Bagian 7

325 28 3
                                        

"Saya lapar, bisa tolong buatkan makanan?"

Baru saja keluar kamar, ayahnya sudah membuat adrenalinya tergerak lagi.

"Em, maaf Ayah. Dian belum sempat belanja, jadi belum ada bahan masakkan di dapur."

Lio membuang napas kasar. Ia mengubah posisi menjadi menatap Diandra dengan tajam. Tatapan yang selalu di beri untuknya tanpa pengecualian.

"Ada apa aja di dapur?"

"Cuma ada mie instans sama telur, Ayah. Kemarin Nenek bawain banyak mie instans buat Dian."

Lio manggut-manggut. "Yaudah, buatkan saya mie soto pakai telur. Jangan terlalu lembak. Jika lembek, tau sendiri akibatnya." ucap ayahnya.

Dengan takut Diandra mengangguk dan dengan segera berjalan menuju dapur. Di dapur ia dengan cekatan dan penuh hati-hati memasak air. Lalu mengambil satu bungkus mie instans di dalam rak penyimpanan dan tidak lupa telur di dalam kulkas.

Diandra mengambil mangkuk yang ada di tempatnya tidak lupa dengan sendok beserta garpu. Ia kembali pada sisi kompor, memasukkan telur ke dalam panci kacil dengan api kecil agar air telur tidak meluap.

Sambil menunggu Diandra membuka bumbu mie tersebut kemudian di letakkan di dalam mangkuk yang tadi dirinya ambil. Melihat telur sudah hampir matang Diandra memasukkan mie instans.

Sebentar. Makan mie jika tidak dengan saus tidak akan enak.

"Kayanya Nenek bawain gue saus deh, gue taro mana, ya?" gummanya sendiri.

Tubuhnya diam namun otaknya berfikir. Di mana ia melatakkan botol saus itu? Kakinya melangkah menuju kulkas, membukanya kemudian mencari yang ia butuhkan, ternyata tidak ada di dalam kulkas.

Diandra tidak menyerah, ia ingin membuat ayahnya makan dengan nikmat tanpa merasa ada yang kurang. Ia harus menemukan saus itu. Kakinya menuju lemari penyimpanan yang satu lagi, dan ya, ia menemukannya.

Dengan senyum ia membawa sebotol saus cabai yang ia temukan tadi. Matanya melotot melihat mie yang ada di dalam panci. Sial.

Dengan terburu dirinya mengangkat mie. Bibir bawahnya di gigi dengan kencang, matanya hampir berkaca-kaca. Ya Tuhan, semoga tidak lembek. Batinya berbicara.

Sebelum menaruh mie ini di atas meja makan Diandra menarik napas. Lalu silivanya di telan berulang kali. Kakinya membawa mangku dengan mie dan telur sebagai isinya itu ke atas meja. Ia tersenyum menyemangati dirinya sendiri.

"Ayah, mienya sudah matang." katanya.

Lio di sana langsung bangun dan berjalan mendekat padanya. Seiring langkah Lio jantung Diandra berdegub kencang. Ada ketakutan di hatinya.

Lio sudah duduk, menarik mangkuk mie lalu mengambil sebotol saus yang tadi ia ambil.

"Buatkan saya teh manis." suruh Lio. Diandra mengangguk lantas berjalan kembali menuju dapur.

Di meja makan Lio mulai mengaduk mienya. Matanya menatap mie di hadapannya dengan tidak yakin. Penampilannya saja sudah membuatnya marah.

Mie sudah masuk ke dalam mulut. Lio mengunyah dengan perlahan lalu sedetik kemudian sendok di tangannya di letakkan dengan kasar sampai membuat kuah mie berantakan.

Lio memegang keningnya.

"Diandra!"

"Iya Ayah, sebentar."

"Diandra!"

Dengan sedikit lari Diandra menghampiri ayahnya. Di letakkan gelas berisi es teh seperti apa yang di minta oleh Lio di atas meja. Diandra menatap ayahnya. "Ada apa, Ayah?"

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang