Bagian 20

327 28 3
                                        

Dengan seluruh tubuh yang basah Diandra memasuki rumah yang pintunya terbuka. Ia melirik langit yang gelap serta air yang menetes turun secara terus menerus hingga membuat bumi basah.

Kakinya melangkah masuk, berhenti di tengah-tengah mencari seseorang. Matanya menatap ayahnya dengan tenang yang sedang duduk di atas kursi dengan secangkir kopi di atas meja makan. Lirikkan Lio tajam sekali tapi itu tidak membuat Diandra takut.

"Sebentar, Ayah. Dian ganti baju dulu." kata Diandra tenang. Kakinya melangkah masuk menuju kamarnya dengan sedikit di seok. Satu kaki tidak bergerak dan satu kaki di paksa untuk menarik kaki yang lain.

Pintu kamar di kunci ketika dirinya sudah berada di dalam. Diandra menaruh tas di atas ranjang. Membuka sepatu sekolahnya lalu di letakkan di sembarang tempat. Kakinya berjalan menuju lemari, membuka lemari berniat untuk mengambil baju ganti tapi malah terdiam sebab bayangan tadi tiba-tiba terputar di kepalannya.

Diandra berjalan dengan mata yang kosong. Setelah turun dari mobil ayahnya gadis itu tidak tau harus kemana dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Namun setelah berjalan dengan keadaan mata yang tidak fokus akhirnya tersasar dan tidak tau harus bagaimana.

Diandra diam. Menatap sekitar tempat ini yang asing baginya. Gadis itu terduduk lemas di trotoar. Rambutnya di guyar kebelakang, matanya terpejam lama dan pada akhirnya di buka lagi.

Saat matanya baru saja di buka, Diandra terpaku pada keadaan di depannya. Jalan di depannya tengah berhenti karena lampu merah di depan sana. Tepat saat di depan matanya ada seseorang yang ia kenal bahkan sangat kenal. Itu, Cakra. Cakra dengan motor besarnya ada di hadapannya dengan jarak dua meter.

"Cak-"

Mulutnya di paksa untuk terkantup ketika sadar jika ada seseorang di belakang Cakra. Gadis berambut panjang dengan seragam sekolah yang sama persis dengan seragam yang ia gunakan. Mata Diandra memanas melihat dua insan di depannya. Gadis di belakang Cakra nampak nyaman memeluk Cakra dan Cakra yang di peluk juga terlihat santai. Diandra tidak tau siapa itu, tapi ia rasa ia tidak asing dengan postur tubuhnya. Meski hanya dari samping, Diandra tau siapa itu.

"Ga, ga mungkin."

Kepalanya di geleng-gelengkan kencang memaksa untuk menghilangkan pikiran negatif yang ada di kepalanya. Isi kepalanya sedang buruk.

Akhirnya gadis itu bangun, berjalan kembali menyusuri koridor sampai pada satu perbelokan tubuhnya terjatuh akibat terserempet sebuah motor.

"Kalo jangan lihat-lihat dong!" marah pengendara motor itu langsung meninggalkan Diandra yang masih terduduk di aspal.

Diandra menghela napas. Ini adalah akibat yang ia dapatkan jika berjalan dalam keadaan melamun. Ia berdiri, berusaha berjalan kembali tapi kembali terhenti sebab ia merasakan kakinya terganjal sesuatu.

Sepatunya di lepas, tapi seketika ia merasakan sakit yang luar bisa saat sepatunya di lepaskan. Matanya melotot melihat sebuah paku panjang dengan karat di mana-mana menancap di alas sepatunya hingga menembus kulit kakinya.

Desisan sakit keluar begitu saja dari bibirnya. Sial sekali ia hari ini.

"Paku sialan!" umpatnya marah, melempar paku panjang itu ke sudut jalan agar tidak memakan korban lagi. Diandra memandang sepatunya miris, bolong.

"Lah, berdarah." katanya lagi ketika matanya melihat ada darah tercetak di kaus kaki putih miliknya.

Helaan napas terdengar. Dengan terpaksa ia berjalan lagi meski sakit melanda kakinya.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang