"Semua akan kembali normal bahkan jauh lebih baik, Dian."
Diandra menghela. Ia tidak bisa berkata apapun. Tadi. Ayahnya menjelaskan mengapa ia tidak mau memberikan uang sepeserpun padanya. Alasannya hanya satu, saat Diandra baru lahir, seorang Lio yang menemani Aruna di meja operasi bersumpah dalam hati jika ia tidak akan mengeluarkan sepeserpun uang untuk Diandra.
Abila sebagai kakak dari Aruna merasa jika Diandra adalah tanggung jawabnya itu meminta Tasya dan Gibran--kakek dan nenek Diandra untuk mengurus Diandra secara tenaga. Masalah uang Abila yang mengatur.
"Kakek dan Nenek kamu itu sayang sama kamu. Sayang mereka tulus. Asal kamu tau, Gibran, Kakek kamu pernah bilang bahkan dia mampu membiayai kamu sampai kuliah dengan uangnya sendiri. Tapi, Tante menolak, Tante ga bisa langsung percaya sama Kakek Nenek kamu yang status jaman dulunya adalah seorang psikopat,"
Diandra melotot. Telinganya tidak salah dengar, kan?
"Jadi, ucapan Tante dulu benar?" Abila mengangguk.
"Semua omongan Tante itu jujur. Tante bukan tipikal orang suka bohong. Tapi ingat, sifat Kakek dan Nenek kamu yang seperti itu hanya ada di beberapa tahun silam. Mereka sudah tidak lagi melakukan hal bodoh itu." menjeda. "Satu yang harus kamu tanam dalam hati, bahwasanya Ayah kamu itu sayang sama kamu. Dia cuma buruk dalam menyampaikan rasa sayangnya. Dan lagi, karena sumpahnya dulu, dia terpaksa melakukan ini. Dian paham?"
Diandra hanya diam dengan pandangan mata ada di kaca riasnya.
"Sekarang pilihan ada di tangan kamu. Kamu mau berbakti atau tidak, itu terserah kamu. Tante bukan mau menjerumuskan kamu ke dalam jurang dosa. Tapi sebagai orang tua, Tante menyarankan untuk kamu mengambil jalan yang sesuai dengan keinginan hati. Jika hati kamu ga bisa menerima dan memaafkan Lio setelah tau kejadian ini, gapapa. Manusiawi. Karena rasa sakit seseorang, hanya dirinya sendiri yang bisa merasakan dan tentu obatnya pun ada di diri kamu sendiri. Sebaliknya, jika kamu memaafkan, otomatis semua akan kembali seperti sebelumnya. Mungkin Lio akan sedikit halus sama kamu."
"Apa Ayah memang orang yang kasar, Tan?"
"Lio itu angkuh. Sama Tante Lia pun sering ribut. Lio ga mau kalah. Ayah kamu adalah siswa berprestasi setelah Tante dan Tante Lia. Nilai Ayah kamu tidak pernah jauh dari angka delapan. Mungkin, itu yang membuat dia terobsesi untuk menjadikanmu seperti dia di masa dulu. Karena setau Tante, Lio memiliki prinsip yang kuno. 'Jika nilai kamu rendah di masa sekolah, makan kamu akan selalu di pandang rendah di manapun kamu berada' prinsip itu mungkin masih ada di diri Lio."
"Jadi, Dian harus apa, Tan?"
"Ikuti hati kamu." jawab Abila. Wanita itu naik ke atas ranjang besar milik Diandra lalu merebahkan tubuhnya. Tangannya menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya menyuruh Diandra untuk berbaring di sebelahnya. Diandra menurut, gadis itu ikut merebahkan diri di samping Abila. Pandangannya ada di langit-langit kamar.
"Tante nginap?"
"Enggak. Tapi tenang aja, Tante temanin kamu sampai tidur."
Diandra menghela. Menejamkan matanya sebentar lalu kembali di buka.
"Kalo gitu, apa Dian boleh minta sama Tante buat bacain cerita?"
Abila menoleh kepada Diandra. Beberapa detik kemudian langsung kembali menatap langit kamar lagi. "Boleh. Mau cerita tentang apa?"
"Kalo boleh, Dian mau Tante ceritain tentang kehidupan Tante secara singkat."
Abila tersenyum. "Tentu boleh."
"Apa yang Dian ingat tentang masa lalu Dian?" lanjut Abila.
"Tidak ada."
"Kalo tentang Tante?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)