Perlombaan dimulai. Dua puluh meja sudah di isi penuh dengan dua orang di setiap meja. Hanya Diandra saja yang duduk seorang diri tanpa adanya teman.
Diandra menatap lembar kertas dengan tatapan ragu. Ada dua belas lembar yang di satukan dan itu harus ia kerjakan seorang diri dalam waktu dua puluh menit.
MC sekaligus wasit dalam lomba kali ini maju ke depan. Membawa pluit merahnya.
"Baik anak-anak. Babak pertama akan di mulai dengan mengerjakan soal pilihan ganda yang ada di depan kalian dalam waktu dua puluh menit. Kalian harus sudah mengangkat tangan ketika peluit selanjutnya berbunyi. Paham?"
"Paham!" sorak para peserta.
Satu orang juri maju, berdiri di samping MC tadi untuk meminta mic yang sedang pria itu pegang.
"Selamat pagi anak-anak!" jedanya menatap seluruh peserta lomba. "Saya dan para juri sudah berdiskusi mengenai Diandra perwakilan dari SMA Mutiara. Diandra memang datang sendiri sebab patnernya menolak untuk ikut dalam lomba ini dan lebih memilih ikut serta dalam seleksi pertukaran pelajar di Yogyakarta. Pihak sekolahnya baru saja mengkonfirmasikan pada kami tadi." hentinya.
Diandra melirik bangku penonton yang mulai berisik membicarakannya. Ia menatap kursi deretan sekolahnya yang tiba-tiba penuh padahal semula bisa di hitung dengan jari.
"Pihak sekolah tidak bisa mengambil siswa atau siswi lain sebagai pengganti patner Diandra sebab waktu yang di miliki hanya tersisa dua hari. Jadi, saya mohon dengan sangat untuk tidak berkata kasar atau menyudutkan Diandra sebab itu bisa membuat kinerja otaknya turun."
"Kalian sebagai sesama peserta wajib saling menguatkan sebagai teman. Walau kalian dari sekolah yang berbeda dan saya yakin belum tentu kalian mengenal lawan kalian di sini," menjada. "Jadi, untuk terakhir kalinya saya mengatakan dengan tegas, jangan mendeksriminasikan Diandra. Bukan karena saya di pihak Diandra, tapi saya bicara sebagai juri yang mempertimbangkan segalanya. Toh, saya juga tidak tau siapa Diandra, asal mana dan anak siapa. Saya hanya tau jika Diandra adalah peserta dari SMA Mutiara." juri wanita itu tersenyum. "Jadi, sportif lah dalam lomba. Sekian, terima kasih." juri wanita itu menyerahkan mic pada MC tadi.
"Baik. Tadi adalah ucapan yang wajib kalian dengarkan." MC itu menarik napas panjang. "Mari kita mulai dalam hitungan tiga. Tiga...dua...satu!" pluit di tiup. Para peserta mulai membagi dua lembar kertas yang ada di meja terkecuali Diandra yang mengerjakan seorang diri.
Diandra mulai membaca soal dengan tenang tanpa memperdulikan kegaduhan yang di sebabkan dari para suporter yang duduk di kursi penonton dengan teriakan dan tepuk tangan yang begitu kencang.
Bu Nadia menatap bu Maya yang duduk di sampingnya. Dua guru tadi berhasil mengelabuhi pihak juri dan panitia atas ketidak adanya patner Diandra. Bu Maya mendekatkan bibirnya pada telinga bu Nadia. "Saya dengar Ayah dan Ibu Diandra akan datang, Bu." bisik bu Maya.
Mata guru bagian kesiswaan itu melotot. Ia menatap bu Maya dengan tatapan tidak percaya. "Serius?" tanyanya tanpa suara. Bu Maya mengangguk.
Bu Nadia langsung menatap Diandra di depan sana yang sedang serius mengerjakan soal di depan matanya. Ia menoleh pada bu Aluna yang duduk di sisi lain. "Saya keluar sebentar, Bu." izinnya di mengerti oleh bu Aluna.
"Mau kemana, Bu?!" tanya bu Maya sedikit berteriak ketika melihat bu Nadia bangun dari duduk dan melewatinya.
"Toilet!" jawab bu Nadia.
Kembali pada Diandra yang masih berkutat dengan lembar perlembar di depan. Ia melirik jam di lengan kirinya. Tujuh menit lagi. Tidak boleh menyerah. Bagaimana pun caranya ia harus menang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Fiksi RemajaSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)