31. Proses Pembuatan

37.2K 3.7K 78
                                        

Seminggu setelah kejadian Zi diculik, keadaan kembali seperti semula. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentang Tia.

Berbicara soal Tia, ternyata Tia adalah buronan, sama seperti almarhumah Tari dulu. Wanita itu terjerat kasus narkoba, penipuan, penculikan anak, dan penjualan gadis di bawah umur.

Fathan tentu tidak terkejut. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Selama berteman dengan Tari, dia kenal bagaimana Tari dan orangtuanya dulu. Sekarang dia hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.

Sepasang tangan lembut melingkar di pinggangnya. Ia membalikkan badan dan menggenggam lembut tangan itu, lalu membawa Aisy dalam dekapan hangatnya. 

"Mas."

"Hm?"

Aisy menggeleng, ia membalas pelukan Fathan erat.

"Gak kerasa, anak-anak semakin dewasa, apalagi Fatih. Berasa tua banget kita." Ucap Fathan.

"Mas aja kali yang merasa tua."

"Mulutnya dijaga, sayang."

Fathan menekan kedua pipi Aisy sehingga bibir wanita menjadi seperti ikan, dan...

Cup

Aisy melotot. "Udah tua, jangan macam-macam."

Fathan terkekeh. "Cie, udah ngaku tua."

Aisy mendengus. "Iya, iya, kita udah tua." Ucapnya kesal.

Keadaan kembali hening. Fathan yang memeluk Aisy erat dan dinikmati nyaman oleh sang empu.

"Raka kemarin ngomong sesuatu sama Fatih."

Aisy mendongak, menatap Fathan yang berujar tiba-tiba. "Ngomong apa?" Tanyanya.

"Mas denger samar-samar, kalau Raka mau ngelamar Mira."

Kening Aisy mengkerut. "Setahu aku, Mira itu, gimana ya ngejelasinnya?" Aisy menggaruk dahinya bingung.

Fathan yang mengerti apa maksud Aisy mengangguk. "Tapi kamu tahu sendiri, kan, gimana keras kepalanya Raka. Apapun yang dia mau pasti harus didapatkan, persis seperti ayahnya."

Aisy terdiam. Ia teringat bagaimana dulu Amel yang awalnya menikah dengan Andi karena terpaksa. Orangtuanya yang terlilit hutang, dan Amel menikah dengan Andi sebagai pelunasan hutang.

"Aku takut Mira mengalami nasib seperti Amel." Aisy berujar lirih.

"Kita doakan yang terbaik."

.

.

.

Berbeda lagi dengan pasangan yang satu ini. Dua orang itu tengah berdebat mendebatkan sesuatu yang menurut sang laki-laki hal yang sangat penting.

"Ayolah Zi, katanya mau dedek bayi, ya kita harua berusaha lebih giat lagi."

Zi menyentil bibir Fatih yang ceplas-ceplos.

"Gak, trauma akunya." Ia masih ingat bagaimana semangatnya Fatih melakukan itu dan berakhir dirinya yang susah berjalan.

"Janji gak bakal lama, satu jam aja, lagian masa bulanan kamu udah selesai." Fatih menatap Zi memelas. Ayolah, dia sangat merindukan hal itu, yang membuatnya candu.

Zi bimbang. Kalau nolak permintaan suami, takut dosa, lagipula ini memang tugasnya sebagai seorang istri. Tapi kalau menerima ajakan Fatih, bisa-bisa dia tidak bisa berjalan. Satu jam-nya Fatih itu bisa sampai jam tiga malam.

Oke, biarkan malam ini Zi menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.

"Cuma sebentar loh, ya?"

Fatih mengangguk semangat. Ia menggendong sang istri untuk berwudhu terlebih dulu dan sholat dua rakaat. Biar si debay jadi cepet dan ucul.

Setelah itu, Fatih membaringkan tubuh Zi dan menindihnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Zi. Hampir saja...

Brak

"ONTY!!"

Haish. Fatih lupa mengunci pintu kamarnya. Jadi terganggu kegiatannya yang ingin menghasilkan bibit-bibit unggul.

Berbeda dengan Fatih, Zi bernafas lega. Ia mendorong dada bidang Fatih dan menghampiri Rara yang tengah mengerjap polos.

Rara mengulurkan tangannya, meminta Zi menggendongnya.

"Rara kenapa?" Zi mengusap lembut surai Rara.

"Rara mau tidur sama Onty, tapi tidurnya di kamar Rara."

"Gak boleh!"

Fatih melotot. Enak saja tiba-tiba membawa Zi untuk tidur bersama bocil itu, mengganggu saja. Padahal dia kan mau membuat debay-debay yang ucul.

"Kenapa gak boleh?" Bocah itu menatap Fatih sengit. Hey, dia juga ingin tidur dengan Onty kesayangannya.

Rara memberontak saat Fatih membawanya ke dekapan lelaki itu. Fatih membisikkan sesuatu.

"Rara mau punya adek, gak?" Bisik Fatih.

"Tapi Rara udah punya adek." Jawab Rara yang juga berbisik.

"Punya adek lagi, lebih seru."

Rara mengangguk-angguk mengerti. "Kalau gitu, Rara pesen debay cowok satu, yang lucu, ya."

"Oke, tapi Rara gak boleh tidur sama Onty."

"Kenapa?"

"Kalau Rara tidur sama Onty, debay cowoknya gak jadi-jadi, harus dibuat berdua."

Rara mengangkat ibu jarinya. "Oke."

Zi mengernyit saat Rara keluar dari kamar tanpa mengajaknya. "Loh, katanya mau tidur sama Onty."

Rara membalikkan badannya. "Gak jadi, Onty. Kapan-kapan aja, Onty sama uncle buat debay yang lucu buat Rara."

Zi melongo. Astaga, pasti suaminya itu membujuk Rara dengan ucapan yang iya-iya. Jika begini ia tidak bisa lagi mencari alasan.

Terlalu asik melamun, Zi tak menyadari jika Fatih sudah berdiri di belakangnya, bahkan lelaki itu sudah mengunci pintu kamar.

Tangan Fatih melingkar di pinggang istrinya, membuat sang empu tersadar dari lamunannya.

"Mas, aku kunci kamarnya dulu, ya?"

Fatih tak mendengarkan Zi, karena ia tahu itu hanya akal-akalan Zi untuk bisa kabur malam ini.

"Mas, aku mau Kun..."

"Kamarnya udah Mas kunci."

Glek

Zi menelan ludahnya susah payah. Sepertinya ia tak bisa kabur, apalagi ia merasa sesuatu keras di belakangnya dan napas Fatih yang memburu.

"Sayang..."

Suara berat Fatih membuat Zi tambah menegang. Ia pasrah saat Fatih langsung menggendong dan melemparnya ke kasur.

'Siap-siap gak bisa jalan.'

TBC.

.

.

.

Huhuhu 😭

Debay-debay ucul udah coming soon

Dah siap jadi aunty/ Ninik?

COLD & SENGKLEK GUS (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang