Bagian 35

344 25 2
                                        

Teras kelas ramai. Ada Diandra dan Kinan yang tengah saling berbagi makanan yang mereka beli tadi. Di samping Kinan ada Putra yang terlihat sibuk dengan ponsel mode miring sedangkan di samping Diandra ada Gevan yang sedang berjongkok membaca sebuah komik.

"Mau, Gev?" tawar Diandra menyerahkan kantung gorengan.

Gevan menonggak lalu menggeleng. "Ga. Lagi maca komik."

"Kenapa? Kan bisa tangan satunya?"

"Nanti komiknya berminyak." jawab Gevan. Diandra tertawa. "Nih, gue suapin." sebuah tahu sudah berada di depan mulut Gevan dan itu berasal dari tangan Diandra.

Gevan memperhatikan tahu itu kemudian beralih pada Diandra.

"Ga papa. Kita kan temen." ujar Diandra yeng paham dengan tatapan mata itu. Gevan ikut tersenyum tak hayal ketika menyadari jika Diandra tersenyum tulus padanya.

"Beruntung lo, Gev. Udah di tolak mqsih bisa deket terus sekarnag malah di suapin. Coba gue, di lihat aja ga." sambar Putra yang iri melihat kedekatan antara Gevan dan juga Diandra.

Diandra yang sedang memegangi tahu itu tertawa. Ia melirik Gevan sibuk kembali dengan komik milik laki-laki itu. "Kalo bisa terus sama-sama dengan ikatan teman, kenapa harus pacaran. Ya, ga, Gev?"

Gevan menutup komiknya lalu berdiri, tersenyum lebar pada Diandra yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. "Iya. Makasih untuk penolakkannya, Ya, Ra. Gue dapet banyak ilmu dari penolakkan lo."

Diandra memeluk Gevan. "Gue tetep teman lo, Gev. Teman yang akan selalu ada untuk lo." pelukan di lepaskan.

"Thanks, Ra." Diandra mengangguk.

Uhuk.. Uhuk

"Aduh! Keselek duren!" Kinan berakting seperti orang batuk. Putra di sampingnya tertawa dengan tangan yang reflek mengetuk kening Kinan. "Iri? Bilang Boss!" ledek Putra.

Diandra dan Gevan tertawa melihat kedua sejoli di dekat mereka. Ada saja tingkah Putra jika di dekat Kinan. Meledek Kinan adalah makanan pokok seorang Putra.

"Kenapa sih? Apa yang di iri'in dari kita? Lo berdua bisa kok, berteman tanpa melibatkan perasaan kaya-"

"Hallah, bulshit!" potong Kinan cepat. "Ga ada istilahnya temanan cowo cewe ga ada rasa. Bohong itu. Pasti salah satu dari mereka punya!"

"Berati lo punya rasa dong sama gue, Nan?"

Kinan melirik Putra tajam. "Najis!"

Jawaban Kinan sontak membuat mereka tertawa. Istirahat Diandra kali ini lebih sedikit berarti. Sejak jam pertama ia hanya diam menyimak guru yang mengajar tanpa mau berkomunikasi dengan teman-temannya. Tanpa kecuali Gevan. Laki-laki itu juga sempat ia diamkan.

Hari ini Selina tidak masuk dengan alasan sakit. Dan Diandra pun tidak begitu memusingkan tentang Selina.

Ketika sedang asik bercanda dan tertawa, suara teriakan seseorang memanggil nama Diandra membuat keempat remaja itu menoleh. Diandra mengerjit saat tau orang yang berteriak itu adalah Cakra.

"Apa-"

"Lo apain Sintiya? Anjing!"

Diandra terkaget setengah mati kala Cakra datang dan langsung menarik kerah seragamnya hingga ia merasakan napasnya begitu sulit.

Gevan dengan sigapnya langsung melepaskan cengkraman tangan Cakra dan mendorong tubuh Cakra. Putra ikut maju membantu Gevan sedangkan Kinan membantu Diandra yang sedang terbatuk.

"Wah! Santai, Bro. Kalem." perlahan Putra menjauhkan Cakra dari Diandra.

Gevan sendiri diam memperhatikan Cakra dengan tatapan tidak ramah. Matanya menyorot tajam Cakra yang terlihat sangat emosi.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang