Bagian 17

276 22 0
                                        

Diandra dengan santai memasuki kantin seorang diri. Ia ingin membeli minum untuk melarutkan sisa-sisa roti yang ada di tenggorokkannya. Setelah membayar, Diandra duduk sebentar di kursi yang kosong demi untuk minun terlebih dahulu. Lagian jam masuk masih lama.

Tiga menit lamanya Diandra diam di tempat dengan lamunan kosong. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali lagi ke dalam kelasnya takut kedua teman tercintanya mencari.

Baru saja ingin bangun Diandra terduduk kembali karena dorongan dari seorang gadis yang entah siapa dan entah dari mana. Baru saja ia ingin membuka mulut tapi tidak jadi sebab gadis itu membuatnya terdiam karena siraman segelas teh dingin ke wajahnya.

Diandra terdiam. Dengan wajah yang terkena es dan baju bagian depan yang basah membuat Diandra menjadi pusat perhatian karena dalaman Diandra yang tercetak jelas dan sialnya bagian depan.

Gadis yang baru saja menyiramnya tersenyum puas. Diandra tidak tau siapa dia.

"Ada masalah apa?" tanya Diandra halus. Tangannya menutup bagian atas yang terekpos jelas.

"Cewek genit kaya lo emang pantes di giniin." ucap gadis itu dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.

Diandra mulai terpancing emosi. Ia tidak suka di perlakukan seperti ini terlebih ia tidak tau menau dengan alasan di balik semua ini. Gadis itu datang-datang langsung menyiramnya dan tanpa mengucapkan apapun.

"Gue ada salah apa sama lo? Gue ga kenal lo dan lo tiba-tiba dateng langsung nyiram gue."

"Dasar ganjen!"

Alis Diandra bersatu. "Ganjen lo bilang?"

Gadis itu mengangguk. "Iya. Lo jalan sama Zain, kan, kemarin malam? Lo kira gue ga tau, hah?!"

Seketika Diandra tertawa. Ia menertawakan ucapan gadis di hadapannya. Beberapa siswa yang melihat bingung sekali gus penasaran. Setau mereka Diandra adalah pacarnya Cakra dan Zain itu adalah anak kelas dua belas IPA yang terkenal dengan keahliannya dalam bermain gitar.

"Gila lo?"

Diandra berhenti tertawa. Ia berjalan mendekat pada gadis di depannya. "Lo, salah paham kayanya, Mbak." jedanya. "Zain itu temen SMP gue dan kemar-"

"Ga usah banyak cingcong lo anjing! Lo udah ketangkep basah jalan sama cowo orang sekarang malah ngeles. Bangsat juga lo jadi cewe!"

Bibir Diandra masih tenang, ia belum ingin melakukan apapun. Ia harus tenang agar segalanya tetap berjalan dengan kedamaian bukan keributan. Bagi Diandra, ketenangan begitu berpengaruh untuk dirinya.

"Maaf, ya, Mbak. Seterah mau percaya atau ga. Intinya Zain itu memang teman SMP gue dan kemarin kita keluar bareng karena mau beli kado buat cewenya Zain."

"Gue ceweknya!"

Diandra mengangguk-angguk. "Berati kadonya buat lo." menjeda. "Yaudah, ya. Permisi. Gue mau ke kelas." kata Diandra sopan. Baru saja satu langkah kakinya melangkah sudah di hentikan dengan tarikkan rambut. Rambutnya di tarik oleh gadis tadi.

Diandra menghempaskan tangan gadis itu kasar kemudian berbalik badan menatap mata gadis itu tajam. Bisa-bisanya ia menganggu macan yang sedang tertidur.

"Bisa kalem, ga?" telunjuknya menunjuk gadis itu. "Kalo lo ga percaya, silahkan tanya Zainnya sendiri. Orangnya masih hidup. Ga usah banyak drama. Ga usah kekanakan." Diandra mengatur napasnya. "Lo pikir dengan lo begini lo keren? Hah?! Dateng-dateng nyiram gue, narik rambut dan ngatain gue ganjen? Ngaca, diri lo udah sempurna belum sampai bisa ngatai orang seenak jidat lo!"

Diandra mengambil botol air mineral miliknya, membuka tutupnya lalu bergerak seolah ingin menyiram gadis itu. "Kenapa? Takut basah?" botol di lempar kesembarang arah. "Gue bisa aja nyiram balik lo, tapi mohon maaf, gue ga suka ketibutan."

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang