Hari ini adalah hari pemakaman, ketiga jenazah tersebut diletakkan bukan di rumah mereka masing-masing, tetapi di markas. Karena akan dimakamkan secara bersama, agar bisa berlanjut dengan bersamaan.
Gio, Vandro, dan Terri terlihat tampan menggenakan jas hitam. Biasanya terpancar senyum dari bibir mereka bertiga, tapi kali ini tidak, hanya ada mata tertutup sempurna, dan bibir pucat yang menghiasi wajah tampan mereka.
Rangkaian bunga berjajar rapi di halaman markas. Banjir ucapan duka dari semua orang. Media internet juga banyak yang menyebarkan berita tersebut.
Dari sekian banyak orang yang melayat, ada satu orang yang merasa sangat bersalah, dia adalah Samudra. Yang membunuh 3 orang sekaligus dalam satu waktu. Disamping kanan dan kiri Samudra ada polisi yang menjaga dia.
"Maafin gue, maaf, maaf," banyak kata maaf yang terucap dari mulut Samudra.
"Gara-gara lo! mereka meninggal! karena dendam lo yang udah bikin lo buta! sampai tega bunuh mereka!" ujar Lio emosi.
"Kalau aja waktu itu lo cari tau kebenarannya dulu tanpa harus dendam! ini semua ga akan terjadi! dan pasti sekarang kita lagi kumpul di markas ini dengan suasana bahagia! bukan duka!" lanjut Lio.
"Lio, udah, kamu jangan marah kayak gini. Mungkin ini udah takdir mereka bertiga," ujar Vania mencoba menenangkan Lio, walaupun dirinya juga merasa sangat terpukul setelah kehilangan putra tunggalnya untuk selamanya.
"Bun, kalau bukan karena kejadian itu! pasti mereka masih sama aku, bun. Mereka masih kasih aku semangat buat raih cita-cita aku bun!"
"Walaupun bukan karena Samudra pun, kalau emang udah takdir, kita ga bisa melawan, lio"
"Tapi aku masih butuh mereka bun, mereka sebagai teman cerita aku yang baik," ucapan Lio mulai melirih, air mata berjatuhan dari matanya.
"Kita kesana ya," ajak Vania.
"Bangun ya, gue mohon. Kalian yakin ga mau liat kita berempat lagi? gue kangen sama kalian. Harusnya sekarang kalian berjuang buat masa depan, tapi kenapa malah pergi? kalian bisa buat janji palsu juga ya ternyata," Alex mengatakan hal tersebut dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Seharian kalian tidur terus, ga cape apa itu mata merem mulu? coba buat bangun lah. Kalau kalian bangun, gue janji bakal jadi orang yang ceria, bukan dingin kayak biasanya. Tapi gue mohon, kalian bangun ya," ujar Devan, selama satu malam dia tidak berhenti meneteskan air matanya.
"Ndro, Ter, Yo, kita berantem lagi yuk kayak biasanya. Kita ketawa bareng lagi yuk, jangan tidur kayak gini. Gue cape nangis, pengen ketawa bareng kalian lagi. Ayo bangun, banyak yang nunggu kalian disini," ujar Marcel dengan keadaan yang sama seperti Devan dan juga Alex.
Lio datang didepan peti mereka bertiga setelah meluapkan emosinya tadi.
"Kalian udah lupa sama kita? Vandro, lo bilang mau jadi dokter bedah kan? ayo wujudin. Gio, lo katanya mau kuliah di luar negeri, kok ga jadi? padahal gue mau kuliah bareng sama lo. Terri, lo katanya mau ngembangin usaha sablon yang lo punya. Mana? kok ga jadi?" ujar Lio.
"Ayah kecewa sama kamu, janji kamu ke ayah mau nerusin perusahaan keluarga kita. Katanya mau bikin ayah sama bunda bangga, malah kamu bikin ayah sama bunda sedih," ujar Damian parau, dia kehilangan putra semata wayangnya.
"Bang, waktu itu abang janji mau bareng Zira terus, tapi malah pergi. Sama aja kayak kakak kandung Zira, pergi ninggalin Zira. Janji abang ke Zira belum di wujudin lho bang. Mau ajarin aku bela diri kan?"
"Anak bunda, kamu bahagia disana ya nak. Bunda bangga karena bisa punya anak kayak kamu. Bunda bangga bisa lahirin kamu, bunda bahagia banget karena kamu udah hadir dalam hidup bunda walaupun hanya sebentar. Apapun yang terjadi disana, jangan lupa jenguk bunda lewat mimpi ya ganteng. Biar bunda selalu bisa liat kamu tiap hari. Sekarang ga ada yang ganggu bunda masak lagi dong, biasanya kamu selalu ganggu bunda. Selalu nyicip masakan bunda, minta bunda buatin cemilan kamu. Bikinin susu buat sarapan, beliin cemilan cokelat," ujar Vania.
KAMU SEDANG MEMBACA
EGRYROS
Teen FictionPersahabatan yang terjadi antara 7 orang lelaki. Terbentuk awalnya hanya karena pertemanan biasa yang terjadi di sekolah ternama, pada kota Bandung. Semuanya berjalan dengan lancar dan kompak, tetapi suatu hari, sebuah takdir mengejutkan datang dian...
