Bagian 43

577 32 2
                                        

Hari ini Diandra memilih menyudahi aksi malas-malasannya. Meski ia sudah mengetahui jika ayahnya tidak menafkahi dirinya sama sekali selama ini, Diandra masih mau untuk menuruti perintah ayahnya. Ia tau jika apa yang ayahnya perintahkan cukup tidak berbelas kasih, tapi jika itu untuk masa depan, Diandra akan menurutinya.

Motor Arga berjalan dengan kencang atas perintah Diandra sebagai menumpang di jok belakang. Arga hanya bisa menurutinya sebab aura kakaknya sejak keluar kamar sudah berbeda. Ada kilat kemarahan di mata kakak tirinya.

Diandra sendiri hanya diam. Ponsel di tangannya ia genggam kuat dengan penuh amarah. Pikirannya masih ada di pagi hari tadi di mana tantenya mengirimkan sebuah pesan dan satu foto yang sangat ia kenali.

Ponsel kembali di lirik di mana pesan dari Abila kembali masuk dan membuat amarahnya semakin tidak bisa di tahan.

Tante Abila :
|Ingat, Tante memberitau bukan karena Tante ingin kalian bertengkar. Tapi ini karena sebuah keharusan yang memang harus segera terselesaikan. Kamu ga bisa diam terus menerus sementara dia tertawa bahagia atas pencapaiannya membuat hidup kamu tidak nyaman. Ingat, tanyakan dengan kepala dingin, jangan sampai bermain tangan.

"Sial!" umpat Diandra.

Tangannya menepuk pundak Arga. "Ar, cepetan!" teriaknya.

Motor berjalan cepat sesuai keinginana Diandra. Arga berulang kali melirik spion motornya hanya untuk memastikan keadaan kakaknya.

Motor memasuki area prkiran. Diandra dengan kecepatannya turun dari motor tanpa berkata apapun pada Arga. Arga yang khawatir memutuskan untuk mengikuti langkah lebar kakaknya dari belakang.

Memasuki koridor kelas dua belas, Diandra di jadikan pusat perhatian karena kabar tentang Diandra yang di toror dan di hianati oleh temannya sendiri sudah menyebar dengan luas bahkan sebagian orang terang-terangan menunjukan belas kasihannya pada Diandra.

Telinganya di tulikan. Ia tidak mau mendengar suara kasihan itu. Diandra benci di kasihani. Gadis itu masuk ke dalam kelas di ikuti oleh Arga yang menghentikan kakinya di barisan pertama memilih memperhatikan Diandra dari jauh.

Sintiya dan Selina yang tengah duduk di kursi mereka spontan berdiri menyambut kedatangan Diandra. Gevan dan Kinan yang sedang duduk bersebelahan memilih menatap dalam diam.

Putra mendekat, dengan penuh kesenangan ia merangkul Diandra. Namun laki-laki itu terkejut kala Diandra dengan kasarnya membuang tangannya.

Sintiya mendekat, memberikan senyum miliknya yang membuat Diandra enag.

"Lo dari mana aja, Yan?" tanyanya. Baru saja Sintiya ingin memeluk Diandra namun Diandra kembali memberikan tepisan sama seperti Putra tadi.

Sintiya terheran. Alisnya bersatu tanda bingung.

"Lo kenap-"

"Bisa, ga? Ga usah sok baik di depan gue?" nada suara Diandra terdengar asing di telinga teman-temannya.

"Yan..."

Diandra berdecih, membuang wajahnya kesembarang arah kemudian kembali menatap Sintiya. "Udah, lo ga capek sandiwara terus? Kalo lo dan Cakra mau sama-sama, sok. Ambil aja tuh cowo. Lagian lo berdua cocok. Sama-sama ga tau malu."

"Lo ngomong apa sih, Yan. Kita kan udah pernah bahas ini sebelumnya. Gue sama Cakra cuma sebatas teman kecil. Lo juga udah percaya, kan?" Sintiya ambil suara membuat suasana kelas menjadi lebih serius lagi.

"Temen kecil?" Diandra berdecih. "Temen kecil mana yang gandengan tangan?! Temen kecil apa yang jalan berdua sambil mesra-mesraan?! Temen kecil model apa yang ciuman di depan gudang sekolah?! Teman kecil apa yang setiap hari chattingan dengan panggilan baby?! Hah! Itu yang lo maksud temen kecil?!"

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang