Laki-laki dengan motor besarnya baru saja pulang sekolah, tidak, pulang main. Ia terheran kala melihat mobil yang sangat tidak asing untuk matanya. Iya, itu mobil milik Omnya, Dion.
Untuk apa Dion berada di rumah yang di singgahi Diandra? Dan sejak kapan keduanya dekat? Perlahan, motor yang masih ia duduki di bawa mundur tanpa di nyalakan. Arga membawa motornya di samping pohon besar tidak jauh dari rumah Diandra. Laki-laki itu mendekat pada Dion tapi tidak menegur, Arga malah bersembunyi di balik mobil.
Diandra keluar dengan celana panjang dan baju panjang, menatap Dion dengan pandangan tidak suka lalu Arga melihat gerak-gerak Diandra terlihat berbeda.
"Mau apa?" Diandra bertanya.
Dari balik mobil Arga dapat melihat jika tangan Dion ingin menyentuh kepala Diandra namun Diandra dengan cepat mengelak.
"Saya boleh masuk? Sudah lama sekali saya tidak menemuimu."
"Hah? Menemui?" beo Arga. Rasanya janggal mendengar kata itu keluar dari mulut Dion yang berstatus om dari keduanya. Walau dalam silsilah keluarga, Dion bukanlah siapa-siapa Diandra karena Fiona adalah ibu tiri, bukan kandung.
"Pergi!" teriak Diandra marah.
Alis Arga bersatu melihat tingkah Diandra yang takut dan om Dion yang menunjukkan sikap seperti seorang kekasih. Ini tidak logis.
"Mau sebanyak dan sekeras apapun kamu menolak saya, saya tetap akan berusaha mendapatkan kamu. Ingat! Semua yang ada di diri kamu itu milik saya, manis."
"Ah, sialan!" Diandra kembali berteriak marah ketika pipinya di usap oleh Dion.
"Besok saya kembali, manis. Tunggu saya."
Arga bergegas melarikan diri, bersembunyi di balik pohon saat melihat Dion ingin kembali ke dalam mobil.
Mobil pergi, Arga diam di balik pohon berusaha mengerti situasi barusan. Jika hanya om dan keponakan, tidak mungkin sampai menyentuh fisik bukan?
Ragazza
Diandra duduk di sofa ruang TV, mengusap pipinya kasar. Ia harus menghilangkan jejak tangan milik Dion yang tadi menyentuh pipinya.
"Sialan!" seruhnya sambil menangis. Rasanya sakit, sakit sekali. Ia tidak bisa melakukan apapun ketika Dion datang. Tidak bisa menolak ketika Dion mengatakan jika dirinya adalah milik laki-laki tua itu.
Napasnya terasa sulit. Sesak di hati yang tidak bisa di keluarkan membuat irama tangisnya seperti di patah-patah. Mengapa cobaan hidupnya banyak sekali? Ia harus apa? Mulutnya sulit untuk bercerita tentang ini.
Diandra terkejut mendengar suara pintu di buka. Ia dengan cepat membersihkan sisa air mata dari pipinya dan bertingkah biasa saja. Dadanya dua kali di tepuk agar tidak sesek'kan.
"Mau kemana lo?"
Diandra menoleh, tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Sakit?"
Diandra kembali lagi menggeleng.
"Terus kenapa pake baju panjang-panjang? Lo juga diem aja. Lagi nyusun rencana buat bunuh diri ya, lo?"
"Habis beli gula." jawab Diandra serak. Suaranya tidak bisa di kendalikan. Ia lantas beranjak dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Arga yang sedang berdiri di dapur dengan pandangan tanya.
Ragazza
Pagi hari tiba. Diandra bangun lebih dulu untuk membuatkan sarapan untuk Arga baru ia akan pergi. Kakinya melangkah keluar dapur setelah sepiring nasi goreng lengkap dengan telur selesai ia buat. Tangannya membuka pintu utama dan menutupnya kembali. Gerak kakinya tertahan, ia menatap kebawah karena merasakan sesuatu tertendang. "Apaan, nih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)