Pukul dua belas siang Diandra baru saja membuka matanya. Semalaman ia terjaga demi merapihkan segalanya agar hari ini ia bisa bersantai menikmati rumah barunya. Tadi, sampai jam setengah enam pagi Diandra baru saja menutup matanya. Ia sudah memasukkan pakaian ke dalam lemari, menata buku dan beberpa alat yang ia butuhkan termaksud makanan dan minuman yang neneknya berikan semalam.
Dari tiga box besar yang ia bawa ada satu box yang isinya makanan dan minuman. Itu juga sudah ia masukan ke dalam rak dapur dan juga kulkas.
Sekarang ia hanya tinggal menyapu dan mengepel lantai agar bersih.
Diandra beranjak dari duduknya. Merapihkan tempat tidur lalu berjalan ke luar kamar untuk membuat segelas susu.
"Beruntung gue bisa ngelakuin segalanya." bangganya pada diri sendiri. Diandra menyalakan kompor yang sudah tersambung dengan aliran gas dan gas itu dirinya sendiri yang memasangnya.
Ia mengambil sebuah wajan lalu menuangkan sedikit minyak. Sambil menunggu wajan panas Diandra memilih mengambil sebutir telur yang ada di dalam kulkas.
Beberapa menit kemudian telur mata sapi siap. Diandra mengambil piring untuk wadah telur tersebut.
Gadis itu duduk di kursi makan, mengambil dua slide roti dan menggabungkan telur tadi dengan roti terssbut. Matanya merem melek menikmati roti isi telur itu. Ia harus berterima kasih pada neneknya karena membawakannya makanan sebanyak dan selengkap ini.
Di tengah makannya ponsel hitam miliknya bergetar, ada pesan masuk dari Cakra.
|Dian...
|Udah bangun?
|Udah. Ada apa Cakra?
|Share look. Gue mau kerumah lo.
|Mau apa?
|Mau menemui wanita cantik yang akan menjadi calon Ibu dari anak-anak gue nanti.
|Hilih bicit.
Locations
Ponsel kembali di taruh setelah mengirimi apa yang di inginkan oleh Cakra.
Cakra adalah laki-laki sabar yang sudah menemaninya lebih dari satu tahun lamanya. Cakra adalah satu-satunya orang yang tau tentang hidupnya. Mulai dari dirinya yang hidup tanpa ibu dan lain sebagainya.
Cakra itu sabar, konyol dan juga pemarah. Cakra selalu marah jika apa yang Diandra lakukan keterlaluan dengan contoh selalu begadang. Diandra memang anak yang memiliki penyakit insomania di mana ia selalu susah tidur jika malam tiba. Diandra selalu memanfaatkan insomanianya itu dengan cara belajar demi mendapatkan hasil yang ayahnya inginkan.
Roti isi telur yang tadi ia buat sudah habis. Gadis itu beranjak dari duduknya untuk menaruh piring dan gelas di dalam wastafel. Ia berjalan menuju kamar meninggalkan ponsel hitamnya di atas meja makan bersama dengan seteko air. Toh di rumah ini hanya dirinya sendiri, siapa memang yang ingin mencuri ponselnya.
Di dalam kamar Diandra memilih untuk masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri. Tidak lama ia keluar sudah dengan pakaian rapihnya. Siapa tau Cakra mengajaknya jalan.
Baru saja bokongnya ia dudukan di atas ranjang, suara bel berbunyi cukup nyaring dan spontan hal itu membuat Diandra berlari keluar kamar.
Gadis itu membuka pintu bercat cokelat yang merupakan pintu utama rumah ini. Senyumnya bersinar kala melihat seorang laki-laki dengan jaket kulitnya tengah bersandar di pintu pagar.
Diandra berjalan keluar, membuka pintu gerbang dengan kedua tangannya sendiri kemudian memeluk Cakra dengan begitu posesif.
Cakra yang terkejut hampir saja terjatuh tapi tidak jadi sebab ia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Novela JuvenilSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)