Bagian 40

429 29 0
                                        

Diandra keluar kamar berniat untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Perutnya sejak pagi belum terisi apapun selain segelas air putih pemberian Abila pagi tadi sebelum tantenya izin pulang.

Diandra terkejut melihat ada Arga di dapur yang sedang berkutat dengan piring dan beberapa perlengkapan makan lainnya.

"Mau langsung makan, Kak?"

Terdiam.

Tunggu.

Apa tadi?

Kak?

Tidak salah dengar?

"Hah?" Diandra diam di tempat. Matanya berulang kali berkedip menatap laki-laki di depan sana.

Arga sepintas tersenyum. "Makan dulu, lo belum makan kan dari pagi,"

Diandra mulai memberanikan diri. Ia bukan takut pada Arga, melainkan kaget atas apa yang di perbuat oleh Arga. Mengapa tindakan dan cara bicara Arga berbeda sekali dengan kebiasaannya yang kemarin? Ada apa?

Diandra duduk, masih menatap Arga yang juga duduk di kursi depannya dan langsung mengambil sebuah piring dan sendok. Arga mengambil nasi dan beberapa lauk yang ada di meja makan lalu menyerahkan piring itu pada Diandra. Diandra menerimanya dengan ragu.

"Lo-"

Sambil mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk, Arga memotong ucapan Diandra. "Tadi Tante Abila kesini, tapi cuma antar lauk sama masak nasi. Dia bilang ga bisa nemenin lo lagi hari ini. Dia ada urusan mendadak di kantornya. Besok sore mungkin baru bisa di kesini."

"Ada apa?"

"Hah?" Arga menonggak mengalihkan tatapan matanya dari piring pada Diandra. "Ada apa, apaan?"

"Ada apa sama diri lo?" pertanyaan Diandra membuat gerak tangan Arga reflek turun perlahan. Sendok di tangannya ia letakkan di atas piring. Pandangan matanya ada pada Diandra yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

"Ga tau."

"Ga tau?" ulang Diandra.

Arga mengangguk.

"Ada apa? Lo lagi nyusun rencana buat nyelakain gue-"

"Enggak!" teriak Arga cepat. "Gue. Gue cuma mau memperbaiki hubungan antara lo dan gue aja. Hubungan yang selama ini gue hindari."

"Kenapa?"

"Gue ga tau. Gue ga tau ini pantes gue lakuin atau enggak. Gue cuma mau memperbaiki kesalahan gue sama lo dan izinin gue buat jadi adik yang baik...Kak."

Diandra membisu. Tidak ada yang bisa ia katakan selain diam. Selama Arga berbicara, hanya hembusan napas saja yang bisa Diandra berikan. Sejujurnya kejadian ini benar-benar tidak pernah ada di pikirannya. Ia tidak pernah sama sekali memikirkan bahwa Arga akan melakukan ini padanya. Pelukannya kemarin hanya semata untuk menenangkan dirinya yang sedang ketakutan, bukan karena sebuah rencana. Bukan.

"Kak. Sorry. I'm sorry for everything I did to you. Gue nyesel. Ternyata selama ini lo ga seburuk dan seberuntung yang gue kira. Lo dan gue itu hampir memiliki nasib yang sama."

Diandra membasahi bibirnya yang kering. Menelan silivanya lebih dahulu sebelum mulutnya terbuka untuk mengucapkan sebuah kalimat.

"Gue ga masalah, Ar. Mau cara apa pun yang lo lakuin, gue ga akan bisa nyakitin lo balik. Lo tetap adik gue meski kita beda Ibu." balas Diandra. "Seburuk dan sejahat apa lo sama gue. Gue itu tetap Kakak lo yang sayang sama adiknya dan ga mau adiknya kenapa-napa. Jadi, ga perlu minta maaf." lanjutnya. Ada senyuman yang Diandra berikan untuk Arga.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang