Bagian 36

364 31 7
                                        

Dua hari paska kejadian itu. Diandra tidak masuk sekolah dengan absensi kelas alfa. Kedua temannya termaksud Gevan dan Putra terus menghubinginya namun tidak ada yang ia balas. Bahkan, Gevan yang sangat gentar mengiriminya pesan dan juga panggilan telepone tidak Diandra gubris sama sekali.

Kini, ia sedang duduk di taman depan rumah dengan piyama tidur yang sejak pagi belum ia lepas. Ya, Diandra belum mandi sampai pukul dua siang.

Gadis itu menarik napas, melirik ponsel yang berdering nyaring tanda panggilan masuk. Panggilan dari Selina. Panggilan itu di abaikan sampai berhenti sendiri.

Ponsel bergetar lagi, kali ini pesan masuk dari sang ayah.

Ayah :
|Tidak masuk sekolah lagi? Mau jadi gembel kamu?

|Nanti saya kesana. Tidak memberi alasan yang masuk di akal, maka, habislah kamu di tangan saya.
Read.

Masa bodo dengan pukulan, tamparan, sambitan dan makian ayahnya. Saat ini dirinya tengah memasuki fase malas hidup. Dua hari ini Diandra mengingat semua perlakuan manusia di dekatnya yang melakukan banyak hal yang di tolak oleh batinnya.

Dua hari ini ia memikirkan tentang kasih sayang ayahnya yang sampai sekarang belum pernah ia rasakan dengan tulus. Dua hari ini ia memikirkan tentang ibu tiri dan adik tirinya yang sampai sekarang belum juga memunculkan rasa penyesalan.

Dua hari ini ia memikirkan tentang kelanjutan kisah cintanya dengan Cakra yang belum memiliki jalan keluar. Dua hari ini ia memikirkan tentang sahabatnya yang dengan tega melakukan menusukan secara perlahan pada dirinya. Dua hari ini, ia memikirkan tentang perbuatan Dodi padanya yang sudah berlangsung hampir empat tahun dan dua hari ini ia memikirkan tentang teror yang cukup menyita pikirannya.

Entahlah. Rasanya kapasitas otak yang ia miliki sudah sangat penuh hingga sudah tidak bisa di gunakan walau hanya untuk sekedar membersihkan ruang.

Rasanya, ia ingin mengakhiri hidupnya dan memilih untuk tinggal di dekat sang bunda.

Pintu gerbang terbuka, membuat fokus Diandra berlalih pada seorang pria dewasa yang tengah berusaha membuka lebar pintu gerbang untuk membawa mobilnya masuk. Diandra dengan cepat masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu utama. Gadis itu dengan panik dan rasa takut yang tiba-tiba mendominasi dirinya masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar. Sakin takutnya, Diandra mencabut kunci lalu di masukkan ke dalam kantung piyamanya. Padahal, jika kunci di biarkan saja di pintu, maka pintu akan sulit untuk di buka.
Diandra juga mendorong meja nakas lalu di letakkan di dekat pintu berfungsi untuk menambah beban agar aman.

Gadis itu duduk di pojok kamar, menekuk kaki dengan wajah yang panik. Air mata tiba-tiba mengalir dengan deras tanpa ia minta. Ini benar-benar perasaan takut yang belum pernah ia rasakan. Entah mengapa perasaannya tidak enak dan hatinya memiliki rasa yang berbeda dari sebelumnya.

"Dian..."

Diandra memojokkan tubuhnya. Suara Dion dekat sekali. Bagaimana pria itu bisa masuk? Apakah ia tidak mengunci pintu dengan benar?

"Manis, kamu di mana?"

Tok...Tok...Tok

"Kamu di dalam, ya, manis?" ucapnya dengan suara yang di buat mendayun.

"Keluar, yuk. Saya butuh teman untuk main, nih. Sekertaris saya membuat adik ini terbangun. Tapi sialnya jalang itu hanya menggoda tanpa mau bertangung jawab."

Diandra semakin ketakutan. Ia sudah besar, ia tau maksud dan jalur ucapan Dion tadi. Ia tidak bodoh.

"Keluar, yuk, manis..."

Knop pintu naik turun. Diandra semakin histeris. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa takutnya lagi. Fikirannya sudah gelap, tidak ada sama sekali cahaya yang bisa membantunya berfikir.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang