Bagian 18

267 23 0
                                        

"Cakra?"

Laki-laki itu tanpa mengatakkan apapun berjalan begitu saja membuat Diandra mengikuti laki-laki berseragam berantakan itu. Cakra melangkah mengarah pada lorong yang sepi.

Diandra ikut menghentikan gerak kakinya saat kaki Cakra terhenti. Cakra berbalik badan menatap Diandra dari atas sampai bawah. Pandangan meneliti.

"Cak-"

"Apa!?"

Diandra terpaku sebentar mendengar bentakan dari Cakra. Otaknya loading kala sadar jika yang membentaknya tadi adalah Cakra.

"K-Kok, bentak?"

Dengan mata yang melotot serta kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana, laki-laki di hadapannya ini membuang wajah lalu meludah kasar.

Cuih!

"Hebat juga, ya, lo, Di. Jalan sama cowok orang,"

Sudah Diandra duga jika Cakra akan marah. Namun sorot mata Cakra terlihat tenang tapi mulut Cakra seakan berusaha membuat suasana menjadi menegang. Ini sedikit aneh, marahnya Cakra tidak biasa. Marahnya Cakra nampak di paksa.

"Enggak, gitu, Cakra. Gue tadinya mau izin sama lo tap-"

"Tapi apa? Hah?!" potong Cakra.

"Gue takut ga di bolehin. Gue takut lo larang gue jadinya gue ga bilang."

"Jelas kalo gue ngelarang lo. Lo pacar gue. Cowok mana yang ga marah lihat ceweknya jalan sama cowok orang? Hah?!"

"Zain temen SMP gue, Cakra. Gue ga enak kalo nolak. Toh, kemarin lo ga ada kabar seharian."

"Oh..." Cakra berdecih. "Gue baru ga ada kabar seharian aja lo udah berani jalan sama cowok orang. Gimana kalo gue tiba-tiba pergi keluar negeri dan itu tanpa kabar. Lo bakal apa? Tidur sama temen lo itu? Iya?!"

Cakra menggeleng-gelengkan kepala. "Segitu gilanya lo, sama kabar."

Mulut Diandra terkaku. Ucapan Cakra melukai hatinya.

Kedua tangan Cakra di letakkan di pundak Diandra. Mencengkram pundak gadis berkuncir satu itu dengan kencang hingga Diandra dapat merasakan kuku-kuku milik Cakra menembus kulitnya.

"Gue kecewa sama lo, Di. Lo makin kesini makin sesuka hati."

Diandra menonggak, menatap mata hitam milik Cakra.

"Kalo udah bosen sama hubungan ini, bilang, Di. Kita break dulu sebentar sampai rasa bosan lo hilang. Gue ga marah kalo lo jujur, tapi kalo lo kaya gini gue marah. Gue benci lo yang sesuka hati."

Diandra menggeleng kepala histeris. Wajahnya sudah memerah, air mata sudah turun satu persatu membasahi pipinya. Bukan, ia bukan seperti yang Cakra katakan.

"Maaf. Bukan maksud gue kaya gitu, Cakra. Gue cuma ga enak sama Zain. Udah, itu aja." kata Diandra pelan. Mata gadis itu memerah.

Cakra membuang wajah tapi masih dengan tangan yang berada di pundak Diandra. "Gue ga yakin bakalan sabar sama lo, Di."

"Gue benar-benar minta maaf, Cak. Gue ga tau kalo bakal begini jadinya."

Kedua tangannya di lepaskan dari pundak Diandra. Kakinya mundur dua langkah menjauh dari Diandra. "Gue kecewa sama lo, Di." itu menjadi kalimat terakhir yang seorang Cakra keluarkan. Setelah itu Cakra langsung pergi meninggalkan Diandra yang menangis dalam diam.

Ragazza

Tiga guru wanita yang terlihat cantik dengan riasan wajah mereka masing-masing itu tengah duduk bersama di satu ruangan. Hanya ada mereka bertiga karena yang lainnya sedang berada di kelas untuk mengajar.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang