Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

12. Tentang Dia

36.2K 4K 46
                                        

Seorang gadis menatap jalanan yang masih sangat sepi, karena memang disana masih dini hari.

Pandangannya tertuju pada pemuda yang masih belum terbangun. Ia berjalan kearah brankar dan menatap sendu pemuda itu.

Ingin sekali rasanya ia menyentuh tangannya, namun ia tak berani karena dosa. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menatapnya dan berdoa agar dia cepat siuman.

"Cepetan sadar, ko. Ntar keburu Chyra kesayangan lo diembat sama orang baru tau rasa Lo. Gak capek apa tidur terus." Ucapnya kesal.

Masih tak ada pergerakan ataupun jawaban. Dengan pasrah gadis itu melakukan Tahajjud, dan dilanjutkan dengan membaca Alqur'an.

Namun ditengah-tengah, ia melihat tangan pemuda itu perlahan bergerak-gerak. Ia menghentikan aktivitasnya dan segera memencet bel di dekat brankar.

Tak lama satu dokter dan dua perawat datang masuk dengan tergesa-gesa.

"ses mains bougent." Ucap gadis itu.
(Tangannya bergerak.)

Segera dokter memeriksa keadaan pemuda itu.

"il a passé son coma. bientôt il se rendra compte."
(Dia sudah melewati masa komanya. Sebentar lagi dia akan sadar."

Gadis itu menghela nafas lega dan berkali-kali mengucapkan Alhamdulillah di dalam hatinya. Penantiannya bersama keluarganya akhirnya terbayarkan.

Setelah dokter dan perawat itu pergi, gadis itu memandang sendu Pemuda didepannya.

"Gue yakin lo kuat. Cepet bangun, terus kita nyusul Chyra ke pondok. Kata Ayah Bunda, Chyra mondok gara-gara habis buat masalah."

Setelah hampir satu jam menunggu, pemuda itu perlahan-lahan menggerakkan jari-jarinya kembali. Pemuda itu perlahan membuka matanya.

Hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis manis berjilbab dengan senyum lebar di wajahnya.

"Alhamdulillah."

Berkali-kali sang gadis mengucapkan rasa syukur.

"Ko, lo inget gue kan?" Tanya sang gadis.

Pemuda yang dipanggil 'Ko' itu mengangguk lemas.

"Minum." Ucapnya lirih.

Dengan segera gadis itu memberikan segelas air putih yang langsung diteguk habis.

"Chyra mana?" Tanya pemuda itu.

"Chiko. Chyra ada di Indonesia. Sedangkan kita ada di Prancis." Jawab sang gadis dengan gemasnya.

"Kok bisa sih, Mira?"

Gadis yang bernama Mira itu menepuk dahinya. "Habis kecelakaan dulu, Chyra ngira Lo udah pulang ke Rahmatullah. Tapi aslinya kita bawa Lo ke sini buat pengobatan. Kita sengaja gak kasih tau Chyra. Paham lo?"

Pemuda itu mengangguk lemas membuat Mira berdecak kesal.

"Yaelah. Lemes banget sih lo." Kesalnya.

"Gue baru sadar bege." Balasnya menatap Mira sengit.

.

.

.

"Assalamualaikum."

Mira menoleh kearah pintu, yang datang ternyata adalah kedua orangtuanya.

"Waalaikumsalam."

Mira menyalami tangan orangtuanya.

"Chiko kapan sadar?" Tanya Papahnya.

"Tadi, dini hari."

Kedua orangtua Mira langsung menghampiri Chiko yang tengah tertidur.

Mereka memandang wajah teduh Chiko saat tertidur.

Melihat itu, Mira teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat Chiko menyelamatkan Chyra.

Saat di bawa di Rumah Sakit, Chiko memang dikabarkan sudah meninggal dan membuat Chyra menangis histeris sampai pingsan.

Namun beberapa saat kemudian, jantung Chiko kembali berdetak. Dan akhirnya Chiko dibawa ke Prancis untuk pengobatan.

Chyra sengaja tidak diberitahu. Entahlah. Mira sengaja meminta orang-orang untuk merahasiakan hal ini dari Chyra.

Itu sebabnya, Mira juga ikut pindah dengan alasan ikut orangtuanya yang ada masalah pekerjaan.

"Mah, Pah. Ada orang yang deketin Zi."

Kedua orangtua Mira bungkam seketika. Mereka tak tau harus bereaksi apa.

"Kamu tau orangnya?" Tanya sang Mama.

Mira mengangguk. "Lumayan sih orangnya. Menurut sekitar, dia orangnya dingin, cuek, tapi Sholeh."

"Bagus dong orangnya kayak gitu. Terus kenapa muka kamu ditekuk gitu?" Tanya Papanya.

Mira mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya kesal. "Umurnya 25, Mah, Pah. Beda tujuh tahun lah sama Zi." Ucapnya kesal.

Orangtuanya mengangguk paham. Mira itu paling tidak cocok jika ada pasangan beda lebih dari 5 tahun. Entahlah, alasannya apa.

"Biarkan saja. Biar Zi yang menentukan pilihannya sendiri. Kalau dia cocok sama laki-laki yang kamu maksud, ya tidak apa-apa. Lagipula dia masih kecil untuk menikah."

Mira mengangguk menyetujui ucapan Papahnya.

"Tapi, Pah, Mah. Aku ngerasa Zi nikah muda tau." Ucap Mira dengan wajah serius.

TBC

Maaf part pendek.

Untuk bahasa Prancis tadi maaf kalo salah, translate Google

COLD & SENGKLEK GUS (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang