#44 sederhana

22 0 0
                                        

KOK PADA NGGAK VOTE DAN KOMENNNNNNNN

***

Keheningan berlangsung kurang lebih 1 menit. Meja serta kursi sederhana mengisi sebuah ruangan. Terdapat pembatas kaca yang membentang memisahkan mereka berdua, tetapi pandangan tidak juga terputus. 

Keduanya terdiam cukup lama. Menahan setumpuk rasa rindu bercampur aduk dengan amarah dan kecewa, layaknya adonan kue yang sering Freya buat untuk pesanan. 

"Bagaimana keadaan putri Papah yang cantik?" tanya Dayton membuka suara. 

Freya tidak langsung menjawab. Bibirnya terasa keluh namun detikan waktu terus berjalan, mendesak Freya menjawab sebelum terlambat. 

"Buruk, Pah." jawab Freya berkata jujur. "Karena Freya kangen banget sama Papah." sambungnya menahan sesak di dada yang terasa nyeri. 

"Papah juga kangen banget sama kamu." lirih Dayton yang matanya mulai memanas. Mata berkaca-kaca namun harus tetap kuat di depan sang putri, kalau Dayton terlihat lemah takutnya Freya semakin sedih dan khawatir.

Kantung mata Dayton yang tebal serta sorot matanya yang melemah. Wajah Dayton menggambarkan kata 'menyerah' mengetahui tidak ada titik terang dari kasus yang menimpanya. 

"Freya sudah makan?" tanya Dayton. Dijawab anggukan dari Freya. 

"Kalau Papah, udah makan?" tanya Freya balik. 

"Sudah, sayang." kata Dayton tersenyum. 

"Freya ikut kerja paruh waktu di cafe punya teman." ucap Freya bercerita. Gadis itu memang tipe yang lebih dekat dengan Papah, banyak kejadian yang dialami Freya pasti akan diceritakan pada Dayton di rumah. Biasanya Freya akan menunggu di ruang keluarga sampai Dayton pulang kerja untuk membagi cerita hariannya. 

"Tapi Papah jangan bilang ke Mamah." ujar Freya terkekeh. 

"Kamu bisa kecapekan, sayang." lirih Dayton merasa gagal menjadi orang tua. Mendengar putri satu-satunya yang ia punya malah bekerja, pada waktu di mana seharusnya Freya fokus dengan pendididikannya.

"Freya mau belajar mandiri. Nggak mau bergantungan sama Mamah yang juga lelah sama kerjaannya." 

Sebuah pisau menusuk jantung Dayton. Mencabutnya hingga darah segar mengucur keluar. Kemudian menusuknya kembali dan mencabut pisaunya lagi, dilakukan berulang sebanyak beberapa kali.

Hingga suasana kembali hening. Seakan tidak ada kalimat yang lebih penting dari pada memandangi wajah yang mereka rindukan.

"Lima menit lagi." ucap penjaga yang berdiri beberapa meter di belakang Dayton. 

"Maafkan Papah." ucap Dayton tidak mau membuang waktu yang hanya sebentar. Lilitan kawat berduri menusuk tenggorokannya, berbicara terasa berat. "Maaf karena telah membuat kamu kecewa." 

Sekarang tidak banyak yang bisa dilakukan. Dayton tidak buta dan tuli. Banyaknya bukti serta saksi yang mempercepat proses hukum, hanya tinggal menunggu waktu sebelum jatuh ke dalam jeruji besi. 

"Papah menyesal karena telah membiarkan kalian menderita. Bahkan Papah nggak bisa melakukan apa pun untuk menarik kalian keluar dari masalah yang sudah Papah buat." kepalan tangan Dayton dapat Freya lihat dengan jelas. Pria itu sedang melawan sesuatu di dalam dirinya. 

"Papah bodoh karena tidak banyak berpikir. Karena yang Papah mau hanya satu, kamu serta Mamah memiliki kehidupan yang layak." 

Namun salah tetap salah, Dayton menyadarinya. Setelah menyelam dan menikmati surga dunia. Menjadikan Dayton yang gelap mata, tetapi tetap ada pukulan kesadaran sesekali menghampirinya. Memberi beban rasa bersalah hingga Dayton mencoba menghilangkannya dengan mengkonsumsi obatan terlarang. 

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang