Bagian 28

315 25 3
                                        

Mobil berhenti di teras rumah besar dengan dua lantai milik Lio. Diandra turun tanpa membawa tas atau plastik miliknya. Supir pribadi tantenya menyarani untuk membiarkan tasnya di dalam mobil saja.

Sementara kini. Ia sudah masuk di dalam rumah besar milik ayahnya dan terkaget ketika tau jika di dalam bukan hanya ada ayah dan tentenya saja, melainkan ada tante Lia beserta suami, Arga, Syakilla dan om Alga. Om kesayangannya.

Diandra berlari kecil menghampiri Alga-suami Abila yang tengah berdiri dengan tangan bersedekap dada. Di sampingnya ada om Kenan-suami tante Lia.

Diandra menyalimi Alga kemudian di susul oleh Kenan. Dengan kemanjaan yang tidak bisa ia timpalkan pada sang ayah, Diandra memilih menimpalkannya pada Alga yang begitu tulus menyanyanginya.

Alga membalas pelukan keponakannya dengan hangat. Ia sangat menyanyangi Diandra dan sudah menganggap Diandra adalah anaknya. Diandra berhak mendapatkan kasih sayang darinya dan istri sebab gadis manis ini tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan dari sang ayah.

"Kenapa lama sekali?" Kenan bertanya.

Diandra melepaskan pelukannya, menatap Kenan tertawa. "Ada urusan sebentar tadi, Om." jawabnya.

"Ini ada apa, ya, Om? Kok rame banget?"

Kenan menunjuk sofa bermaksud menyuruh Diandra untuk duduk dahulu di samping dua tantenya. Diandra menurut, duduk di samping Abila yang kosong.

"Anakmu sudah di sini, Lio. Silahkan di jelaskan apa yang harusnya di perjelas." suara Kenan mengintrupkan Lio untuk melakukan hal yang seharusnya.

Diandra bagai boneka. Ia hanya diam tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mengapa suasananya tegang?

"Ok." jeda Lio menatap Diandra. "Saya akan bercerai dengan Ibu tirimu."

Gadis itu terdiam, matanya sempat tidak berkedip beberapa detik. A-Apa ini?

"Saya tau ini bukan urusanmu. Tapi mereka semua memaksa saya untuk mengajak kamu bergabung dalam pembicaraan ini karena kamu anak saya." kembali berucap dan lagi-lagi Diandra hanya diam.

"Saya dan Fiona sudah mantap untuk berpisah atas dasar kemauan hati dari kedua belah pihak." Lio menatap Arga yang duduk diam di samping Syakilla. "Papih ga akan lepas tanggung jawab. Terserah Arga mau ikut siapa, yang terpenting Papih ga akan lupa dengan tangung jawab Papih sebagai orang tua kamu."

Syakilla menyentuh pungung tangan Arga. Arga menatap Syakilla tanpa suara lalu beralih memperhatikan papih dan mamihnya yang duduk bersebelahan.

"Arga ga tau keputusan ini benar atau salah. Tapi Arga mohon satu hal sama kalian berdua untuk jangan lepas komunikasi sampai kapan pun." ucap Arga lemas.

Diandra memperhatikan Arga dan kedua orang tuanya. Ada apa di keluarga ini? Mengapa tiba-tiba bercerai? Dan mengapa Arga terlihat sangat tersiksa? Bukankah selama ini Diandra melihat keluarga ini selalu harmonis?

"Arga ingin ikut siapa, Nak?" Abila bertanya.

Arga menunduk, memejamkan matanya. Ia belum memutuskan akan ikut siapa. Ini pilihan yang sulit untuknya. Tidak mungkin bisa di putuskan dalam hitungan menit.

"Walau kamu ikut Mamihmu, Papih janji akan selalu buka pintu rumah ini untuk kamu. Kapanpun kamu ingin, kamu bisa dateng kesini kapapun." kata Lio.

Arga menggeleng. Kepalanya tertonggak lalu menatap seluruh anggota keluarganya termaksud Diandra yang masih belum mengerti dengan keadaan ini.

"Arga ga bisa milih." setelah mengatakan satu kalimat itu, laki-laki berpakaian seragam lengkap itu berlari meninggalkan ruang keluarga dan memilih menaiki anak tangga.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang