Bagian 12

293 23 0
                                        

Kaki Cakra berlari menelusuri lorong kelas dengan tergesa. Setiap ruangan yang ada di sekolah seperti perpuastakaan, UKS atau toilet sudah ia datangi namun hasilnya nihil. Diandra tidak ada di tempat-tempat itu.

Cakra berhenti sebentar, mengatur napas sambil berfikir di mana Diandra sekarang. Tidak mungkin gadis itu pulang karena tasnya masih ada di dalam kelas dan tidak mungkin juga jika bolos keluar sekolah. Cakra tau sekejam apa ayahnya Diandra.

Wajahnya di usap kasar. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya akibat berlari seperti kesetanan. Ini benar-banar membingungkan.

"Cak! Cakra! Roftoop sekolah!"

Cakra memutar badan mencari suara tersebut. Di sana ada Selina dan juga Sintiya yang tengah berlari sambil menaiki anak tangan. Tanpa banyak bertanya Cakra menyusul kedua gadis itu.

Sampai di tempat yang di maksud oleh Selina tadi. Mereka bertiga nampak diam untuk mengatur napas sebelum membuka pintu untuk menuju roftop.

Dengan napas yang tersegal Selina berucap. "Diandra pasti ada di sini. Cepat cari!"

Sintiya mencari dengan gerakkan cepat. Mengobrak-abrik kardus-kardus yang ada. Selina mencari di bagian pojok roftoop sedangkan Cakra masuk ke dalam ruangan yang ada di sana. Ruangan itu mencuri perhatiannya karena pintunya sedikit terbuka.

Mata Cakra membulat melihat pacarnya tergeletak di atas lantai dengan kedua tangan di ikat ke belakang dan kaki yang juga sama di ikat. Kedua kakinya di tindih dengan papan tebal seperti bekas meja yang rusak.

Dengan hati-hati Cakra mengangkat papan itu dan meletakkannya di tempat yang kosong. Ia membuka ikatan kaki secara perlahan lalu di sambung dengan ikatan tangan.

Secara perlahan tubuh Diandra di bawa dalam dadanya, wajah Diandra nampak menyedihkan. Rambut gadis dalam dekapannya berantakan seperti habis di jambak. Ada luka gores juga di keningnya dan yang paling membuat Cakra terpaku adalah sudut bibir Diandra. Berdarah.

Selina dan Sintiya masuk ke dalam ruangan yang sama. Mereka terkejut bukan main melihat keadaan temannya.

"Astaga! Dian kenapa, Cak!?" shok Selina. Gadis itu berjalan mendekat dan berjongkok di sisi yang kosong.

"Ga tau, di bully kayanya." jawab Cakra.

"Ngapain diem aja! Bawa ke UKS tolol!" Sintiya berseruh. Ia gemas karena Cakra nampak acuh dengan keadaan Diandra. Ia hanya menyandarkan tubuh Diandra di dadanya tanpa menyentuh Diandra. Rambut Dindra saja tidak di benarkan sama sekali oleh Cakra.

Ragazza

Sintiya membantu Cakra membukakan pintu UKS. Tubuh Diandra di turunkan secara perlahan oleh Cakra. UKS sepi, tidak ada anak PMR yang berjaga atau dokter yang duduk di kursi depan.

Sintiya sebagai teman duduk di sisi baranka. Tangannya menganggam tangan Diandra dengan hati yang terus memohon agar temannya cepat sadar. Tidak ada kata atau kalimat yang di keluarkan antara Sintiya dan Cakra, keduanya sama-sama diam.

Cakra, laki-laki itu bersandar pada dinding. Matanya yang terpejam di tutup oleh lengannya.

Sementara Selina kini sedang mencari dokter. Dengan kepanikkan yang ketara Selina menuju ruang guru di mana biasanya dokter itu berdiam diri.

Pintu ruang guru di buka dengan kencang hingga beberapa guru yang ada terkejut. Kakinya dengan lebar melangkah mendekat pada dokter yang tengah menatapnya bingung.

"Dokter! Tolong Diandra. Diandra pingsan!" ucapnya kencang.

Dokter itu dengan sigap berlari tidak lupa membawa tetoskop di tangannya. Selina baru saja ingin keluar namun di tahan oleh guru bercepol di pojok sana.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang