Bagian 4

444 32 0
                                        

"Benar Papih beliin lo motor?"

Diandra menghela napas. Ia tidak suka dengan situasi ini.

"Iya."

Seorang laki-laki yang di ketahui adalah anak kelas X atau adik kelas Diandra ini terlihat kesal dengan Diandra. Diandra sendiri tidak tau apa yang membuat anak ayahnya dari wanita bernama Fiona itu sempai sekesal ini.

Arga. Namanya Arga Geovino. Anak laki-laki usia enam belas tahun yang songongnya melebihi pereman pasar. Suka meminta uang pada dirinya namun dengan cara yang kasar. Arga juga suka tiba-tiba marah atau kesal padanya hanya dengan hal sepele.

Satu sekolah tau jika Arga adalah adik tiri Diandra. Satu sekolah juga tau jika Diandra dan Arga itu tidak pernah akur. Tidak akur dalam hal segalanya. Perbedaan pendapat membuat Arga suka membentaknya dan mencaci makinya di depan umum.

Arga juga sering bertindak kasar padanya meski laki-laki itu tau jika dirinya adalah kakak. Walau tiri.

"Lo pake pelet apa, sih? Sampai Papih sebaik itu sama lo!"

Diandra menghela napas lagi. "Ayah emang ngasih segalanya buat gue tanpa gue minta. Tapi Ayah ga pernah kasih perhatiannya sama gue. Lo itu dapet segalanya, Ar!"

Arga berdecak. "Bulshit tau ga! Lo ngomong gini biar gue iba, kan? Ga ngaruh! Gue bakalan tetep jadiin lo musuh gue sampai kapan pun itu!"

"Mau sampai kapan, Ar? Gue dan lo itu benar-benar beda. Lo bisa tinggal sama Ayah sedangkan gue?"

"Hallah! Lo di beliin rumah dengan harga yang ga murah. Di tambah motor. Kurang apa lo?"

Diandra menyugar anak rambutnya. "Semua itu ga ada gunanya buat gue!"

Arga maju selangkah mendekat pada Diandra. "Lo," telunjuknya menyentuh dada kiri Diandra. "Lo itu benalu di keluarga gue. Asal lo tau, Mamih dan Papih sampai berantem hebat karena lo. Karena rumah yang lo tempatin sekarang!"

"Gue ga pernah minta di beliin rumah, Arga!" bentak Diandra kehabisan kesabaran. Arga memang memiliki mulut yang lentur jika soal beradu argumen dengannya.

"Ga usah banyak bacot! Mau seberapa kuat lo ngebela diri, lo tetep benalu bagi keluarga gue."

Arga meninggalkan Diandra dengan pernyataan nyata. Ucapan Arga barusan membuat debar jantung bersalah kembali terbuka.

Ragazza

Diandra berjalan menuju kelasnya dengan santai tanpa perduli jika dirinya telat masuk kelas. Setiap koridor yang ia lewati sepi bagai tidak berpenghuni.

Kakinya berbelok pada kelas dengan papan bertulis XII IPS 2. Pintu kelas tertutup. Diandra mengetuk pintu itu tiga kali tidak lama ada yang membukanya.

"Dari mana aja lo?!" teriak Marsyanda teman sekalasnya.

Diandra hanya tersenyum.

"Bangun, Bu. Udah jam delapan nih, Bu!"

Diandra duduk di kursi deretan ke tiga dengan begitu santainya. Kelasnya kosong, sepertinya sedang free class.

Selina yang sejak tadi terus meneriakinya memutar badan menjadi menghadap padanya. Sintiya pun ikut melakukan hal yang sama karena mereka sama-sama penasaran dengan alasan Diandra mengapa bisa telat masuk kelas.

"Dari mana aja?" Sintiya bertanya.

"Untuk Bu Ratna ga masuk kelas, coba kalo masuk. Mati lo!" lanjut Selina.

Diandra menghela. "Gue dari taman tadi. Btw kenapa Bu Ratna ga masuk?"

"Ada kerjaan di luar sekolah katanya." jawab seorang laki-laki yang duduk di samping Diandra. Laki-laki cupu yang hanya mau berbicara jika perlu saja.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang