Bagian 9

313 29 0
                                        

Pulang sekolah Diandra di ajak oleh Cakra untuk singgah di sebuah warung bubur pinggir jalan atas keinginan Cakra sendiri. Diandra sebagai seorang pacar hanya bisa mengikuti saja.

Mereka sudah duduk dan tinggal menunggu pesanan mereka siap. Cakra sibuk dengan ponselnya sedangkan Diandra sibuk memikirkna bagaimana ia bertahan dengan lima ratus ribu.

Pesanan mereka sampai. Diandra mengucapkan terima kasih pada bapak penjual kemudian mulai memakan buburnya tanpa menambahkan sambal dan tentu saja tanpa di aduk.

Baru satu siap Diandra menghentikan makannya ketika melihat Cakra mengaduk bubur di tambah dengan irisan daun sledri yang begitu banyak.

"Pake sledri?"

Cakra mengangkat wajah, "Mau coba yang beda." jawab Cakra. Diandra mengangguk.

Mereka makan dengan tenang. Masing-masing membiarkan keheningan agar makan mereka terasa sampai perut. Diandra menyudahi makannya lebih dahulu dengan bubur di mangkuk yang masih sisa setengah dari porsi awal. Ia meminum es teh miliknya kemudian memperhatikan Cakra yang tengah makan.

Senyumnya terbit tanpa di perintah. Melihat wajah tenang Cakra seakan melihat pelangi di sore hari.

"Gue mau tanya boleh?"

Cakra mengangguk tanpa menatap Diandra.

"Sejak kapan lo gabung sama anak Dark Lion?"

Cakra tidak langsung menjawab. Laki-laki itu menghabiskan buburnya lebih dahulu kemudian minum dan baru lah menatap Diandra.

"Baru."

"Bukannya lo paling anti sama geng itu?"

"Salah kalo gue mau punya teman?"

Gelengan polos Diandra berikan. "Ga salah, sih. Tapi rada aneh aja gue lihat lo sama anak-anak nakal kaya Dark Lion."

"Mereka emang nakal, tapi ga sejelek yang ada di pikiran orang-orang."

"Lo ... lo ga di ancam sama mereka, kan? Jangan bilang lo di manfaatin, Cak?"

Melihat respon Diandra yang berlebihan membuat Cakra terkekeh. Gadis di depannya memang lucu. "Engga, Dian. Gue ga di manfaatin."

"Jadi, lo beneran berteman karena mau merubah pergaulan, bukan karena di ancam?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan kekhawatirannya.

Cakra mengangguk, "Iya. Gue cuma mau merubah pola hidup dan pergaulan gue aja. Gue ga mau di bilang ga punya teman cuma karena gue lebih suka sendiri dan ngabisin waktu gue buat lo dan belajar." menjeda. "So, jangan larang gue, ya?"

Mau bagaimana? Diandra hanya bisa menyetujui tanpa bisa melarang. Diandra sama sekali tidak punya hak untuk melakukan itu. Diandra hanya berstatus pacar, bukan istri yang berhak mengatur segalanya.

Kepalanya mengangguk sebagai jawaban. Matanya menatap mangkuk bubur dan seketika ia sadar sesuatu.

Ragazza

Setelah tadi singgah di warung bubur pinggir jalan kini Diandra sudah ada di depan pagar rumah nenek dan kakeknya. Diandra melirik Cakra yang masih setia di atas motor besarnya.

"Makasih udah antar gue."

"Iya."

"Yaudah. Sampai rumah kabarin, ya,"

"Mau gue jemput?"

Menggeleng. "Ga usah. Paling nanti di antar sama supirnya Nenek."

"Pulang sana. Mamah lo pasti udah nungguin di rumah." sambung Diandra.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang