Bagian 23

294 27 0
                                        

Kelas sudah ramai di isi oleh siswa siswi yang biasa datang pagi. Diandra ada di antara siswa siswi itu. Duduk di kursinya di temani dengan tas milik Gevan di atas meja. Diandra tengah sibuk berkutat dengan satu lebar soal yang di perkirakan akan muncul besok. Ini lembar yang baru saja di berikan oleh guru sejarahnya.

Mungkin, bagi sebagian orang menganggap anak IPS adalah anak yang bodoh. Anak yang lemah dalam berhitung dan lambat dalam mempelajari setiap bahan-bahan kimia.

Tidak.

Sebanarnya baik IPA maupun IPS memiliki tingkat kesulitan yang sama. Hanya saja pandangan setiap orang berbeda-beda sehingga kerap anak IPA menjelekkan anak IPS atau memandang rendah jurusan tersebut.

Lembar kisi-kisi itu sudah hampir ia selesaikan. Diandra menjawab dengan santai tapi tetap fokus. Ia melirik ponselnya yang ada di samping, berharap ada pesan dari Cakra walau hanya sekedar 'P' atau hemoticon.

Secuek-cueknya, setidak perdulinya Diandra. Hatinya tetap masih terukir nama Cakra. Fikirannya masih berputar pada kejadian janggal yang beberapa kali terjadi. Gadis di jok belakang motor Cakra dan Satria yang jatuh dari tangga.

Baik, lupakan sejenak tentang kisah cintanya dan marih fokus untuk lomba yang sudah di depan mata.

Gevan datang, meletakan susu kotak rasa stroberi dan juga bubur ayam. "Titipan Cakra." katanya di lanjut duduk. Membuka ponsel dan mulai hanyut dalam dunia maya.

Diandra melipat kertas yang sudah ia kerjakan menjadi tiga bagian. Menaruh di dalam tas kemudian melirik dua makanan yang di berikan Cakra melalui Gevan tadi.

Matanya menatap lekat susu kotak rasa stroberi di depannya dengan lama. Beberapa kali ia mengedipkan mata hanya untuk memastikan warna dari kotak tersebut. Tidak berubah, tetap warna pink pikat. Stroberi.

Napas gadis itu terelah panjang dan kuat sampai Gevan yang duduk di sampingnya menoleh. Diandra mengabaikan susu kotak itu. Ia memilih menarik sekotak bubur ayam yang di lengkapi dengan kerupuk yang di bungkus plastik. Di buka kotak bubur itu, lagi-lagi Diandra menatap lekat bubur di depan matanya. Mengedipkan mata berkali-kali dan sekali lagi Diandra menghela napas.

Ia menutup kembali kotak bubur itu. Memasukkan kedalam plastik lagi tidak lupa kerupuk serta susu kotak tadi. Plastik itu di biarkan begitu saja. Diandra menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menonggak menatap langit-langit kelasnya yang berwarna putih polos.

Suara bising dari luar kelas tidak membuat Diandra mengubah posisinya. Ia tidak tertarik dengan ke datangan teman-teman sekelasnya yang mulai menempati kursi mereka masing-masing. Sampai pada saat telinganya menangkap suara yang tidak asing di telinga, ya, suara milik kedua temannya.

Tubuhnya di tegakkan, menatap kedua temannya yang membawa sebuah makanan yang mungkin mereka beli di kantin sebelum masuk kelas. Mata Diandra memincing melihat jalan Sintiya yang berbeda.

Selina dan Sintiya duduk di depannya, menghadap pada dirinya dengan senyum kecuali Sintiya yang memang seperti itu karakternya. Diandra membalas senyuman itu, ia mengambil plastik tadi dan memberikan pada Sintiya.

Sintiya menerimanya. "Apaan?" bingungnya.

Sudut bibir Diandra di tarik, memberikan senyum yakin jika isi dari plastik itu bukanlah boom atau zat berbahaya.

"Susu rasa stroberi, lo suka, kan?" Sintiya mengangguk.

Mata Diandra di putar pada Selina. "Ada bubur tuh, bawang gorengnya banyak...banget. lo kan, paling suka makan bubur pake bawang goreng."

Selina tersenyum senang. Ia mengabaikan tengtengan yang tadi mereka bawa lalu langsung menyambar plastik di tangan Sintiya dan dengan cepat mengambil kota bubur itu. Susu kotaknya di berikan pada Sintiya.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang