Secangkir kopi dan sepiring biskuit menemani waktu pagi Fathan yang cerah. Pagi ini Fathan tengah duduk di kursi teras sambil membaca koran seperti bapak-bapak pada umumnya. Jangan lupakan Aisy yang berada di samping Fathan.
Setelah anak-anaknya berangkat, Fathan dan Aisy menghabiskan waktu pagi di teras. Lebih tepatnya Fathan yang memaksa Aisy menemaninya. Kalau kata Fathan 'Jarang-jarang kita bisa berduaan.' padahal hampir setiap hari mereka berduaan, sampai-sampai Fathan melarang ketiga anaknya untuk memanggil Aisy karena tak mau terganggu.
Aisy hanya bisa menuruti kemauan Fathan. Kalau tidak dituruti pasti Fathan merajuk dan terus mengekori Aisy bagaikan anak ayam dengan induknya.
Ting!
"Kamu buka aja, yang." Ucap Fathan tanpa mengalihkan pandangannya pada koran.
Aisy menatap Fathan geli. Sejak kapan suaminya bertingkah seperti ABG yang kasmaran.
Aisy membuka pesan yang masuk. Aisy tersenyum lebar saat membacanya membuat Fathan mengalihkan pandangannya pada Aisy. Sedikit tidak suka jika Aisy tersenyum dan mengabaikannya.
"Aisy."
"Iya."
"Sayang?"
"Hm."
Tak kunjung menoleh, Fathan merebut ponselnya dan menangkup wajah Aisy dengan tangan kekarnya. "Kenapa senyum-senyum gitu?"
Aisy hanya tersenyum membalasnya membuat Fathan berdecak.
Aisy terkekeh melihatnya. "Baca aca sendiri."
Karena penasaran, Fathan membaca pesan tersebut. Jika Aisy tersenyum, maka Fathan sebaliknya. Pria yang sudah berumur hampir lima puluh tahun itu mendatarkan wajahnya. Sedetik kemudian ia berdecak kesal.
"Kenapa dia kesini sih?" Tanya Fathan tak suka.
Gimana suka coba? Orang yang mau datang itu Gilang. Musuh pribadi Fathan. Meskipun Gilang sudah menikah dan memiliki anak, namun saat berkunjung dia selalu saja membuat Fathan naik darah dengan ketengilan yang dia perbuat. Kalau kata Aisy, Fathan kena karma. Dulu dia yang bikin orang kesal, sekarang dia sendiri yang dibuat kesal.
"Memangnya kenapa sih kalau Gilang kesini?" Tanya Aisy pura-pura tak tempe.
Fathan tak menjawab dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Biarin Gilang kesini. Dia kan udah gak punya orangtua. Ibunya sudah meninggal, ayahnya aja gak tahu dimana. Dengan dia kesini, dia bisa kembali merasa kasih sayang orangtua."
Fathan menghela nafas dan mengangguk pasrah. Meskipun ia sendiri kesal dengan tingkah tengil Gilang, namun dia juga menyayangi Gilang. Fathan memang tidak terlalu menunjukkan kasih sayangnya pada Gilang, tetapi ia kasih sayangnya pada Gilang sama seperti anak-anaknya.
.
.
.
Sore harinya, Gilang benar-benar datang bersama istri dan kedua anaknya. Gilang menikah saat enam tahun yang lalu dan dikaruniai seorang anak perempuan berumur lima tahun serta anak laki-laki berusia dua tahun. Anak perempuan bernama Rara, dan laki-laki bernama Ridho.
Aisy menyambut kedatangan Gilang dan keluarga kecilnya dengan senyuman. Ibu tiga anak itu sangat antusias saat Gilang ingin berkunjung. Aisy sudah membuat berbagai macam kue dan memasak makanan kesukaan Gilang.
"Assalamualaikum."
Anak perempuan Gilang berlari terlebih dahulu. Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang sama persis dengan dirinya saat kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD & SENGKLEK GUS (END)
Fiksi RemajaKomedi - romance (Saran aja, baca GUS & NING dulu biar tahu alurnya) Seorang gadis kota harus masuk Pesantren di keluarga Fatih karena perintah orangtuanya. Baru saja menginjakkan kakinya disana, gadis itu bertemu dengan Fatih. Fatih yang tak senga...
