Bagian 5

421 31 0
                                        

Malam hari tepat pukul tujuh Cakra datang dengan motornya. Diandra yang baru saja selesia mandi membiarkan Cakra untuk menunggu seorang diri di ruang tamu.

Cakra menyandarkan kepalanya pada sofa. Memperhatikan sekitar rumah milik pacarnya. Helaan napas lepas begitu saja. Ia membuka dompet dan nampaklah foto dirinya dan Diandra yang mereka ambil kurang lebih enam bulan yang lalu tepatnya saat Diandra memenangkan olimpiade sejarah antar kabupaten.

Sesenang itu Diandra kala itu. Tapi kabar buruk dirinya terima pada malam hari. Diandra meneleponnya dan mengatakan jika ayahnya kurang puas dengan hasil yang Diandra dapatkan. Ayahnya tidak suka Diandra memenangkan juara ke dua.

Jika mengingat momen-momen seperti itu membuat Cakra bertekat untuk melindungi Diandra dan menjadikan Diandra sebagai istrinya agar tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti Diandra tanpa kecuali ayahnya sendiri.

Aksi diamnya di akhiri dengan kehadiran tangan Diandra yang tiba-tiba mengusap keningnya. Cakra memejamkan mata menikmati setiap usapan yang di berikan oleh Diandra.

"Jadi ngantuk." katanya di jawab tawa oleh Diandra.

Cakra menegakan tubuh, memutar badan 90 derajat agar bisa menatap pacarnya. "Cantik sekali." pujian itu keluar begitu saja. Melihat Diandra yang menggerai rambut dan ber make-up tipis membuat Cakra lupa dengan tujuan utamanya.

Diandra memang jarang sekali memakai make-up. Jika sekolah pun hanya memakai bedak agar tidak pucat dan sedikit liptint.

Plak!

Diandra menabok pundak Cakra pelan. Ia berjalan memutar agar bisa duduk di samping Cakra. "Ayo, jangan kebanyakan ngelihatin gue! Nanti lo makin cinta sama gue!"

Cakra berdecak. Membenturkan keningnya dengan kening Diandra secara sengaja. Lalu laki-laki itu beranjak dari duduknya, mengulurkan tangan dan di terima langsung oleh Diandra.

"Ayo kita ke pasar malam!" seruh Diandra senang.

Sampai di pasar malam Diandra langsung meminta Carka untuk menaiki satu wahana yang cukup menantang, di mana jika kita menaiki itu maka jantung kita akan di uji. Kora-kora.

keduanya sudah naik. Diandra tersenyum melihat wajah panik Cakra. Cakra sedikit takut dengan permainan ini.

"Payah! Masa gini doang takut!" ledeknya.

Laki-laki itu menatap Diandra tanpa suara, lalu perlahan kora-kora ini mulai bergerak. Gerakkan yang semula pelan mendadak menjadi cepat dan akhirnya Cakra berteriak keras dengan tangan yang mengenggam tangan Diandra kuat. Diandra tertawa di selingi dengan teriak.

Lima belas menit lamanya akhirnya mereka turun. Cakra langsung memuntahkan isi perutnya ketika mereka baru saja turun. Diandra yang panik dan merasa bersalah membawa Cakra duduk di tempat bakso yang sepi.

"Ga papa, kan?" Cakra menggeleng lemah.

"Pak, mau teh manis hangatnya, bisa?"

Pedagang bakso yang merangkap menjadi penjual aneka minuman itu mengangguk. Membuatkan pesan Diandra.

"Maaf, ya. Gue ga tau kalo bakalan sampai muntah."

Cakra mengangkat kepala merasa sudah enakan. Ia mengusap kepala Diandra penuh perhatian. "Gue gapapa, Di. Pesen bakso sekalian, ya?" tawarnya.

Diandra mengangguk.

"Pak, mau baksonya dua. Satu campur satunya lagi jangan pakai bawang goreng, ya,"

Penjual itu mengangguk sembari memberikan segelas teh hangat pesanan Dindra tadi. Cakra meminum teh itu hingga tersisa setengah.

Diandra tersenyum. Cakra memang yang terbaik untuk segala hal. Bahkan Cakra hafal apa saja yang tidak ia sukai. Termaksud bawang goreng.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang