Bagian 29

309 26 6
                                        

Malam hari tiba. Cakra dengan ketampanan dan kepintaran dalam memilih pakaian itu kini sedang berada di depan rumah dengan teras yang sedikit terbuka. Sedangkan dirinya sendiri tengah duduk di atas kap mobil hitam miliknya.

Tidak lama, muncul seorang gadis dengan dress yang cantik dan terlihat pas di tubuhnya. Gadis itu tersenyum manis pada Carka yang langsung menyambutnya dengan rentangan tangan. Spontan Sintiya memeluk Cakra dengan manja.

"Cantik banget pacar aku." puji Cakra membuat Sintiya tersipu.

"Emang kemarin-kemarin aku ga cantik?" rambut rapih Sintiya menjadi berantakan oleh Cakra. "Cantik dong. Selalu."

Sintiya terkekeh. "Omongan buaya."

"Mau kemana?" sambungnya bertanya. Dirinya sudah melepaskan pelukan manja mereka.

Cakra membuat gerakkan seolah-olah berfikir dengan telunjuk yang ia tempelkan di dagu. "Ummm, kamu maunya kemana?"

"Aku. Aku mau makan dulu, boleh?"

Laki-laki berpakaian hitam itu terkekeh. "Boleh dong. Memang apa yang ga pernah aku kasih buat sih jutek ini?" tangannya di mainkan di pipi Sintiya.

"Is, bisa aja." malu Sintiya.

Sambil tertawa Cakra membukakan pintu mobil bagian penumpang samping kursi kemudi untuk Sintiya. "Silahkan masuk, Babe."

"Terima kasih, By."

Ragazza

Kamar kosong dengan nuansa putih itu kini sudah di tempati. Arga duduk di atas ranjang, memperhatikan sekitar kamar yang akan ia tempati untuk beberapa hari kedepan.

"Kamarnya emang kecil, tapi ada kamar mandi di dalem kok." ujar Diandra yang sedang menata pakaian milik Arga di dalam lemari.

"Ga usah bacot, rapihin aja baju gue." sentak Arga. Laki-laki berumur enam belas tahun itu memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Diandra yang mengalah dan tidak mau ribut kini hanya diam. Tujuannya bukn untuk ribut, tapi ingin membantu Arga agar lebih bisa mengambil jalan yang menurutnya baik.

Selesai dengan merapihkan pakaian Arga. Diandra beralih pada buku-buku milik Arga yang ia letakkan di atas meja. Diandra menatap Arga yang sedang berbaring dengan mata terpejam dan kedua tangan yang di jadikan bantalan. Damai sekali.

"Udah selesai. Gue mau ke kamar. Kalo lo laper, lo bisa masak mie instan atau masak apa aja yang lo mau di dapur. Jangan panggil-panggil gue, gue butuh ketenangan." ucapnya penuh peringatan.

Arga membuka mata, mengubah posisi menjadi duduk dengan pandangan ada pada Diandra yang ingin menutup pintu kamar.

"Kasih gue duit buat beli kopi. Gue ga yakin lo punya kopi."

Gerakkan Diandra tertahan. Dengan tangan yang memegang knop pintu serta arah mata yang ada di Arga membuat napasnya terelah.

"Nanti gue beliin ke depan." jawabnya.

"Kirim lewat dana aja duitnya, atau kasih langsung. Ga usah pelit."

"Nanti gue beliin."

Arga berdecih. "Duit bulanan lo itu banyak! Kenapa pelit banget sih!"

"Duit lima juta ga mungkin gue habisin dalam sebulan cuma buat foya-foya, Ar. Gue butuh tabungan buat masa depan gue. Jangan karena gue bawa lo ke sini, lo jadi seenaknya sama gue. Gue cuma ga tega lihat lo dalam keadaan tertekan."

"Satu lagi. Ayah cuma kasih lo jatah satu hari lima puluh ribu. Itu udah termaksud bensi. Jadi irit-irit gunain duit. Ga usah sok kaya dulu. Stop traktir-traktir temen untuk sementara waktu. Ngerti?"

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang