Gadis dengan rambut di cepol asal itu sedang duduk di tepi lapangan menyaksikan Cakra yang sedang bermain basket di jarak sepuluh kaki darinya.
Cara Cakra bermain membuat Diandra terkagum. Semangat Cakra dalam memasukan bola ke dalam ring begitu memukau Diandra yang baru pertama kali melihat Cakra bermain basket.
Selama satu tahun lebih berpacaran, baru kali ini Diandra melihat seorang Cakra Raditya Samudra bermain basket. Ini adalah salah satu hal yang membuatnya bersemangat melihat aksi pacarnya itu hingga ia merelakan jam pelajarannya.
Ini adalah momen yang langkah. Benar-benar langkah yang harus di abadikan dalam kenangan.
"Tangan gue gatel pengen ngelap keringetnya. Sumpah!" ocehnya sendiri.
Keringat yang mengalir di pelipis Cakra membuat jiwa gatel yang ada di dalam diri Diandra keluar. Rasanya ia ingin menghampiri Cakra untuk menyeka keringat itu.
"Bunda, tolong! Cakra menggoda sekali..."
"Aduh!" reflek Diandra karena telinganya tiba-tiba saja di jewer oleh seseorang.
"Iya menggoda. Menggoda, sampai pengen Ibu gadaikan!"
Bersamaan dengan suara itu Diandra menoleh lalu cengiran kudanya keluar. Ada bu Maya dengan wajah menyebalkannya yang sedang meledek serta tangan yang menjewer telinganya.
"Eh, Ibu..."
"Eh, Ibu. Eh, Ibu." ulang bu Maya mengikuti cara bicara Diandra tadi. "Ngapain kamu di sini sendirian? Teman-temannya lagi belajar juga!"
"Nonton pacar dong, Bu. Emang mau apa lagi?"
Bu Maya mengencangkan jewerannya hingga membuat Diandra mengaduh lebih keras. Siswanya yang satu ini memang sedikit bandel.
"Sekarang bangun terus ikut, Ibu!"
Dengan terpaksa Diandra bangun menuruti keinginan guru BK yang tangannya masih setia berada di daun telinganya. Berjalan menuju ruang BK yang ada di pojok sana.
Di lapangan, Cakra melihat itu. Satria dan Baihaqi yang sama melihatnya pun hanya bisa geleng kepala melihat tingkah pacar temannya.
"Sih Dian ga ada takutnya, Boss."
"Hooh. Bisa-bisanya di jewer sama guru BK dia malah nyengir. Kalo gue udah keringet dingin kali." ucap Satria menimpali omongan Baihaqi tadi.
"Pacarnya Cakra emang legend." balas Cakra.
Baihaqi tertawa. "Dia terkesima kali, Boss. Ngelihat lo main basket."
Cakra menghedikan bahu. "Maybe."
Ragazza
Di sini Diandra sekarang. Di dalam ruang BK dengan setumpuk kertas di depannya. Guru BK itu menariknya ke dalam ruangan ini hanya untuk di jadikan mesin pelipat surat edaran.
Sialan.
"Yang ikhlas, jangan di tekuk gitu mukanya." sindir bu Maya yang tengah melakukan hal yang sama dengan dirinya.
"Ga ikhlas saya, Bu. Mending di hukum di lapangan deh, Bu." jawab Diandra.
"Panas, Dian. Kamu ini, ya. Di kasih hukuman yang enak malah minta yang susah."
"Di lapangan, kan, saya bisa sambil lihat pacar, Bu. Ganteng banget dia tadi." jawabnya lagi semakin menjadi.
"Orang keringetan gitu di bilang ganteng. Mata kamu bermasalah?"
Dindra menatap bu maya sekilas yang duduk bersebrangan dengan dirinya. "Justru itu, Bu. Keringatnya itu seakan memanggil untuk di seka dengan tangan manjaku ini." jemari kanan Diandra sengaja gadis itu gerak-gerakkan di depan wajah bu Maya hingga membuat guru itu gregetan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Novela JuvenilSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)