Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

10. Rara dan Zi

37.9K 4.5K 149
                                        

Terhitung sudah lima hari Gilang dan keluarga kecilnya menginap disini. Rencananya mereka menginap satu Minggu, namun Rara dan Ridho yang terlanjur betah meminta untuk lebih lama lagi. Gilang tak bisa menolak, lagipula Aisy dan Fathan tak keberatan sama sekali.

Kedua bocah itu juga sudah tidak takut lagi dengan Fatih. Terlebih sekarang Rara sudah sangat dekat, bahkan tak mau berpisah dengan Fatih. Meskipun Fatih mengajar, Rara tetap akan ikut. Jika tidak maka dia akan menangis dan membuat satu rumah kewalahan.

Melihat kedekatan Rara dan Fatih, Ustadzah Vini mencari cara untuk menarik perhatian Fatih dengan mencoba mendekati Rara. Bersikap keibuan dan terus tersenyum mungkin bisa membuat Rara dekat dengannya, bukan? Pikirnya.

Seperti saat ini, Vini sudah membeli permen lollipop yang ia beli di toko depan Pesantren. Ia juga rela bangun pagi-pagi untuk berdandan agar menarik perhatian Fatih maupun Rara. Makeup tebal dan gamis yang mencolok.

"Itu dia." Gumamnya saat melihat Rara keluar bergandengan dengan Fatih.

Vini kembali merapihkan penampilannya dan berjalan menghampiri Fatih dan Rara penuh dengan keanggunan.

"Assalamualaikum." Suaranya juga ia buat selembut mungkin.

"Waalaikumsalam."

Vini mengepalkan tangannya melihat respon Rara yang langsung bersembunyi di belakang Fatih.

"Uncle, ayo kita pergi. Ada badut Ancol."

Santriwati yang ada disana tertawa dengan ucapan polos Rara. Tak ada salahnya memang jika Rara menyebut Vini badut Ancol. Bedak berlapis-lapis, blush-on yang terlalu merah seperti ditampar, dan bibir yang merah menyala seperti selesai minum darah.

Vini berusaha untuk tersenyum manis dan mendekati Rara, namun langsung dijauhi oleh sang empu.

"Jangan takut, Ustadzah cuma mau kasih ini." Ucapnya sambil memberikan lollipop.

Rara menggeleng tegas. "Gak mau! Nanti gigi Rara sakit." Tolaknya mentah-mentah.

Ayolah. Sebenarnya lollipop yang ditawarkan oleh Vini sangat menggiurkan, tapi Rara tidak mau menerima apapun yang diberikan oleh Vini. Dari dandannya saja Rara sudah tidak suka.

"Kenapa? Padahal ini enak lho. Yakin gamau?" Bujuk Vini.

Rara menutup mulutnya dan menggeleng. "Gak mau!!" Teriaknya lalu berlari entah kemana.

Fatih yang melihat itu menggeram marah dan menatap Vini tajam, membuat nyali Vini menciut.

"Jangan mendekati Rara lagi." Ucapnya penuh penekanan. Setelah itu, Fatih melenggang pergi tanpa sepatah katapun dan mencari Rara.

Sedangkan Rara terus berlari sampai ke asrama Santriwati. Ia melihat sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, Rara langsung masuk.

Rara mengamati kamar yang sangat bersih dan nyaman. Kemudian, ia merebahkan dirinya di salah satu kasur. Rasanya nyaman dan wangi.

Zi yang baru masuk dikejutkan dengan keberadaan bocah perempuan yang rebahan di kasurnya.

"Buset dah. Anak sape tuh, lucu amat. Anak gue sama Nyai Lee Soo Man kali ya? Eh, maksudnya anak gue sama Zayn Malik." Batin Zi.

"Hallo, dek."

Rara langsung mendudukkan dirinya dan menatap Zi dengan berbinar.

''Lah:( tuh anak kayak seneng banget gitu ketemu gua."

"Adek siapa, ya? Kok bisa ada di kamar kakak?" Tanya Zi.

Rara turun dari kasur dan menghampiri Zi. Ia memutar-mutari tubuh Zi. Sungguh ekspresinya terlihat seperti Gilang.

"Halo, kak. Aku Rara, anaknya Bapak Gilang sama Ibu Qila." Ucapnya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Zi mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia bahkan tak tahu siapa yang bernama Gilang dan Qila. Apakah itu tamu yang menginap beberapa hari lalu? Bisa jadi. Pikirnya.

Zi tersenyum dan menyambut jabatan tangan Rara. "Kenalin, nama kakak, Zi. Kakak dari Jakarta dan baru beberapa Minggu mondok disini." Balasnya.

Rara mengangguk dan masih enggan melepaskan jabatan tangannya. Ia juga masih memandang wajah cantik alami Zi.

Zi yang diperhatikan itu merasa sedikit risih. Takut jika Rara jadi belok karena melihat wajahnya.

"Rara kenapa?" Tanyanya.

Rara menggelengkan kepalanya. "Kakak cantik. Gak kayak Tante Badut Ancol tadi." Ceplos Rara.

Zi mengernyit tak mengerti. Apakah yang dimaksud Rara tadi ustadzah Vini? Karena satu-satunya perempuan yang berdandan seperti Badut Ancol hanya dia.

"Emangnya kakak cantik?" Tanya Zi dengan senyum yang mengembang.

Rara mengangguk antusias. "Cantik banget malahan. Cocok sama uncle Fatih."

Senyum manis yang terpatri di wajah cantik Zi langsung memudar mendengar nama Fatih. Tidak tahukah jika dirinya membenci oknum yang bernama Fatih itu? Tentu saja tidak, kamu belum memberitahunya wahai ananda Zi.

"Kok sama Uncle Fatih kamu, sih?" Tanya Zi cemberut.

"Lho, kenapa? Lagipula wajah kakak sama Uncle Fatih hampir sama." Jawab Rara.

"Terserah kamu ajalah. Oh iya, kenapa kamu bisa disini?"

Rara menepuk pelan dahinya lalu menyengir. "Tadinya mau menghindar dari Tante Badut, tapi nyasar kesini deh."

Zi memangut paham. Ia mengambil tasnya dan menggandeng tangan Rara. "Kalau begitu, mari kita keluar. Kakak mau telat soalnya." Ucap Zi.

Eca dan Ica sudah daritadi berangkat. Ia sendiri dari pagi kebingungan dengan barang-barangnya yang hilang tiba-tiba.

Rara mengangguk dan ikut menggandeng tangan Zi. Rasanya sangat nyaman jika didekat Zi.

Jika begini, Rara akan berusaha untuk membuat Zi dan Fatih bersatu.

"Ayo Rara, kamu harus berjuang. Semangat! Kamu pasti bisa! Hidup kapal Fatih dan Zi!!"

COLD & SENGKLEK GUS (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang