Bagian 1

912 53 5
                                        

Diandra termenung di depan sebuah rumah berlantai satu dengan keadaan sepi. Tidak ada satpam yang berjaga dan tidak ada orang juga yang menyambut kedatangannya.

Matanya berkeliling menjelajahi rumah ini. Rumah yang cukup untuk di tempati dengan kapasitas 4-5 orang. Garasinya pun luas dan ada sebuah lahan kecil yang di isi oleh pot-pot bunga.

Diandra menoleh menatap sang ayah yang sedang diam dengan tangan yang di letakkan di balik pungung. Pria itu diam karena sebelumnya ia sudah mengizinkan Diandra untuk melihat penampilan rumah ini lebih dulu.

"Ini rumah siapa, Yah?"

Lio, memandang anaknya sekilas lalu memberikan kunci yang ia ambil dari saku jas bagian dalam. Kunci itu di serahkan pada Diandra namun Diandra hanya diam.

"Ambil!" kerasnya.

Spontan Diandra mengambil kunci itu dengan rasa kaget.

"Rumah untuk kamu."

Alisnya bersatu. Rumah ini untuknya?

"Mulai besok kamu tinggal di sini sendiri. Sudah kelas dua belas dan sudah seharusnya kamu belajar mandiri."

"Tapi Ayah, Dian ga mungkin bisa hidup sendiri."

Dengan sorot tajam yang menjadi andalan Lio sejak dulu Dindra terdiam. Darahnya langsung berdesir ketika melihat tatapan mengerikan yang ayahnya keluarkan.

"Saya akan sering mengunjungi kamu seperti kemarin. Hanya saja kali ini tanpa ada Nenek dan Kakekmu."

"Saya tidak menyiapkan pembantu, tukang kebun atau satpam. Saya ingin kamu tinggal sendiri dan menjamin segala yang kamu butuhkan sendiri. Uang bulanan akan saya transfer ke rekening yang kemarin saya berikan pada kamu." Lio berhenti. Ia melihat ekspresi anaknya yang terdiam. Seakan berat untuk mengiyakan ucapannya tadi.

"Kenapa diam? Tidak suka?"

"Hah? Oh, enggak, Yah. Dian suka." jawab Diandra terputus-putus.

Lio hanya diam. Kakinya berjalan maju menghampiri pintu yang tertutup itu. Ia menoleh kebelakang pada saat tidak menemukan anaknya di samping. Diandra dengan segera berlari menghampiri Lio dan membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ada di tangannya.

Pintu terbuka. Terpampang jelas tampilan rumah yang akan ia tempati mulai besok. Di dalam sudah lengkap. Ada sepasang sofa berwarna hitam serta TV LED dengan ukuran 43 inchi. Ada sepaket meja makan dengan empat kursi dan segala elektronik yang akan berguna di dapur nantinya.

Diandra mencoba berjalan lebih dalam lagi untuk tau kondisi rumah ini. Ia membuka salah satu pintu dan ternyata itu kamar. Kamar dengan satu ranjang berukuran king size, dua nakas di sisi kanan dan kiri. Ada dua lemari di sisi lainnya dan ada sepaket meja rias serta meja belajar yang di letakan di depan ranjang tidak lupa juga ada AC yang amat sangat di butuhkan.

Diandra masuk, rupanya ini  kamar utama karena kamar mandi ada di dalam. Diandra keluar, ia membuka pintu satu lagi dan sama, ini adalah kamar hanya saja ukurannya lebih kecil. Hanya ada satu ranjang, satu nakas dan satu lemari serta AC sebagai penyejuk ruangan.

"Cocok?"

Diandra menatap ayahnya yang sedang beredekap dada dengan bokong yang menempel pada sofa. Diandra mengangguk.

"Besok sore motor akan datang. Kamu ke sekolah sudah tidak lagi di antar oleh supir Nenek. Sudah bisa bawa motor, kan?"

Diandra lagi-lagi hanya menjawab dengan anggukan.

"Kalau sudah, ayo pulang. Saya ada acara dengan Mami dan adikmu."

"Dian boleh ikut, Yah?"

Lio berhentikan langkahnya, berbalik badan memperhatikan Diandra yang terdiam.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang