#43 chatan

8 0 0
                                        

Lalu lintas di sore hari belum terlalu padat. Seorang gadis berjalan di trotoar, menjelajahi sibuknya kota Jakarta. Satu jam ke depan adalah waktu para pekerja pulang. Bisa dipastikan jalanan akan dipenuhi oleh banyaknya pengguna transportasi. Baik kendaraan roda dua atau roda empat, tidak peduli kendaraan pribadi atau transportasi umum. 

"Nggak banyak yang berubah." gumam Kyla memerhatikan sekitar.

Sudah lama sekali setelah memutuskan untuk pindah. Kyla belum merasakan kota kelahiran menyambutnya. Bahkan saat datang untuk pertama kalinya lagi, Kyla terlalu sibuk dengan acara atau hal lain yang memenuhi kepalanya. 

Padahal ini adalah kesempatan bagi Kyla untuk mengkosongkan pikiran dari sesuatu yang terasa memberatkannya. Sebelum waktu habis, memaksa gadis itu kembali pada kehidupan normalnya di luar kota Jakarta. 

Kakinya melangkah memasuki sebuah kedai kecil. Kyla memesan kopi kesukaannya karena sangat mengantuk. Setelah selesai Kyla kembali berjalan keluar membuka pintu utama. 

"Kyla?" 

Suara seseorang menyadarkan Kyla. Kepalanya terangkat melihat siapa yang memanggil namanya. 

"Kyla, tunggu dulu." kata Misha seraya menarik lengan Kyla yang hendak menjauh. 

"Lepas." tolak Kyla menepis lengan Misha kasar.

"Lo kenapa kaya takut gitu sama gue? Setelah liat gue, kenapa lo malah menghindar?" tanya Misha masih mencoba menghentikan langkah Kyla. 

"Nggak papa, gue ada urusan." balas Kyla memilih alasan klasik.

"Lo benar takut sama gue? Emang apa yang udah gue lakuin sampe buat lo ketakutan, Kyla?" tanya Misha. 

Ketidaksengajaan, pertemuannya dengan Kyla ketika Misha ingin membeli minuman di kedai kopi langganannya. Wajah itu, lekukannya tercetak jelas di ingatan Misha tanpa ada sedikit saja detail yang tertinggal. Bentuk mata hingga ke hidung. Warna bibir serta pipi gadis itu yang sedikit tembam menggemaskan. 

"Gue nggak ada waktu karena harus kembali ke rumah sakit." ujar Kyla menjawab. 

"Lo sakit?"

"Saguna." 

Rahang Misha mengeras sempurna. Kalau bukan nama wanita sialan yaitu Mita, maka selalu saja putranya yang tak lain adalah Saguna. Berhasil membuat hatinya terbakar hangus bahkan tanpa meninggalkan sisa abu sedikit saja. 

Sebuah rahasia. Sedari kecil, Misha memang menyukai Kyla yang malah berpihak pada Saguna sejak hari pertama. Perhatian Kyla selalu berpusat pada musuhnya. Tatapan mata Kyla selalu terarah pada manusia yang sangat amat dirinya benci. 

Sampai di sekolah menengah pertama atau disingkat SMP. Misha selalu mencoba mendekati Kyla dengan berbagai cara tetapi hasilnya nihil. Berangkat ke sekolah yang berbeda bukan menjadi halangan. Tidak ada kata menyerah untuk Misha tetapi apa yang ia dapat? 

Tidak ada. 

"Lo masih suka sama Saguna?" tanya Misha menahan emosinya. 

"Bukan urusan lo, Misha." jawab Kyla. Ia kembali berjalan menjauh tetapi Misha masih belum mau berhenti. 

"Apa yang gue nggak punya dan lo temukan di diri Saguna?" tanya Misha kembali menarik pergelangan tangan Kyla. 

"Tolong banget, Sha. Berhenti ganggu gue apalagi Saguna. Emang masih kurang?Nggak cukup setelah lo buat dia jatuh ke dalam jurang trauma, apa yang sebenarnya lo mau?" tanya Kyla menunjukkan ekspresi jengahnya. 

"Itu nggak menjawab pertanyaan dari gue." ujar Misha memandang wajah Kyla dalam. "Lo tau kalau gue suka dan sayang sama lo. Kenapa lo nggak bisa balas perasaan gue, Kyla?" tanya Misha terdengar lirih. 

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang