Bagian 24

303 31 3
                                        

Hari ini saatnya. Hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh para guru dan hari yang begitu berat untuk Diandra. Lomba cerdas cermat antar sekolah yang di selenggarakan di aula besar yang sudah di sewa oleh pihak panitia hari ini akan di mulai.

Diandra berdiri di depan cermin. Mengumpulkan rambutnya menjadi satu lalu di ikat agar tidak mengganggunya nanti. Ia menatap wajahnya yang sudah pas. Bedak yang tipis, liptin dan juga alis yang ia tebalkan sedikit.

Napasnya di tarik, di keluarkan secara perlahan. Rasanya sedikit gugup dan takut jika hasilnya akan mengecewakan. Mata gadis itu terpejam, tangannya mengepal satu sama lain. Ya, ia pasti bisa.

"Gue bisa. Gue bisa menang."

Matanya terbuka kembali. Menatap pantulan dirinya melalui cermin di depan. Napasnya kembali terbuang. Kini, tanpa sengaja sorot matanya mengarah pada kotak kecil berwarna hitam yang ada di atas meja rias bersebelahan dengan bedak miliknya.

Diandra mengambil kotak itu, tersenyum menatapnya lalu memasukkan ke dalam tas yang ada di atas ranjang. Tas di gendong, kakinya melangkah keluar untuk membuat sarapan sebelum berangkat.

Ragazza

Sekolah sudah ramai. Guru-guru yang bersangkutan pun sudah berdiri tidak jauh dari para siswa siswi. Di depan ruang guru, ada lebih dua puluh siswa yang sedang menunggu kehadiran Diandra. Mereka rela bangun pagi dan menyiapkan diri demi untuk menyamangati Diandra nanti.

Gevan datang dengan Putra, menyalimi guru-guru yang ada di tempat dengan diam tanpa suara. Kecuali putra yang bergegas menuju kumpulan anak-anak dari kelas sepuluh sampai sebelas.

"Bawa apa, Gevan? Buat Ibu, ya?" tanya bu Nadia basa-basi.

Gevan menggeleng. "Buat Diandra, Bu." jawaban Gevan membuat bu Nadia terkekeh. Ia sejak awal sudah tau jika Gevan memang membawa sesuatu di dalam paperbag itu dan memang bukan untuknya.

"Kirain buat Ibu."

Gevan menggeleng.

"Bu Nadia. Tolong telepon Diandranya. Pihak sana sudah menelepon saya dan mengatakan jika peserta harus sampai di sana pukul delapan karena ada pengarahan lebih dulu." bu Gisel datang dan langsung memberikan informasi penting itu.

Tangan bu Nadia membuka tasnya, mencari ponsel lalu dengan cepat menelepon Diandra. Panggilan pertama tidak tersambung. Panggilan ke dua sama hingga panggilan ketiga ponsel bu Nadia matikan ketika melihat kehadiran Dindra.

Diandra tersenyum melihat para teman-temannya yang akan menjadi suporternya nanti. Ia memperhatiman satu persatu jajaran orang yang menunggu dan berakhir senyum yang mengembang ternyata gurunya mendengarkan apa yang ia katakan.

Bu Gisel menghampiri Diandra, memberikan sebuah plastik kecil berisi satu air dan satu wafer. "Untuk makan di mobil. Di makan, ya, untuk isi tenaga."

Diandra mengangguk. "Kok di kasih sekarang, Bu?"

"Iya. Maaf ya, Ibu ga bisa ikut kamu, Ibu ada rapat sama seluruh guru sejarah di universitas indonesia. Sekali lagi Ibu minta maaf, ya, Dian."

"Gapapa, Bu. Dian minta doanya aja, ya. Doain supaya Dian bisa bawa piala buat sekolah dan juga buat Ibu."

"Iya, sayang. Ibu doain kamu selalu. Semoga Tuhan bantu kamu, ya. Tetap semangat walau kamu main tunggal, ya?"

Diandra mengangguk. Senyum tulusnya terukir begitu indah hingga menular pada bu Gisel.

"Kalo gitu, Ibu berangkat duluan, ya. Hati-hati di jalan."

"Ibu juga hati-hati, ya, Bu!" teriak Diandra. Bu Gisel sudah berjalan menuju mobil miliknya dan tidak lama mobil itu berjalan keluar sekolah.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang