Sehari sebelum masuk sekolah di semester kedua, orang di rumahku entah kenapa benar-benar sibuk. Aufar mulai belajar giat karena katanya dia mau mendapatkan nilai sempurna di Ujian Nasional nanti. Dan dia katanya juga mau mendaftar di sebuah SMA elit di kota ini yang mana kudengar isinya orang-orang jenius semua.
Satu hal yang kusyukuri adalah Aufar benar-benar tidak berminat memasuki SMA yang sama denganku. Kalau pun dia berniat, aku akan langsung melarangnya keras. Hidupku di Paraduta benar-benar tidak bisa tenang. Namun entah kenapa aku tidak berniat pindah ke sekolah lain. Ayah dan Bunda pun tidak ada sekali pun membahas apakah aku berkenan untuk pindah ke sekolah lain.
Bunda sibuk untuk kembali bekerja. Kudengar jika teman SMAnya mempunyai bisnis wedding organizer (WO) dan Bunda diajak untuk bergabung. Tentunya pekerjaan ini akan sibuk di akhir minggu. Jadi Bunda hanya perlu menyuruh aku atau Aufar atau Ayah untuk menjaga Zacky.
Kasus forensik Ayah akhir-akhir ini makin banyak. Kadang malah membuat beliau kewalahan. Sudah dua hari beliau menginap di rumah sakit. Dan akhir-akhir ini aku selalu mendapat tugas untuk mengantarkan makanan untuk makan siang atau makan malam ke tempatnya bekerja.
Tentunya aku tidak perlu persiapan ribet untuk menyambut semester baru. Jadi karena aku dan Zacky yang hanya tak ada kerjaan di rumah, aku pun mengajak adik bungsuku itu untuk menjalani rutinitas kami di sore hari. Ketika aku hendak menarik Zacky untuk berbelok ke taman dekat rumah, mataku menangkap seseorang yang familiar. Seseorang yang kemarin-kemarin tak sengaja kutemui.
Tasya berdiri di ujung taman dekat rumahku bersama seorang cewek yang tak aku kenali. Kurasa mereka berdua memandangiku. Aku berusaha tak memedulikan mereka dan membiarkan Zacky bermain ayunan. Aku menggendong Zacky untuk duduk di ayunan.
"Nad?" Aku dipanggil ketika mendorong ayunan agar bergerak.
Aku menoleh dan mendapati jarak mereka agak dekat denganku. Namun tampaknya mereka benar-benar menjaga jarak. Mungkin mereka takut jika mereka menggangguku.
"Bisa bicara sebentar?"tanya Tasya dengan takut-takut.
Melihat Tasya, entah bagaimana pikiranku penuh dengan memori-memori kami bersama waktu SMP dulu. Memori menyenangkan dan memori buruk. Bahkan memori yang amat sangat buruk, yang mungkin hanya aku yang benar-benar mengingat itu.
"Bicara apa?" tanyaku cepat. Aku benar-benar tak berniat untuk bicara dengannya. Aku tidak ingin merasa kesal di sore ini apalagi aku sekarang bersama adikku. Memangnya apa yang mau dia bicarakan? Tentang penyesalan di masa lalu? Oh, itu sudah terlalu basi bagiku.
Cewek yang bersama Tasya maju beberapa langkah agar lebih dekat padaku. Aku menyipitkan mata dan menghentikan ayunan Zacky, yang membuat Zacky merengek dan aku kembali mendorong ayunannya agak pelan. Entah bagaimana rasanya aku pernah melihat cewek ini. Tapi di mana, ya? Apa dia teman SMPku? Siapa sih?
"Mungkin lo enggak kenal gue. Tapi gue kenal lo. Kita sama-sama anak Paraduta. Kelas gue di samping kelas lo. Nama gue Diva." Cewek itu bersuara. Dia memandangku juga dengan takut-takut. Dia menjawab pertanyaanku yang tak terucap.
Aku mengerti kenapa Tasya menatapku takut-takut dan seperti segan padaku, karena masa lalu kami tidak cukup baik. Tapi kenapa cewek yang bernama Diva ini seperti ketakutan juga padaku? Mukaku kan tidak menyeramkan. Apa Tasya menceritakan sesuatu mengenaiku yang mungkin terdengar aneh?
"Oke. Terus?" tanyaku masih tak mengerti kenapa Diva muncul bersama Tasya di hadapanku. Aku memang tak mengenal dia. Mungkin kami pernah beberapa kali berpapasan, namun karena aku tak kenal dengannya jadi aku tak peduli. Bahkan aku pun kadang lupa dengan teman sekelasku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Secret Keeper
Teen Fiction[Paraduta Series #1] - COMPLETED Namaku Nadine. Aku anak baru di SMA Paraduta namun sudah mengetahui dan memegang rahasia beberapa orang yang cukup penting dan populer di sekolah baruku. Wanna know their secrets? Tapi jangan menyebarkan rahasia mere...
