#04

2.7K 347 5
                                        

Saat itu aku memperhatikan mading di aula sekolah. Terdapat artikel New Student yang memuat informasi tentangku. Juga ada fotoku yang aku rasa mereka ambil dari media sosialku. Tak ada penambahan dramatis di artikel. Vinda menulis artikel sesuai dengan informasi yang didapatkan dariku.

Kaca papan mading digeser. Aku menoleh dan menemukan seorang perempuan berambut panjang sedang menempel poster. Poster mengenai lomba. Aku membaca isi poster itu sembari perempuan itu mengunci kaca mading.

"Mau ikut lombanya?" tanya perempuan itu.

Aku menoleh dan menggeleng. "Lomba nyanyi? Enggak. Yang ada gue malah bikin juri jadi tuli nanti."

Dia tertawa. Lalu matanya memperhatikanku lekat-lekat. "Oh, lo anak baru. Di New Student," katanya menunjuk artikel New Student. "Denger-denger, lo join klub fotografi?"

Wow. Cepat sekali menyebar. Padahal tadi pagi saat tiba di sekolah, aku berpapasan dengan Romi. Aku pun menerima tawarannya bergabung dalam klub fotografi. Dan sekarang orang-orang sudah tahu?

Aku tersenyum dan mengedikkan bahu. "Nadine," ucapku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Mataku melirik badge-nya yang berwarna hijau dan terdapat lambang II.

Dia menjabat tanganku dan tersenyum. "Aninda. Oke. Gue harus ke ruang kesenian. Kalau lo niat ikut lomba nyanyi, daftar ke gue aja."

Aku mengangguk dan melihatnya pergi dari aula. Aku kembali membaca mading karena bingung mau menghabiskan jam istirahat di mana. Sarapan pagi masih membuat perutku kenyang.

Tubuhku dipaksa berbalik. Aku melihat seorang perempuan cantik dengan lipstik merah penuh di bibirnya. Dia tersenyum miring, menatapku tak suka. Oke, siapa dia? Dan apa masalahnya denganku? Di belakangnya ada tiga perempuan yang mungkin anggota gengnya. Badge di lengannya berwarna merah dengan lambang III. Oh, dia senior?

"Halo, anak baru. Kayaknya lo belum kenal gue," kata perempuan itu dengan suara sok lembut dibuat-buatnya.

Aku memicingkan mata. "Apa harus gue kenalan dengan lo?"

Perempuan itu tersenyum sinis. "Nama gue Indah. Dan lo sudah membuat pacar gue menatap lo seharian. Oh, bukan seharian. Tapi sudah dari kemarin-kemarin."

Aku melipat tangan di depan dada. "Well, halo, Indah. Gue enggak tahu siapa pacar lo dan kenapa pacar lo menatap gue, bukannya lo." Aku menatapnya nyalang.

"Oh, lo enggak tahu siapa pacar gue. Namanya Galang. The popular boy, for your information." Indah memberitahu dengan bangganya. Bangga menjadi pacar seorang siswa populer.

Aku mengerjapkan mata. Galang? Galang yang itu? Ada berapa banyak Galang si the popular boy di Paraduta? Banyakkah? Aku berharap ada banyak laki-laki bernama Galang di sekolah ini.

Aku berdehem, membersihkan tenggorokanku. Mataku masih menatap tajam Indah. "Bukan salah gue kenapa bisa pacar lo ngelihat gue. Tapi salah lo, kenapa bisa ngebiarin pacar lo ngelihatin gue. Kenapa? Lo iri?"

Selanjutnya, hal dramatis baru saja terjadi dalam hidupku. Hal yang tidak aku inginkan. Pertengkaran.

Bermula dari Indah menampar pipiku keras. Pipiku berdenyut sakit. Tidak terima dia menamparku seperti aku yang bersalah padahal nyatanya tidak, aku balas menamparnya sekuat yang aku bisa. Kemudian jambak-jambakan rambut pun terjadi. Hingga kami sampai berguling di lantai sembari siswa lain malah sibuk bersorak dan merekam dengan ponsel masing-masing.

Dan akhirnya terhenti ketika seorang laki-laki dengan kacamata menarikku dari belakang. Bermaksud menjauhkanku dari Indah. Bahkan aku tidak tahu siapa dia. Lenganku digamit Gretta yang entah datang darimana. Sedangkan Indah sudah ditarik dan ditahan oleh Galang. Ya, Galang.

Suara Pak Esa, kepala sekolah terdengar. Menyuruh bubar siswa-siswa lain. Juga menyuruhku dan Indah menghadapnya di ruangan kepsek. Gretta sibuk menenangkanku. Tapi amarahku masih nergejolak. Mataku memandang Indah yang balas memandangku dengan konaran api yang terlihat jelas di matanya. Di sampingnya, Galang juga menatapku. Dengan tatapan yang tak dapat kumengerti.

Aku mendapat peringatan pertama. Juga ceramah panjang lebar karena aku masih berstatus anak baru. Aku baru bersekolah di Paraduta selama hampir dua minggu dan sudah melanggar peraturan. Walau pun mulutku tak henti-hentinya mengatakan jika Indah-lah yang memulai, Pak Esa tampaknya tak peduli.

Dan aku menyesal mengapa meninggalkan recorder tadi di tas. Padahal bisa saja aku merekam pembicaraan aku dan Indah, dan dapat memberikan bukti jika aku tidak bersalah.

Aku dan Indah dijatuhkan hukuman membersihkan toilet perempuan. Toilet Paraduta dibagi menjadi tiga untuk tiap angkatan. Aku mendapat jatah membersihkan toilet kelas 2. Sedangkan bagian Indah adalah kelas 3.

Sepulang sekolah, hukuman berlangsung. Aku mulai mengepel lantai toilet dengan asal-asalan. Yang terpenting terlihat basah dan bersih. Terdapat dua bilik WC dan untung saja keduanya cukup bersih hingga aku hanya perlu menyiram sedikit. Dalam hati, aku menyumpahi Indah.

Sekitar setengah jam, aku membersihkan toilet sendiri. Aku memasukkan alat-alat kebersihan di lemari belakang pintu toilet. Kemudian meraih tasku dan berjalan keluar. Karena toilet kelas 2 terletak di belakang sekali, membuatku harus berjalan melewati gedung olahraga di belakang agar sampai ke parkiran karena aku membawa mobil Ayah hari ini.

Ibu sibuk menanyakan keberadaanku. Yang mana harusnya aku sudah tiba di rumah di jam-jam seperti ini. Kukirimkan pesan yang mengatakan jika aku sedang berjalan-jalan sebentar mencari bahan tugas. Berbohong sedikit, tak masalah, bukan?

Ketika melewati taman belakang di dekat gedung olahraga, mataku mendapati seorang laki-laki yang duduk di atas gedung olahraga. Satu kakinya menjuntai ke pinggir. Aku terdiam dan ngeri melihatnya duduk di pinggir gedung. Bisa saja dia jatuh.

Namun dia terlihat santai. Memandangi langit yang sedikit mendung. Dengan rokok di tangan kanannya.

Oke. Dia merokok di lingkungan sekolah. Dan itu termasuk ke pelanggaran sekolah. Mataku terus memandangi laki-laki itu. Rambut ikal yang diterpa angin. Seragam berantakan. Mataku memicing melihat wajahnya.

Sebentar. Bukannya dia adalah Adam? Ketua OSIS Paraduta? Kenapa seorang ketos malah merokok di lingkungan sekolah? Apa dia tidak takut terciduk?

Ketika lelaki itu bergerak, aku langsung lanjut berjalan. Takutnya dia melihatku. Langkahku menuju mobil, masuk ke dalam dan mulai mengemudikan mobil. Aku sedang tidak ingin pulang cepat. Kebetulan aku sudah bilang pada Bunda jika aku pulang lambat, jadi kenapa aku tidak jalan-jalan saja sekalian?

Mobil kubawa mengelilingi jalanan mana pun. Dari tengah kota ke pinggiran kota. Ponselku berbunyi. Foto Bunda muncul di layar.

Aku menepikan mobil dan menjawab panggilan. Bunda menyuruhku pulang cepat karena beliau menyuruhku untuk mengantarnya berbelanja bulanan. Ketika aku akan menjalankan mobil, aku melihat seseorang menyeberangi jalanan.

Seorang perempuan dengan jaket kulit kebesaran menutupi tubuhnya. Aku rasa dia memakai gaun di atas lutut. Dan  dengan high heels. Rambutnya tertata indah. Saat dia memalingkam wajah ke arah mobilku untuk melihat sekitar, aku langsung menunduk. Aku kaget sendiri.

Mataku masih memperhatikan perempuan itu berjalan terburu-buru menuju hotel yang ada di ujung jalan. Kata Gretta, hotel itu cukup ramai saat malam. Karena klub malam di situ terlaris. Dan juga kabarnya, banyak wanita penggoda juga.

Jadi, Aninda, apa yang kamu sembunyikan?

The Secret KeeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang