernah ada diposisi gue kan." ucap Difa tiba-tiba, Mia agak terkejut namun ia kembali lagi dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Devin rasa nya ingin mengubur diri nya saat ini.
"Menikahlah." singkat hanya itu yang bisa Mia ucapkan. Ia segera berdiri dari duduk nya, ah, hati nya mulai sesak kembali, ternyata tuhan belum selesai bermain-main dengan hati nya.
"Mia!" teriak Devin, namun Mia tak menghiraukan nya, ia lebih memilih masuk ke kamar nya.
"Kamu denger kan kata si jalang, dia nyuruh kita buat nikah." cetus Difa ia tersenyum sinis.
"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan." ucap Devin datar, ia segera menyusul ke kamar.
Devin mendapati Mia, wanita itu meringkuk menghadap jendela. Devin ikut membaringkan diri nya, Devin memeluk Mia dari belakang.
"Kenapa Mi?" tanya Devin lirih.
"Karena harus." jawab Mia datar, padahal hati nya sudah bergemuruh, ingin rasa nya ia menangis. "Bukan kah, dia hamil." lanjutnya.
Devin menggeleng kecil, ia ingin Mia melarang nya, ini sulit bagi nya.
"Larang aku Mi." ucap Devin.
"Tidak." tegas Mia. "Lakukan lah, ada nyawa yang membutuhkan mu." Mia bangkit ia mendudukan diri nya.
Devin pun ikut duduk, ia menangkup kedua pipi Mia, ia menatap lekat mata yang penuh kekosongan itu.
"Mi..."
"Dia lebih membutuhkan mu, aku pernah ada diposisi nya." potong Mia cepat. Devin kembali memeluk Mia, kenapa istri nya ini begitu munafik? Kenapa ia tak melarang Devin, kenapa Mia tak bisa segalak dulu pada Difa. Apa Mia menyerah?
"Aku tidak menyerah, hanya saja aku lelah." ucap Mia, seakan ia tahu isi kepala Devin saat ini.
Mia melepas pelukan Devin, ia masuk ke kamar mandi, bukan hanya hati nya yang gerah namun badan nya juga ikut gerah.
Di dalam Mia menangis dalam diam, sesak itulah yang ia rasakan, seperti nya Mia akan hanyak menangis mulai sekarang. Ah, penderitaan nya akan dimulai dari sekarang.
________
Cici mengepalkan kedua tangan nya, ia benar-benar marah. Bahkan dengan menampar kedua pipi Devin saja tak cukup, Cici ingin sekali memukul kepala yang menurut nya terdapat otak kecil.
"Hamil?" tanya Mama ia benar-benar terkejut dengan ungkapan Devin, kalau Difa tengah mengandung anak nya. Devin hanya menunduk ia tak berani menatap kedua mata Mama nya.
"Saya ingin Devin tanggung jawab, dan segera menikahi saya." ungkap Difa dengan tenang nya, seakan ini bukan lah hal yang besar.
"Bicth!" Cici menatap nyalang pada wanita yang tengah berdiri disamping adik nya itu. "Berhenti lah bermain-main dengan kehidupan adik ku sialan!" cerca Cici, ia muak dengan Difa rasa nya ingin sekali menerkam wanita itu.
"Waw! Apa ini Cici marah padaku?" sinis Difa tak tahu diri. "Bukan kah Cici sangat menjungjung tinggi harga diri, lalu jika adik mu ini tak tanggung jawab, dimana harga diri nya?" ucap Difa ia tersenyum culas.
"Cih persetan dengan harga diri, sekira nya kau gunakan otak dangkal mu itu, kenapa kau bermain dengan suami orang? Dimana harga diri mu? Apa karena kau sangat jelek, sehingga tak ada lelaki lajang yang ingin menjalin kasih dengan mu." cibir Cici, Difa merasa tertohok dengan pernyataan itu, ia mengepalkan tangan nya, ia tak terima jika harus direndahkan.
"Kau marah?" sinis Cici ia tersenyum remeh. "Ah, menikah lah. Tapi perlu kamu ingat aku hanya memiliki satu ipar, dan yah hari ini terima kasih, aku sudah kehilangan adik ku yang tersayang." ucap Cici menatap ke arah Devin, Devin juga menatap balik, dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan Mama hanya diam, ia memijit pelipis nya, keluarga nya sangat tidak baik-baik saja saat ini.
Cici pergi begitu saja, ia memutuskan kontak mata dengan adik nya itu. Cici merasa hidup nya akan cepat tua, jika harus terus-menerus marah.
Tak bisa dipungkiri ucapan Cici barusan sangat membekas dibenak Devin, begitupun Difa, cercaan Cici berhasil ngena pada mental nya.
"Pergilah, tanpa restu dari ku." lirih Mama ia pun pergi menuju kamar nya.
"Wah apa-apaan ini? Keluarga mu menolak aku?" gumam Difa ia tertawa renyah seperti orang gila.
Devin hanya diam, hancur sudah keluarga nya, bahkan ia tak yakin jika rumah tangga nya akan tetap damai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romansa"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)