Devin mengantar mertua nya ke bandara, karena akan kembali ke London.
Mia membutuhkan sosok ibu saat ini, tapi ia tak mau membuat ibu nya kecewa, ia tak berani menceritakan semua nya. Devin masih belum kembali, membuat Mia tenggelam dalam kesendirian. Gadis itu mengelus lembut perut nya, ada rasa sesak di dada nya saat mengingat dimana ia melakukan hal yang tak seharus nya ia lakukan.
"Mama bakalan jaga kamu." lirih Mia, ia tersenyum tipis, kata Mama membuat nya sadar kalau ia tak bisa menjadi wanita yang lemah untuk saat ini.
Tokk...tokk...tokk..
Mia segera bangkit dari duduk nya, ia yakin Devin sudah kembali. Dengan hati-hati Mia membuka pintu, tapi tidak, bukan Devin yang di balik pintu, melainkan manusia brengsek yang selalu membuat emosi Mia naik.
"Tahu dari mana lo, ini rumah gue?" ketus Mia, Aldo menghela nafas nya ia menatap lekat dua manik mata bening Mia.
"Ada yang mau gue omongin Mi." ucap Aldo. Mia tersenyum smirk, ia tak habis pikir dengan cowok yang ada dihadapan nya.
"Lima menit." ucap Mia singkat, Aldo yang mengerti maksud Mia langsung masuk kedalam tanpa dipersilahkan, Mia mendengkus kesal dengan kelakuan Aldo.
Mia duduk di hadapan Aldo, ia tampak malas untuk menatap bahkan melihat Aldo. Dengan tidak sopan tangan Aldo meraih tangan Mia, cowok itu menggenggam tangan gadis yang telag ia goreskan luka.
"Maafin aku Mi." lirih Aldo ia menatap Mia, namun Mia enggan untuk menatap balik, gadis itu memalingkan wajah nya. "Aku tahu aku salah, aku takut Mi, aku takut kalau aku akuin anak itu, tolong aku Mi, kamu ngertiin aku yang ada di posisi pelajar." tutur Aldo.
"Emang gue bukan pelajar?" ketus Mia ia menarik tangan nya, ia tak sudi tangan besar lelaki itu menyentuhnya.
"Oke, aku yang salah, aku minta maaf. Aku sayang kamu Mi, makanya saat itu aku saranin buat gugurin kandungan kamu, aku panik, aku gak bisa mikir jernih saat itu." jelas Aldo, ada rasa percaya di lubuk hati Mia, namun ia tak mau memperlihatkan nya. "Aku yakin kamu masih sayang sama aku, kamu gak pernah cinta kan sama suami kamu? Kamu masih cinta sama aku? Bahkan aku tahu kalau kamu saja tidak mengenal dia." ucap Aldo, mata Mia sudah berkaca-kaca, kata-kata Aldo berhasil menyentuh hati nya.
Aldo berdiri dan menghampiri Mia yang masih kalut dengan pikiran nya, Aldo dengan lancang nya memeluk Mia. Cowok itu mempeerat pelukan nya saat tak menerima balasan dari Mia, sedangkan Mia tak tahu harus apa, ia bingunng.
"Aku siap tanggung jawab Mi." ucap Aldo di sela pelukan nya. Mia terbelalak mendengar ucapan Aldo, apakah benar? Ia tak berbohong? Mia tak bisa berpikir jernih. "Aku siap ngebesarin anak kita." lanjut nya. Air mata Mia luruh ia tak bisa lagi menahan tangis, Aldo berhasil membuat nya dilema, kenapa tidak dari dulu laki-laki itu mengucapkan nya, kenapa sekarang ketika sudah ada seseorang yang disisi Mia, yang harus Mia jaga juga perasaan nya.
Suara langkah kaki terdengar dengan sadar Mia langsung melepas pelukan Aldo yang begitu sesak. Ia masih diam tak bisa bicara, seakan diri nya bisu, Aldo menatap Mia dengan penuh tanda tanya.
Dan benar saja yang Mia takutkan benar, Devin melenggang masuk. Sosok yang selalu menenangkan nya, masuk dengan santai dan tampak tak kaget saat melihat istri nya tengah bersama dengan laki-laki lain.
Aldo langsung menghampiri Devin. "Gue Aldo." ucapnya mengulurkan tangan kepada Devin, tapi Devin tak membalas uluran itu, cowok itu hanya menatap sekilas tangan.
"leave my house." ucapnya datar. Mia tak bisa menebak apa yang tengah Devin pikirkan saat ini, karena raut wajah Devin terlihat tenang, tatapan nya juga dingin.
"Oke, sorry gue kesini cuman..."
Belum selesai Aldo berbicara, Devin sudah terlebih dahulu pergi.
"Lo denger kan? Apa yang dibilang suami gue." ucap Mia ia menatap Aldo tajam. Aldo cukup sadar diri ia segera melangkah pergi.
Mia mengikuti Devin, ia masuk ke kamar, terdengar percikan air bertanda bahwa Devin tengah mandi. Sekilas terbayang scens dimana Aldo memeluk nya tadi, dan berkata akan bertanggung jawab.
Tatapan Mia kosong ia terus memandangi jalanan, sampai ia baru sadar kalau Devin sudah selesai mandi.
"Udah mandi nya?" tanya Mia ia tersenyum manis seperti biasa nya. Devin hanya mengangguk. "Lo udah makan belum? Tadi gu..."
"Udah." potong Devin singkat, ia seperti enggan untuk menanggapi Mia.
'Tadi gue udah masak tadi.' Batin Mia.
Devin sekarang sudah sibuk, ia berkutat dengan ponsel nya, entahlah, Mia tak mengerti ada apa dengan Devin, yang jelas Devin sangat aneh hari ini.
_______
Malam-malam Devin meminta Arif untuk menemaninya, bahkan ini sudah larut, ia masih enggan untuk pulang. Bayangan Mia yang berpelukan dengan cowok lain membuatnya kesal.
"Lo kenapa si?" tanya Arif sambil menyesap kopi hangat nya. "Kalau masalah pasien yang gagal operasi lagi, lo gak usah semerasa bersalah nya, itu kan kehendak tuhan." tutur Arif yang salah mengartikan kekesalan Devin.
"Misal ada cewek hamil, nah terus ceritanya lo suka sama tuh cewek, tapi si cewek suka sama cowok lain yang ngehamilin dia." jelas Devin hati-hati, Arif mengangguk-nganggukkan kepalanya mencoba mencerna ucapan Devin. "Nah, tapi lo tetep berjuang buat jagain tuh cewek, sampe lo nikahin, dan tentu nya lo nerima dia apaadanya, dan ternyata si cewek cuman manfaatin lo doang." lanjutnya.
"Terus?" tanya Arif.
"Apa keputusan lo? Kalau emang itu terjadi sama lo?" tanya Devin berharap jawaban Arif satu pemikiran dengannya.
"Ya tinggalin lah, udah mah buntil anak cowok lain, gak cinta lagi sama gue, ngapain gue pertahanin yang kaya gitu, kaya stok cewek dimuka bumi ini udah punah aja." celetuk Arif. Devin terdiam tak berkedip perkataan Arif sangat lah menusuk. "Gue tahu lo cinta sama dia Vin, tapi gak gitu juga konsepnya." cetusnya. Devin dibuat menganga olehnya.
"Maks..."
"Gue tahu ini tentang lo, gue tahu tentang cewek yang lo incer selama bertahun-tahun." potong Arif santai seperti tak membuat jantung orang akan keluar saja.
"Kenapa lo diem aja saat gue bohong." ucap Devin merasa malu sendiri.
"Gue mau nunggu aja, seberapa berani lo ngomong jujur sama gue." ucap Arif. "Gue kenal sama lo itu udah lama, ada yang salah sama lo, gue pasti tahu Vin, walau jujur pas lo nikah diem-diem tanpa ngasih tahu gue, itu rasanya nyutttt...sampe kedalam." ucap Arif yang diakhiri kekehan recehnya.
"Thanks lo udah peduli sama gue, sorry banget gak ngasih tahu lo tentang itu." lirih Devin.
"Ist okay, gue si fine-fine aja. Cuman lain kali, lo Jangan kaya gitu, jangan ngerasa kalau hidup lo tuh sendiri. Nih gunain sahabat lo." tegas Arif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident [END]
Romantizm"Ngandung anak hasil kondom bocor aja bangga." lontar Difa ia memalingkan wajah nya, seakan jijik melihat Mia. Mia berusaha tenang, ia mengepalkan tangan nya. wajah nya merah padam. plakkk... dan ya, kini tangan Mia sudah mendarat tepat di pipi mul...
![Married By Accident [END]](https://img.wattpad.com/cover/272653532-64-k255945.jpg)