Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

09. Nikah yuk!

43.1K 4.6K 373
                                        

Menangis.

Hanya itu yang sedari tadi Zi lakukan. Merindukan sosok yang sangat berharga baginya. Seperti sudah menjadi sebagian raganya.

Rindu yang amat dalam membuat Zi terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Kejadian beberapa tahun yang lalu membuat seseorang yang sangat amat ia sayang celaka tepat di depan matanya.

Zi melepas liontin yang dipakainya. Ia membuka liontin itu dan menatap fotonya bersama seseorang dengan sendu.

"Hiks...maaf, maafin Chyra."

Zi menatap hamparan rumput yang tandus. Saat ini ia tengah duduk sendiri di lapangan belakang yang menjadi tempat favoritnya belakangan ini.

Setelah Sholat Isya tadi Zi langsung menuju ke lapangan belakang dan melewatkan makan malamnya.

Ia kembali menangis saat mengingat memori-memori beberapa tahun yang lalu bersama 'dia'. Rasa bersalah kembali ia rasakan.

"Kenapa ada disini?"

Zi terlonjak kaget dan langsung menghapus air matanya kasar. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain. Ia juga memasukkan liontin ke dalam saku roknya.

Zi menatap Fatih yang berada di sampingnya. Ia mendengus kesal. Mengapa Fatih selalu muncul seperti tamu tak diundang.

"Ngapain kesini?" Tanya Zi ketus. Ia tak memperdulikan lagi siapa yang didepannya ini.

"Terserah saya. Inikan Pesantren punya keluarga saya." Jawab Fatih.

Zi mendengus malas. Niatnya ingin menyendiri dan melampiaskan kesediaannya, malah bertemu dengan Gus sinting.

"Kamu belum jawab pertanyaan saya." Ucap Fatih melihat Zi yang membuang pandangan.

"Terserah saya, kan saya kan juga Santri disini." Jawabnya.

"Kenapa tadi nangis."

"Emang salah kalo orang nangis?"

"Salah. Harusnya kamu menangis tidak ada saya." Jawab Fatih.

Lah? Gue aja gak tau kalo lu ada di sekitar sini Jepri!!!!

Ingin sekali Zi mengatakan itu kepada Fatih. Wajah Zi memerah bukan karena blushing, ia tengah menahan emosi yang ingin meledak. Bahkan tangannya saja mengepal kuat.

Fatih salah mengartikan wajah Zi yang memerah. "Gak usah blushing gitu wajahnya, saya tau kok kalau saya itu ganteng dan bikin kamu deg-degan." Ucapnya penuh percaya diri.

Zi mengelus dadanya sabar. Astagfirullah hal adzim. Kuatkan mental hambamu yang cantik dan imut ini agar bisa menghadapi jin berwujud Gus tampan ya Allah...

"Saya mana tau kalo Gus Fatih lewat sekitaran sini." Ucap Zi mencoba sabar.

"Ya lihat-lihat sekitar dong. Lihat kamu menangis tadi bikin saya pengen menghapus air mata kamu." Balas Fatih dengan nada tengilnya.

"Kan bukan mahramnya, jadi Gus Fatih gak bisa pegang saya sembarangan." Ucap Zi mengejek.

"Oh, jadi kamu ngode saya buat nikahin kamu?"

Allahu Akbar...

Rasanya ingin sekali Zi menghajar wajah tampan Fatih.

"Gak usah bikin gue darah tinggi napa sih, Ya Allah." Gumam Zi yang masih bisa didengar Fatih.

"Saya kesini bukan buat kamu darah tinggi, Zi."

"Terus ngapain nyamperin saya,Gus?" Tanya Zi geram.

"Saya kesini buat bikin kamu jatuh cinta sama saya."

COLD & SENGKLEK GUS (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang