Assalamualaikum semuanya.
Aku cuma mau bilang, jangan panggil aku Author apalagi Thor.
Kek gimana aja gitu.
Call me Tata, biar lebih akrab.
Dan juga kebanyakan dari kalian manggil aku Kakak.
Aku kasih tau. Aku itu masih kelas 9. Masih kecil, kan?🙂
Jadi kalau kalian gak panggil aku Kakak lebih bagus, tapi kalau panggil kakak ya terserah.
Sekian dari saya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi.
Happy Reading...
***
Disinilah mereka sekarang.
Mereka berada di rumah Pak RT. Katanya mereka akan dinikahkan malam ini juga. Beberapa warga juga ada disana untuk melihat.
Raka sudah menghubungi Aisy dan Fathan. Mira juga sudah menghubungi orang tua Zi yang sudah sampai di hotel yang sama dengan Mira.
Raka yang melihat Mira di luar sendiri, segera menghampiri gadis yang sudah berhasil membuatnya terpikir akhir-akhir ini.
"Apa saya harus melakukan hal yang sama seperti Fatih?"
Mira terdiam mendengar suara bariton itu.
"Gak usah aneh-aneh." Sahut Mira.
"Mengapa kamu sangat sulit menerima lamaran saya?" Tanya Raka.
"Karena saya gak cinta sama anda."
"Saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu." Ucap Raka tersenyum miring.
"Dan saya tidak peduli." Jawab Mira dan langsung melenggang masuk dengan tangan yang membawa paperbag.
Raka yang melihat itu menyunggingkan senyum miringnya.
'Menarik.' Pikirnya.
Mira menyerahkan paperbag pada Zi. Paperbag itu berisi gamis milik Mira. Sebenarnya Zi ingin memakai gamis milik Bu RT, tapi tidak bisa karena gamisnya pasti kebesaran. Alias, Bu RT itu berbadan subur.
Saat ini Mira dan Zi berada di kamar tamu. Mira memandang sendu sepupunya. Impian gadis itu untuk menikah dengan Prince Mateen harus hancur karena suatu kejadian.
"Gimana nih, Mir. Gue gak mau nikah." Rengek Zi.
Mira mengelus punggung Zi. "Sabar ya. Gapapa Lo nikah gegara hal kek gini, yang penting bukan gegara tekdung duluan."
Zi yang mendengar itu memukul Mira dengan bantal.
"Sama aja gue mengkhianati calon suami gue. Padahal kita itu lagi LDR, eh malah gue mau jadi istri orang."
'Prince Mateen juga gak bakal mau sama lo zi.' batin Mira tersenyum masam. Sepertinya ia tertekan dengan sepupunya yang selalu halu menjadi istri Pangeran Mateen.
Mira memutar bola matanya malas. "Bunda sama ayah udah ada di sini." Ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Zi menegakkan badannya dengan mata berbinar. "Beneran?"
"Hm."
Zi tersenyum lebar mendengarnya. Berbeda dengan Mira yang sekarang terpikir sesuatu.
'Harus waspada nih kalo Chiko tau Zi nikah. Bisa-bisa gue di smackdown sama tuh anak.'
Zi menepuk bahu Mira. "Kenapa lu? Kek ada masalah hidup aja? Sini, cerita sama gue."
Mira tersenyum paksa. "Gue gapapa."
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD & SENGKLEK GUS (END)
Teen FictionKomedi - romance (Saran aja, baca GUS & NING dulu biar tahu alurnya) Seorang gadis kota harus masuk Pesantren di keluarga Fatih karena perintah orangtuanya. Baru saja menginjakkan kakinya disana, gadis itu bertemu dengan Fatih. Fatih yang tak senga...
