Kamar dengan cat berwarna putih itu di isi oleh Cakra yang terlihat santai dengan gitarnya. Hari minggu ini ia tidak berniat kemana-mana. Ia hanya ingin memanjakan diri sendiri dengan caranya tanpa mau di ganggu.
Ponselnya berbunyi tanpa notifikasi pesan masuk. Laki-laki itu meletakan gitarnya lalu mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Ponsel berwarna putih itu ia letakkan kembali ketika tau jika pesan tadi bukan dari ponsel itu. Lantas Cakra bangkit untuk mengambil ponsel yang lain yang ada di atas nakas. Ponsel berwarna gold itu ia buka dan nampaklah pesan dari Diandra.
|Cakra.
|Lo lagi dmna?
|Temenin gue belajar, yuk. Gue bosen.
|Ga bisa.
|Gue lg di bgr sama Mamah.
|Oh, yaudah deh.
|Y.
Setelah selesai berurusan dengan Diandra ponsel itu di letakkan di samping ponsel putih tadi. Cakra kembali mengambil gitarnya dan nada-nada indah mulai terdengar.
Ku coba ungkap tabir ini...
Kisah antara kau dan aku.
Terpisahkan oleh ruang dan waktu.
Menyudutkanmu, meninggalkanku.
Ku merasa t'lah kehilangan.
Cintamu yang t'lah lama hilang...
Kau pergi jauh karena salahku.
Yang tak pernah menganggapmu ada.
Asmara... Memisahkan kita. Mengingatkanku pada dirimu.
Ge... Lora. Menginggatkanku. Bahwa cintamu t'lah merasuk jantungku.
Sejujurnya, ku tak bisa-
"Radit. Ada teman-temanmu tuh di bawah."
Suara pas-pasan milih Cakra terhenti karena ulah mamahnya yang membuka pintu dan mengatakan jika ada teman-temannya di bawah.
Cakra hanya mengangguk lalu meletakkan gitarnya di tempat semula. Kedua ponsel tadi ia masukkan ke dalam saku jaket yang berbeda. Kunci motor yang ada di nakas pun tidak tertinggal.
Setelah merasa semua siap, ia keluar dengan pakaian yang rapih. Sampai di bawah Cakra menatap datar dua temannya yang selalu membuat hidupnya tidak tenang.
Satria dan Baihaqi.
"Ayo. Anak-anak udah pada nunggu." ucap Satria ketika Cakra baru saja memijakkan kakinya di ruang tamu.
"Semalem bilang ga jadi, kenapa dadakan?" Cakra bertanya.
Baihaqi menghedik bahu. Ia hanya mengikuti yang lain.
"Lo mau jalan sama Diandra?"
Cakra menggeleng menjawab pertanyaan Satria.
"Yaudah, santai aja lah kalo gitu." sambar Baihaqi.
"Ayo." ajak Cakra. Ketiganya berjalan keluar rumah dengan helm mereka masing-masing. Helm mahal yang tidak boleh di tinggal di sembarangan tempat.
Ragazza
Minggu ini benar-benar minggunya belajar. Diandra sama sekali tidak ingin keluar rumah. Tadi ia sempat merasa bosen dengan dunia sejarah yang sedang ia tekuni. Lalu ide muncul untuk meminta Cakra menemaninya namun Cakra sedang ada di bogor dan itu membuat semangatnya untuk belajar berkurang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Novela JuvenilSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)