Hari ini adalah hari dimana tujuh bulanan terlaksanan. Keluarga besar Fatih keloyongan kesana-kemari untuk mempersiapkan acara, sedangkan keluarga Zi hanya diam menikmati jamuan.
Sebenarnya pihak keluarga Zi sungkan karena tidak membantu apa-apa. Ingin membantu tapi dilarang oleh Aisy. Tidak ingin menciptakan perdebatan, pihak keluarga memilih diam dan menikmati acara. Tidak bisa dipungkiri, mereka bersyukur karena Zi diterima sangat baik di keluarga ini. Mereka menganggap Zi seperti putri mereka sendiri.
Mila--Bunda Zi sering mendengar cerita dari putrinya, jika dirinya diterima sangat baik oleh keluarga barunya. Tak jarang keluarga Fatih selalu menuruti apapun keinginannya.
Awalnya keluarga Zi sangat khawatir jika putri kecil mereka sudah menikah. Mereka takut jika putrinya akan bernasib seperti kebanyakan remaja lainnya yang menikah muda dan berakhir bercerai.
Biasanya, kasus perceraian terjadi di kalangan remaja yang menikah muda, disebabkan karena mental mereka yang belum siap untuk menanggung beban. Adapula contoh kebanyakan yang kita lihat karena keluarga yang selalu ikut campur, atau mertua yang tidak suka dengan kita.
"Jangan makan terus, Zi, kasian makanan Fatih terus kamu ambil. " Bunda Mila menegur.
Fatih menyela. "Gak apa-apa, Bunda."
"Tuh, mas Fatih aja gak papa aku ambil makanannya," balas Zi.
"Mau nambah?"
Zi mengangguk, ia menunjuk ikan goreng bumbu Bali. "Mau itu dua, suapin tapi."
Fatih mengambil dua ikan dan memisahkan daging dan durinya. Setelahnya ia menyuapi Zi sampai ibu hamil itu sampai kenyang.
"Alhamdulillah..."
Zi meminum air putih, lalu setelahnya ia meminum susu ibu hamil yang tadi dibuatkan oleh Fatih. Ia mengusulkan perutnya yang membesar.
"Kenyangnya..."
"Iyalah. Orang lo aja habis empat piring," sindir Mira.
"Iyakah?" Zi langsung menyengir setelah melihat empat piring bekasnya.
Fatin datang membawa sepiring cookies cokelat. "Kak Zi, mau ini gak?"
Mata Zi berbinar seketika. "Mau, mau!"
Mira yang melihat itu geleng-geleng kepala heran. "Katanya udah kenyang, tapi malah dimakan," gumamnya.
Tak lama Fahri datang membawa semangkuk berisi buah pisang, apel, pir, strawberry dan anggur yang sudah ia potong-potong. Itu adalah menu makanan yang harus ada setiap hari untuk Zi.
"Nih, kak, buahnya."
Zi menerima mangkuk itu dengan senang hati. "Makasih."
Fatih sedari tadi memperhatikan bagaimana cara istrinya makan yang menggemaskan. Makan dengan bibir yang mengerucut dan pipi chubby miliknya mengembung. Jika saja disini tidak ada mertuanya, sudah ia pastikan istri kecilnya itu akan ia kurung dalam kamar.
"Makannya pelan-pelan," ucap Fatih sambil membersihkan noda cokelat di sudut bibir istrinya.
"Ewnwak."
Pipi Zi yang memang chubby terlihat semakin lucu kala pipinya mengembung karena makan. Andai saja ini sepi, sudah pasti Fatih akan mengurung istrinya.
Melihat tatapan penuh cinta Fatih kepada Zi membuat Mila yakin jika memang putrinya jatuh kepada orang yang tepat. Orang yang mencintai sepenuh hati meskipun dengan kejadian yang tidak terduga sama sekali.
"Oh iya, Mira kemana? Daritadi kok gak kelihatan," tanya Zi entah kepada siapa.
"Mira tadi keluar sama Raka, gak tau kemana," jawab Chiko. "Udahlah, gak usah dicariin, tuh anak kan emang hobinya sering ngilang," lanjutnya.
Zi mengangguk setuju. Pernah waktu kecil dulu, Mira tiba-tiba menghilang entah kemana. Satu rumah dibuat panik sampai-sampai orangtua Mira menelpon orangtua Zi.
Hingga menjelang sore Mira berjalan santai masuk ke rumah dengan bola basket di tangannya. Para orangtua hanya bisa menghela nafas lelah, tak tega memarahi Mira saat gadis itu menatap mereka dengan tatapan polos khas anak kecil.
"Assalamualaikum ya akhi ya ukhti."
"Waalaikumsalam."
"Panjang umur, tuh orangnya."
Mira duduk di samping Zi dan membuat Fatih tergeser. Fatih berdecak, mau tak mau ia harus menyingkir dulu dan pindah duduk di samping Raka.
"Lagi ngomongin Mira yang syantik ini, ya?"
"Bukan, lagi ngomongin sepupu perempuan gue," jawab Zi.
"Sama aja Cipto! Emang lo punya sepupu lagi selain gue? Gak ada tsay." Mira mencomot buah di mangkuk Zi, membuat sang empu menangis.
"Kenapa dimakan?"
Seketika suasana menjadi tegang, kecuali Mira yang tidak tahu mengapa Zi menangis.
Chiko yang kesal dengan ketidakpekaan Mira menempeleng kepalanya. "Kenapa lo makan sih buahnya?"
"Lah, gue kan juga pengen, lagian gue baru makan satu." Mira membela dirinya sendiri.
"Zi lagi sensitif, udah diam aja."
"Lagian Zi semenjak hamil kok tambah cengeng?"
"Namanya juga ibu hamil. Besok-besok kamu juga ngalamin hal yang sama, Mira," ucap Mila.
Raka dan Mira langsung terdiam. Bahkan mereka saja tidak terpikirkan kesana. Karena pernikahan yang mereka jalani ini tidak mereka anggap serius. Ah, tidak! Mungkin hanya Raka saja yang tidak menganggap pernikahan ini serius.
"Aku mau ke kamar dulu, ya, Bunda."
Tanpa menunggu balasan yang lain, Mira segera berlari. Mencoba menghindar, takut pembicaraan berganti topik dan membahas hubungan pernikahannya.
Mata Zi memicing. Ia tahu betul gelagat Mira yang berusaha menghindar. Sedetik kemudian ia mengedikkan bahunya.
Tata udah nyiapin lapak sendiri buat Mira, jangan terlalu ikut campur, batinnya.
.
.
.
Jangan terlalu dipikirkan ucapan Tante Mila
Jangan dipikirkan? Bagaimana bisa ia tidak memikirkan ucapan bunda Mila?
Ingin sekali Mira mengungkapkan semuanya kepada semua orang.
Berteriak bahwa ia ingin keluar dari pernikahan yang menyesakkan ini, pernikahan yang menyakiti hatinya.
Lo harus bertahan, demi bokap lo, Mira...
To be continued...
.
.
.
Huhu😭
Gak kerasa ini udah chapter 36, itu artinya udah hampir selesai ini cerita.
Maaf kalau update kelamaan.
Jangan lupa vote dan komen, Assalamualaikum...
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD & SENGKLEK GUS (END)
Подростковая литератураKomedi - romance (Saran aja, baca GUS & NING dulu biar tahu alurnya) Seorang gadis kota harus masuk Pesantren di keluarga Fatih karena perintah orangtuanya. Baru saja menginjakkan kakinya disana, gadis itu bertemu dengan Fatih. Fatih yang tak senga...
